Siapa Mira Murati, CEO Sementara OpenAI yang Gantikan Sam Altman?
Selasa, 21 November 2023 - 06:55 WIB
loading...
A
A
A
Di OpenAI, Murati dipasrahkan tugas menjadi VP of applied AI and partnerships dan kemudian melesat menjadi senior vice president of research, products and partnerships, dan terakhir menjadi CTO pada 2022.
Percaya AI Bisa Bawa Kebaikan
Murati memiliki latar belakang yang kuat dalam bidang teknik dan AI. Ia lahir di Albania dan dibesarkan di Kanada. Ia meraih gelar sarjana teknik dari Dartmouth College dan gelar master dan doktor dari Stanford University.
Murati sangat bersemangat tentang potensi AI untuk kebaikan. Ia percaya bahwa AI dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang paling mendesak di dunia, seperti perubahan iklim dan kemiskinan.
Menurut The Wall Street Journal, Murati adalah “orang produk” yang percaya bahwa kecerdasan buatan (AI) tidak boleh terbatas pada proyek penelitian saja.
“Penting bagi kita untuk menghadirkan suara-suara yang berbeda, seperti filsuf, ilmuwan sosial, seniman, dan orang-orang dari bidang humaniora,” katanya dalam sebuah wawancara dengan majalah Time pada awal 2023.
![Siapa Mira Murati, CEO Sementara OpenAI yang Gantikan Sam Altman?]()
Menurut Murati, penting bagi OpenAI untuk membawa kecerdasan buatan ke publik dengan cara yang terkendali dan bertanggung jawab. Ia percaya bahwa AI harus dikembangkan dengan cara yang transparan dan inklusif. Ia ingin meningkatkan kolaborasi OpenAI dengan para pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, industri, dan masyarakat sipil.
Percaya AI Bisa Bawa Kebaikan
![Siapa Mira Murati, CEO Sementara OpenAI yang Gantikan Sam Altman?]()
Murati memiliki latar belakang yang kuat dalam bidang teknik dan AI. Ia lahir di Albania dan dibesarkan di Kanada. Ia meraih gelar sarjana teknik dari Dartmouth College dan gelar master dan doktor dari Stanford University.
Murati sangat bersemangat tentang potensi AI untuk kebaikan. Ia percaya bahwa AI dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang paling mendesak di dunia, seperti perubahan iklim dan kemiskinan.
Menurut The Wall Street Journal, Murati adalah “orang produk” yang percaya bahwa kecerdasan buatan (AI) tidak boleh terbatas pada proyek penelitian saja.
“Penting bagi kita untuk menghadirkan suara-suara yang berbeda, seperti filsuf, ilmuwan sosial, seniman, dan orang-orang dari bidang humaniora,” katanya dalam sebuah wawancara dengan majalah Time pada awal 2023.

Menurut Murati, penting bagi OpenAI untuk membawa kecerdasan buatan ke publik dengan cara yang terkendali dan bertanggung jawab. Ia percaya bahwa AI harus dikembangkan dengan cara yang transparan dan inklusif. Ia ingin meningkatkan kolaborasi OpenAI dengan para pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, industri, dan masyarakat sipil.
Lihat Juga :