Tak Disangka, Badai Petir Ternyata Hasilkan Radiasi Sinar Gamma
Kamis, 03 Oktober 2024 - 10:00 WIB
loading...
A
A
A
Selama tiga dekade terakhir, para ilmuwan telah mengetahui tentang kilatan singkat namun intens dari radiasi gamma, yang dikenal sebagai kilatan sinar gamma terestrial (terrestrial gamma-ray flashes atau TGF). Mereka juga memahami bahwa badai petir menghasilkan sinar gamma dengan tingkat yang lebih rendah dan redup. Mekanisme yang mendorong kilatan ini telah lama dikaitkan dengan fenomena relativistic runaway electron avalanche (RREA).
Fenomena ini terjadi ketika satu elektron energi tinggi dipercepat oleh medan listrik badai petir, bertabrakan dengan molekul udara untuk menciptakan lebih banyak elektron dan sinar gamma dalam efek berantai.
Selama badai, arus udara membawa tetesan air, hujan es, dan es ke awan, menciptakan muatan listrik. Seperti menggosok balon pada sweater, campuran partikel ini membangun energi listrik. Hasilnya berupa medan listrik besar yang mampu mempercepat partikel — seperti elektron — dengan kecepatan luar biasa. Ketika elektron berenergi tinggi ini bertabrakan dengan molekul udara, mereka melepaskan sinar gamma dan, dalam beberapa kasus, bahkan antimateri.
Namun, hingga saat ini, sinar gamma yang berasal dari badai petir tampaknya sporadis, mengingat keterbatasan teknologi satelit sebelumnya. Satelit NASA — yang dirancang untuk memantau peristiwa kosmik, seperti ledakan sinar gamma kosmik dari bintang yang meledak — harus berada di tempat dan waktu yang tepat untuk mendeteksi radiasi gamma dari Bumi. Misi pesawat yang mencoba terbang dekat dengan badai petir sering kali gagal karena bahaya mendekati badai aktif membatasi cakupannya.
Baca Juga: 4 Fakta Menarik Bom Gamma AS, Lebih Dahsyat dari Bom Atom
Tim penelitian yang dipimpin oleh Nikolai Østgaard, profesor fisika ruang angkasa di Universitas Bergen di Norwegia, menggunakan NASA ER-2 High-Altitude Airborne Science Aircraft — pesawat mata-mata U2 yang dimodifikasi. Terbang pada ketinggian 12,4 mil di atas Bumi, yang tiga mil lebih tinggi dari sebagian besar badai petir, pesawat tersebut memberikan tim sudut pandang yang ideal.
Fenomena ini terjadi ketika satu elektron energi tinggi dipercepat oleh medan listrik badai petir, bertabrakan dengan molekul udara untuk menciptakan lebih banyak elektron dan sinar gamma dalam efek berantai.
Selama badai, arus udara membawa tetesan air, hujan es, dan es ke awan, menciptakan muatan listrik. Seperti menggosok balon pada sweater, campuran partikel ini membangun energi listrik. Hasilnya berupa medan listrik besar yang mampu mempercepat partikel — seperti elektron — dengan kecepatan luar biasa. Ketika elektron berenergi tinggi ini bertabrakan dengan molekul udara, mereka melepaskan sinar gamma dan, dalam beberapa kasus, bahkan antimateri.
Namun, hingga saat ini, sinar gamma yang berasal dari badai petir tampaknya sporadis, mengingat keterbatasan teknologi satelit sebelumnya. Satelit NASA — yang dirancang untuk memantau peristiwa kosmik, seperti ledakan sinar gamma kosmik dari bintang yang meledak — harus berada di tempat dan waktu yang tepat untuk mendeteksi radiasi gamma dari Bumi. Misi pesawat yang mencoba terbang dekat dengan badai petir sering kali gagal karena bahaya mendekati badai aktif membatasi cakupannya.
Baca Juga: 4 Fakta Menarik Bom Gamma AS, Lebih Dahsyat dari Bom Atom
Tim penelitian yang dipimpin oleh Nikolai Østgaard, profesor fisika ruang angkasa di Universitas Bergen di Norwegia, menggunakan NASA ER-2 High-Altitude Airborne Science Aircraft — pesawat mata-mata U2 yang dimodifikasi. Terbang pada ketinggian 12,4 mil di atas Bumi, yang tiga mil lebih tinggi dari sebagian besar badai petir, pesawat tersebut memberikan tim sudut pandang yang ideal.
Lihat Juga :