Jejak Bahasa Kekaisaran Het yang Hilang 3.000 Tahun Lalu Terungkap dalam Teks Rahasia
Rabu, 15 November 2023 - 19:03 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Andreas Schachner, kepala Penggalian Arkeologi Reruntuhan Hattusa, pertama kali dia memegang tablet tersebut, dia bisa merasakan betapa pentingnya tablet tersebut. Lempengan tanah liat tersebut sangat terawetkan dibandingkan dengan lebih dari 25.000 lempengan tanah liat lainnya yang ditemukan di situs Bogazkoy, Turki.
Selama lebih dari satu abad, para sejarawan, arkeolog, dan ahli bahasa telah bekerja sama untuk mengungkap dan menerjemahkan arsip perjanjian kerajaan, korespondensi politik, serta teks hukum dan agama yang luar biasa milik Hattusa. Meskipun sebagian besar tablet ini ditulis dalam huruf paku Het, para ahli yang bekerja di situs yang sama juga menemukan bahasa lain yang berbeda.
Aksara-aksara ini tampaknya berasal dari berbagai kelompok etnis yang pernah berada di bawah bayang-bayang Kekaisaran Het, selama pemerintahannya di sebagian besar Anatolia dari tahun 1650 hingga 1200 SM. “Orang Het secara unik tertarik untuk merekam ritual dalam bahasa asing,” jelas Schwemer dikutip SINDOnews dari laman Science Alert, Rabu (15/11/2023).
Baca juga; Tolak Bahasa Melayu Jadi Bahasa ASEAN, Mendikbudristek: Bela Bahasa Indonesia
Dan bukan hanya karena alasan ilmiah. Kekaisaran Het tampaknya merayakan ribuan dewa dan dewi. Ketika bangsa Het menaklukkan semakin banyak wilayah di semenanjung besar antara Laut Hitam dan Laut Mediterania, para sejarawan menduga Kekaisaran tersebut memperoleh agama-agama baru sebagai cara untuk membawa orang-orang baru ke dalam kelompoknya.
Selama lebih dari satu abad, para sejarawan, arkeolog, dan ahli bahasa telah bekerja sama untuk mengungkap dan menerjemahkan arsip perjanjian kerajaan, korespondensi politik, serta teks hukum dan agama yang luar biasa milik Hattusa. Meskipun sebagian besar tablet ini ditulis dalam huruf paku Het, para ahli yang bekerja di situs yang sama juga menemukan bahasa lain yang berbeda.
Aksara-aksara ini tampaknya berasal dari berbagai kelompok etnis yang pernah berada di bawah bayang-bayang Kekaisaran Het, selama pemerintahannya di sebagian besar Anatolia dari tahun 1650 hingga 1200 SM. “Orang Het secara unik tertarik untuk merekam ritual dalam bahasa asing,” jelas Schwemer dikutip SINDOnews dari laman Science Alert, Rabu (15/11/2023).
Baca juga; Tolak Bahasa Melayu Jadi Bahasa ASEAN, Mendikbudristek: Bela Bahasa Indonesia
Dan bukan hanya karena alasan ilmiah. Kekaisaran Het tampaknya merayakan ribuan dewa dan dewi. Ketika bangsa Het menaklukkan semakin banyak wilayah di semenanjung besar antara Laut Hitam dan Laut Mediterania, para sejarawan menduga Kekaisaran tersebut memperoleh agama-agama baru sebagai cara untuk membawa orang-orang baru ke dalam kelompoknya.
Lihat Juga :