15 Sumber Daya Alam yang Mulai Menipis di Dunia, Apa Saja?
Senin, 23 Oktober 2023 - 06:57 WIB
loading...
A
A
A
Helium digunakan untuk mendinginkan magnet superkonduktor serta sangat penting dalam pemindai MRI serta kegunaan lain. Menurut Federal Helium Reserve AS, cadangan helium dunia bisa habis dalam waktu 25 tahun hingga 30 tahun jika tingkat penggunaan saat ini berlanjut.
Menurut Climate Institute, perubahan iklim dapat mengurangi lahan yang cocok untuk pertumbuhan kopi menjadi separuhnya pada 2050. Suhu yang meningkat, curah hujan yang bertambah, dan penyebaran penyakit kopi akan menjadi masalah serius.
Batu bara telah menjadi tulang punggung listrik sejak Revolusi Industri, tetapi ini adalah sumber daya yang terbatas. Menurut World Coal Association, jika manusia terus mengambil batu bara dari bumi dengan laju seperti sekarang, maka 150 tahun lagi akan habis.
Pasir penting untuk beton, kaca, dan barang elektronik. Secara global, manusia mengonsumsi lebih dari 50 miliar ton metrik pasir setiap tahun, dengan industri konstruksi menjadi konsumen besar. Tanpa kontrol yang tepat, pasir akan menjadi barang langka.
Dewan Emas Dunia mencatat seluruh emas yang pernah ditambang jika dikumpulkan akan membentuk kubus dengan panjang 21 meter di setiap sisi. Volume tersebut sekitar panjang tiga setengah kolam renang. Survei Geologi AS memperkirakan hanya ada 52.000 ton emas yang bisa ditambang di seluruh dunia.
Baca Juga: Tren Baru, Berburu Tambang Asteroid Emas di Luar Angkasa
Dewan Internasional untuk Penjelajahan Laut mencatat, stok sarden telah turun lebih dari 70 persen dalam dua dekade terakhir. Penangkapan ikan berlebihan dan perubahan iklim menjadi pemicu utamanya.
Pasokan kakao dunia terus berkurang. Perubahan iklim dan deforestasi membuat semakin sulit bagi petani kakao memproduksi lebih dari setengah cokelat dunia.
Penelitian Morgan Stanley mengungkap fakta ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan anggur semakin meningkat, terutama disebabkan oleh penurunan produksi. Laporan tersebut menyatakan konsumsi anggur global pada 2020 mencapai 24 miliar liter, sementara produksinya saat ini hanya 23,1 miliar liter.
Kekurangan ini terutama disebabkan oleh pola iklim yang berubah memengaruhi wilayah-wilayah penghasil anggur di seluruh dunia.
Permintaan global terhadap keju dari bahan susu kambing jauh melebihi pasokan. Amerika Serikat mengonsumsi sekitar 150 juta kilogram keju setiap tahun. Namun, populasi kambing tidak dapat mengikuti perkembangan ini. Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), ada sekitar 1 miliar kambing di seluruh dunia, namun tidak semua kambing menghasilkan susu untuk keju. Hanya beberapa ras tertentu seperti Alpine, LaMancha, dan Saanen yang bisa melakukannya.
Kelangkaan bacon bukan karena kekurangan babi, tetapi permintaan yang kian naik. Menurut Departemen Pertanian AS, pada tahun 2020, Amerika mengonsumsi 9 kilogram daging babi asap per orang. Sementara cadangan bacon AS mencapai titik terendah dalam 50 tahun pada 2017.
Fosfor menjadi bahan penting dalam pupuk dan penting untuk pertumbuhan tanaman. Studi menunjukkan dunia bakal kekurangan fosforus dalam waktu 50 hingga 100 tahun karena penggunaan berlebihan dan praktik pemborosan. Studi oleh Cordell, Drangert, dan White (2009) memperkirakan bahwa pada 2040 permintaan bisa melampaui pasokan.
Bumi terdiri dari sekitar 70 persen air. Namun, hanya sekitar 2,5 persen di antaranya air tawar, dengan hanya 0,3 persen tersedia untuk digunakan oleh manusia. Menurut UNESCO, pada tahun 2025, diperkirakan 1,8 miliar orang akan tinggal di daerah yang dilanda kelangkaan air.
Baca Juga: PBB: Kekeringan Mungkin Jadi 'Pandemi' Berikutnya
Tanaman agave biru, satu-satunya jenis yang digunakan untuk membuat tequila asli, mulai berkurang. Petani kesulitan memenuhi pasokan, dengan tanaman agave membutuhkan sekitar sepuluh tahun untuk mencapai kematangannya dan meningkatnya permintaan tequila di seluruh dunia.
Menurut WWF, sekitar seperempat terumbu karang di seluruh dunia sudah rusak dan tak dapat diperbaiki, dengan dua pertiga lainnya dalam ancaman serius. Jika laju kehancuran berlanjut, 60 persen terumbu karang dunia akan hilang dalam 30 tahun mendatang.
