Proyek Matahari Buatan Korea Selatan Melaju Pesat

Sabtu, 06 Januari 2024 - 16:31 WIB
loading...
Proyek Matahari Buatan...
Reaktor KSTAR Korea Selatan di Daejon telah mampu menahan plasma 10 kali lebih lama dari rekor sebelumnya. (Foto: Popular Mechanism)
A A A
JAKARTA - Proyek matahari buatan Korea Selatan yang dimulai sejak 2008 melaju pesat. Kini reaktor Korea Superconducting Tokamak Advanced Research reactor (KSTAR) di Daejon telah mampu menahan plasma 10 kali lebih lama dari rekor sebelumnya pada tahun 2022.

Rekor terakhir pada September 2022, KSTAR mencapai suhu 100 juta derajat Celsius selama 30 detik penuh. Sebuah awal yang baik, tetapi belum cukup lama untuk benar-benar menghasilkan lebih banyak energi daripada yang diperlukan untuk memanaskan plasma pada awalnya.

Dilansir dari Popular Mechanics, Sabtu (6/1/2024), sejak 2008, KSTAR telah menguji konsep dasar energi fusi, fisika yang menggerakkan Matahari, dengan memproduksi plasma pada suhu 100 juta derajat Celsius yang memaksa isotop hidrogen tertentu untuk fusi, menghasilkan jumlah energi yang sangat besar.

Menciptakan plasma super-panas yang sekitar tujuh kali lebih panas dari Matahari hanya setengah dari pekerjaan. Reaktor berbentuk toroidal juga perlu menahan plasma tersebut untuk waktu yang lama, yang tentu bukan perkara mudah.

Baca Juga: China Nyalakan Matahari Buatan, Panasnya 10 Kali Matahari Sungguhan

Namun, minggu lalu, Korea Institute of Fusion Energy mengumumkan bahwa peningkatan baru akan membuat KSTAR mampu menahan plasma 10 kali lebih lama dari rekor sebelumnya pada tahun 2026. Ini adalah waktu yang tepat, karena setiap data yang dikumpulkan di KSTAR juga akan memberikan informasi pada proyek ITER yang didukung secara internasional begitu proyek tersebut berjalan.

KSTAR mencapai plasmas yang diperpanjang ini berkat pembaharuan dengan divertor wolfram yang mampu menangani aliran panas yang sangat besar yang ditemukan di dalam reaktor tokamak. “Di KSTAR, kami telah menerapkan divertor dengan material wolfram yang juga merupakan pilihan yang dibuat di ITER,” ujar Suk Jae Yoo, presiden Korea Institute of Fusion Energy.

Divertor sangat penting untuk reaktor tokamak. Dipasang di bagian bawah bejana hampa, perangkat ini mengelola pembuangan dan kotoran, dan harus tahan terhadap beban panas permukaan tertinggi.

Baca Juga: Mengenal JT-60SA, Matahari Buatan Jepang yang Menggemparkan

Sebelumnya, tokamak KSTAR menggunakan divertor berbasis karbon, karena karbon memiliki titik lebur yang tinggi. Satu-satunya masalah adalah partikel plasma cenderung menempel pada permukaan karbon, yang membatasi berapa lama suatu reaksi dapat berlangsung. Wolfram dengan titik lebur yang tinggi yang serupa tetapi massa atom yang lebih besar menghindari masalah ini, memungkinkan KSTAR untuk membuat reaksi yang berlangsung selama menit bukan detik.

“Untuk fusi, harus melakukan tiga hal, mendapatkan cukup partikel bersama-sama, harus membuatnya cukup panas, dan perlu menahannya cukup lama agar reaksi dapat terjadi,” kata Phil Ferguson, direktur Material Plasma Exposure eXperiment (MPEX) Project di Oak Ridge National Laboratory, tahun lalu.

Proyek MPEX menguji komponen reaktor fusi, khususnya divertor, terhadap paparan plasma jangka panjang. Saat ilmu yang menggerakkan fusi matahari dapat dipahami secara paripurna, maka akan membuka sumber energi utama yang luar biasa. Proyek ini menjadi salah satu ujian rekayasa terbesar dalam sejarah manusia.
(msf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Korea Selatan Kembangkan...
Korea Selatan Kembangkan Teknologi Mesin Metana untuk Roket Luar Angkasa
Pembuangan Limbah Nuklir...
Pembuangan Limbah Nuklir Fukushima ke Laut Dihentikan setelah Gempa Besar di Jepang
Google Setujui Permintaan...
Google Setujui Permintaan Korsel setelah 2 Dekade Bersengketa Peta Digital
Korea Selatan Larang...
Korea Selatan Larang Pelajar Bawa HP ke Sekolah, Alasannya Menakutkan
Di Balik Layar K-Content...
Di Balik Layar K-Content Bizweek 2025: Saat Ratusan Triliun Rupiah Dipertaruhkan di Meja Lobi Jakarta
Satelit Kubus Milik...
Satelit Kubus Milik Korea Selatan Bakal Ramaikan Misi Artemis
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
Korea Utara Marah AS...
Korea Utara Marah AS Jual Rudal Canggih ke Korea Selatan, Menyebutnya Ekspor Perang
Bandung Disulap Jadi...
Bandung Disulap Jadi Korea Mini, Ribuan Pengunjung Serbu Festival K-Food Halal dan K-Culture
Rekomendasi
Kuasa Hukum Prioritaskan...
Kuasa Hukum Prioritaskan Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan saat Penyerahan ke Kejaksaan
Drama Injury Time, Jerman...
Drama Injury Time, Jerman Tekuk Pantai Gading 2-1 dan Lolos ke 32 Besar
Krisis Politik Inggris...
Krisis Politik Inggris Makin Parah, PM Keir Starmer Bersiap Mengundurkan Diri
Berita Terkini
AI Impact Challenge,...
AI Impact Challenge, Microsoft, Komdigi, dan Dicoding Tampilkan Karya AI Terbaik Lulusan METC
Kedaulatan Digital Jadi...
Kedaulatan Digital Jadi Sorotan, Solusi AI Terintegrasi Siap Percepat Transformasi Industri
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Intel dan Nvidia Memulai...
Intel dan Nvidia Memulai Pertempuran Global Baru
Game Paling Ditunggu...
Game Paling Ditunggu Sedunia GTA 6 Akhirnya bisa Dipesan, Harganya Rp1,4 Juta
Memodernisasikan Pertahanan...
Memodernisasikan Pertahanan Maritim, Indonesia Berpotensi Kembangkan Teknologi Kapal Laut
Infografis
3 Proyek Kereta Cepat...
3 Proyek Kereta Cepat Termahal di Dunia, Whoosh Tak Masuk Hitungan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved