Rokok Elektrik Picu Risiko Lebih Tinggi Terpapar COVID-19
Kamis, 13 Agustus 2020 - 22:31 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu, perilaku seperti berulang kali menyentuh wajah dan mulut saat menggunakan rokok elektrik, atau berbagi produk vaping, juga dapat meningkatkan risiko infeksi. Meskipun sekitar setengah dari peserta mengatakan mereka berlindung di tempat.
"Itu tidak berarti mereka tidak berada di halaman belakang dengan seorang teman berbagi produk vaping mereka," ujar penulis senior studi Bonnie Halpern-Felsher, seorang profesor Pediatri di Universitas Stanford Fakultas Kedokteran, tulis CNN.
Namun, penelitian tersebut hanya menemukan hubungan antara vaping dan infeksi COVID-19. Riset juga tidak dapat membuktikan bahwa vaping menyebabkan penyakit tersebut. Tetapi penelitian memperhitungkan sejumlah faktor yang dapat memengaruhi risiko infeksi peserta, seperti kepatuhan mereka yang dilaporkan sendiri terhadap perintah lockdown dan tingkat diagnosis COVID-19 di negara bagian, umur, jenis kelamin, ras/etnis, indeks massa tubuh, dan status sosial ekonomi.
Para peneliti berharap hasil mereka tidak hanya memberikan peringatan kepada remaja dan dewasa muda tentang risiko vaping, tetapi juga mendorong Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) untuk lebih memperketat peraturan tentang e-rokok dan bagaimana produk dijual kepada kaum muda.
CNN melaporkan, baru-baru ini anggota parlemen mengirim surat kepada Komisaris FDA, Dr Stephen Hahn untuk mendesak membersihkan pasar rokok elektrik selama pandemik COVID-19. Surat itu mengutip penelitian saat ini sebagai bukti bahwa vaping adalah faktor risiko COVID-19.
"Itu tidak berarti mereka tidak berada di halaman belakang dengan seorang teman berbagi produk vaping mereka," ujar penulis senior studi Bonnie Halpern-Felsher, seorang profesor Pediatri di Universitas Stanford Fakultas Kedokteran, tulis CNN.
Namun, penelitian tersebut hanya menemukan hubungan antara vaping dan infeksi COVID-19. Riset juga tidak dapat membuktikan bahwa vaping menyebabkan penyakit tersebut. Tetapi penelitian memperhitungkan sejumlah faktor yang dapat memengaruhi risiko infeksi peserta, seperti kepatuhan mereka yang dilaporkan sendiri terhadap perintah lockdown dan tingkat diagnosis COVID-19 di negara bagian, umur, jenis kelamin, ras/etnis, indeks massa tubuh, dan status sosial ekonomi.
Para peneliti berharap hasil mereka tidak hanya memberikan peringatan kepada remaja dan dewasa muda tentang risiko vaping, tetapi juga mendorong Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) untuk lebih memperketat peraturan tentang e-rokok dan bagaimana produk dijual kepada kaum muda.
CNN melaporkan, baru-baru ini anggota parlemen mengirim surat kepada Komisaris FDA, Dr Stephen Hahn untuk mendesak membersihkan pasar rokok elektrik selama pandemik COVID-19. Surat itu mengutip penelitian saat ini sebagai bukti bahwa vaping adalah faktor risiko COVID-19.
(iqb)
Lihat Juga :