Kemunculan Harimau Jawa di Mata Orang Jatim, Jateng, dan Sunda
Jum'at, 29 Maret 2024 - 17:09 WIB
loading...
A
A
A
Robert Wessing dalam tulisannya menjelaskan pada awal abad ke-19, masih banyak harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) yang berkeliaran. Terkadang tempat hidup harimau tumpang-tindih dengan tempat hidup manusia di tepi hutan. Pada masyarakat Jawa kala itu, ada kepercayaan bahwa harimau adalah jelmaan roh leluhur yang menjaga dan memantau perilaku penduduk desa.
Orang Keraton (orang kota Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta) memandang harimau sebagai simbol sifat liar, tak bisa diatur, dan bertentangan dengan budaya adiluhung.
Terlepas dari keragaman itu, masyarakat Jawa pada dasarnya menaruh hormat pada harimau.
Mereka memanggil harimau dengan panggilan takzim, yakni 'mbah', 'nenek', 'kiai', 'kiaine' atau 'abah gede'.
Sementara orang Jawa Timur punya kesenian yang sangat identik denga Harimau Jawa yakni Reog, kesenian budaya yang masih sangat dekat dengan kekuatan mistis dan kebatinan.
Kesenian yang terkenal karena topeng harimau berbulu meraknya ini berasal dari Jawa Timur dan Ponorogo adalah kota asal Reog, sehingga kesenian ini disebut sebagai Reog Ponorogo.
Orang Keraton (orang kota Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta) memandang harimau sebagai simbol sifat liar, tak bisa diatur, dan bertentangan dengan budaya adiluhung.
Terlepas dari keragaman itu, masyarakat Jawa pada dasarnya menaruh hormat pada harimau.
Mereka memanggil harimau dengan panggilan takzim, yakni 'mbah', 'nenek', 'kiai', 'kiaine' atau 'abah gede'.
Sementara orang Jawa Timur punya kesenian yang sangat identik denga Harimau Jawa yakni Reog, kesenian budaya yang masih sangat dekat dengan kekuatan mistis dan kebatinan.
Kesenian yang terkenal karena topeng harimau berbulu meraknya ini berasal dari Jawa Timur dan Ponorogo adalah kota asal Reog, sehingga kesenian ini disebut sebagai Reog Ponorogo.
Lihat Juga :