Temuan Terbaru, Planet Merkurius Ternyata Penuh Berlian
Kamis, 18 Juli 2024 - 21:25 WIB
loading...
A
A
A
Selama bertahun-tahun, para peneliti berpikir suhu dan tekanan mantel cukup tinggi untuk karbon membentuk grafit, yang lebih ringan daripada mantel dan mengapung ke permukaan. Namun, sebuah studi pada 2019 menunjukkan mantel Merkurius mungkin berada 50 kilometer lebih dalam dari yang diperkirakan sebelumnya. Hal ini secara signifikan meningkatkan tekanan dan suhu di batas antara inti dan mantel, menciptakan kondisi karbon dapat mengkristal menjadi berlian.
Baca Juga: Terungkap, Berlian Misterius Paling Kuat di Dunia Ternyata Datang dari Luar Angkasa
Untuk menyelidiki kemungkinan ini, tim peneliti Belgia dan China, termasuk Lin, mencampur cairan senyawa kimia yang mencakup besi, silika, dan karbon. Campuran ini memiliki komposisi mirip dengan jenis meteorit tertentu, dianggap meniru samudra magma Merkurius.
Para peneliti juga menambahkan berbagai jumlah besi sulfida. Mereka menduga samudra magma mengandung banyak sulfur, seperti halnya permukaan Merkurius saat ini yang juga kaya akan sulfur.
Menggunakan alat penekan anvil ganda, tim tersebut memberi tekanan pada campuran kimia hingga 7 gigapascal — kira-kira 70.000 kali tekanan atmosfer Bumi di permukaan laut — dan suhu hingga 1.970 derajat Celsiu). Kondisi ekstrem ini menyimulasikan kondisi yang dalam di dalam Merkurius.
Selain itu, para peneliti menggunakan model komputer untuk mendapatkan pengukuran yang lebih tepat mengenai tekanan dan suhu di batas inti-mantel Merkurius, serta menyimulasikan kondisi fisik di mana grafit atau berlian akan stabil. Menurut Lin, model komputer semacam itu menginformasikan struktur fundamental interior planet.
Eksperimen menunjukkan bahwa mineral seperti olivin kemungkinan terbentuk di mantel — sebuah temuan yang konsisten dengan studi sebelumnya. Namun, tim juga menemukan bahwa menambahkan sulfur ke dalam campuran kimia menyebabkan campuran tersebut hanya mengeras pada suhu yang jauh lebih tinggi.
Kondisi semacam itu lebih mendukung pembentukan berlian. Memang, simulasi komputer tim menunjukkan kondisi yang telah direvisi sehingga berlian mungkin mengkristal saat inti dalam Merkurius mengeras.
Baca Juga: Terungkap, Berlian Misterius Paling Kuat di Dunia Ternyata Datang dari Luar Angkasa
Untuk menyelidiki kemungkinan ini, tim peneliti Belgia dan China, termasuk Lin, mencampur cairan senyawa kimia yang mencakup besi, silika, dan karbon. Campuran ini memiliki komposisi mirip dengan jenis meteorit tertentu, dianggap meniru samudra magma Merkurius.
Para peneliti juga menambahkan berbagai jumlah besi sulfida. Mereka menduga samudra magma mengandung banyak sulfur, seperti halnya permukaan Merkurius saat ini yang juga kaya akan sulfur.
Menggunakan alat penekan anvil ganda, tim tersebut memberi tekanan pada campuran kimia hingga 7 gigapascal — kira-kira 70.000 kali tekanan atmosfer Bumi di permukaan laut — dan suhu hingga 1.970 derajat Celsiu). Kondisi ekstrem ini menyimulasikan kondisi yang dalam di dalam Merkurius.
Selain itu, para peneliti menggunakan model komputer untuk mendapatkan pengukuran yang lebih tepat mengenai tekanan dan suhu di batas inti-mantel Merkurius, serta menyimulasikan kondisi fisik di mana grafit atau berlian akan stabil. Menurut Lin, model komputer semacam itu menginformasikan struktur fundamental interior planet.
Eksperimen menunjukkan bahwa mineral seperti olivin kemungkinan terbentuk di mantel — sebuah temuan yang konsisten dengan studi sebelumnya. Namun, tim juga menemukan bahwa menambahkan sulfur ke dalam campuran kimia menyebabkan campuran tersebut hanya mengeras pada suhu yang jauh lebih tinggi.
Kondisi semacam itu lebih mendukung pembentukan berlian. Memang, simulasi komputer tim menunjukkan kondisi yang telah direvisi sehingga berlian mungkin mengkristal saat inti dalam Merkurius mengeras.
Lihat Juga :