3. Kopi
Menurut Climate Institute, perubahan iklim dapat mengurangi lahan yang cocok untuk pertumbuhan kopi menjadi separuhnya pada 2050. Suhu yang meningkat, curah hujan yang bertambah, dan penyebaran penyakit kopi akan menjadi masalah serius.
3. Batu Bara
Batu bara telah menjadi tulang punggung listrik sejak Revolusi Industri, tetapi ini adalah sumber daya yang terbatas. Menurut World Coal Association, jika manusia terus mengambil batu bara dari bumi dengan laju seperti sekarang, maka 150 tahun lagi akan habis.
4. Pasir
Pasir penting untuk beton, kaca, dan barang elektronik. Secara global, manusia mengonsumsi lebih dari 50 miliar ton metrik pasir setiap tahun, dengan industri konstruksi menjadi konsumen besar. Tanpa kontrol yang tepat, pasir akan menjadi barang langka.
5. Emas
Dewan Emas Dunia mencatat seluruh emas yang pernah ditambang jika dikumpulkan akan membentuk kubus dengan panjang 21 meter di setiap sisi. Volume tersebut sekitar panjang tiga setengah kolam renang. Survei Geologi AS memperkirakan hanya ada 52.000 ton emas yang bisa ditambang di seluruh dunia.
Baca Juga: Tren Baru, Berburu Tambang Asteroid Emas di Luar Angkasa
6. Sarden
Dewan Internasional untuk Penjelajahan Laut mencatat, stok sarden telah turun lebih dari 70 persen dalam dua dekade terakhir. Penangkapan ikan berlebihan dan perubahan iklim menjadi pemicu utamanya.
7. Cokelat
Pasokan kakao dunia terus berkurang. Perubahan iklim dan deforestasi membuat semakin sulit bagi petani kakao memproduksi lebih dari setengah cokelat dunia.
8. Anggur
Penelitian Morgan Stanley mengungkap fakta ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan anggur semakin meningkat, terutama disebabkan oleh penurunan produksi. Laporan tersebut menyatakan konsumsi anggur global pada 2020 mencapai 24 miliar liter, sementara produksinya saat ini hanya 23,1 miliar liter.
Kekurangan ini terutama disebabkan oleh pola iklim yang berubah memengaruhi wilayah-wilayah penghasil anggur di seluruh dunia.
9. Keju
Permintaan global terhadap keju dari bahan susu kambing jauh melebihi pasokan. Amerika Serikat mengonsumsi sekitar 150 juta kilogram keju setiap tahun. Namun, populasi kambing tidak dapat mengikuti perkembangan ini. Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), ada sekitar 1 miliar kambing di seluruh dunia, namun tidak semua kambing menghasilkan susu untuk keju. Hanya beberapa ras tertentu seperti Alpine, LaMancha, dan Saanen yang bisa melakukannya.
10. Bacon
Kelangkaan bacon bukan karena kekurangan babi, tetapi permintaan yang kian naik. Menurut Departemen Pertanian AS, pada tahun 2020, Amerika mengonsumsi 9 kilogram daging babi asap per orang. Sementara cadangan bacon AS mencapai titik terendah dalam 50 tahun pada 2017.
11. Fosfor
Fosfor menjadi bahan penting dalam pupuk dan penting untuk pertumbuhan tanaman. Studi menunjukkan dunia bakal kekurangan fosforus dalam waktu 50 hingga 100 tahun karena penggunaan berlebihan dan praktik pemborosan. Studi oleh Cordell, Drangert, dan White (2009) memperkirakan bahwa pada 2040 permintaan bisa melampaui pasokan.
12. Air
Bumi terdiri dari sekitar 70 persen air. Namun, hanya sekitar 2,5 persen di antaranya air tawar, dengan hanya 0,3 persen tersedia untuk digunakan oleh manusia. Menurut UNESCO, pada tahun 2025, diperkirakan 1,8 miliar orang akan tinggal di daerah yang dilanda kelangkaan air.
Baca Juga: PBB: Kekeringan Mungkin Jadi 'Pandemi' Berikutnya
13. Tequila
Tanaman agave biru, satu-satunya jenis yang digunakan untuk membuat tequila asli, mulai berkurang. Petani kesulitan memenuhi pasokan, dengan tanaman agave membutuhkan sekitar sepuluh tahun untuk mencapai kematangannya dan meningkatnya permintaan tequila di seluruh dunia.
15. Terumbu Karang
Menurut WWF, sekitar seperempat terumbu karang di seluruh dunia sudah rusak dan tak dapat diperbaiki, dengan dua pertiga lainnya dalam ancaman serius. Jika laju kehancuran berlanjut, 60 persen terumbu karang dunia akan hilang dalam 30 tahun mendatang.
(msf)
Lihat Juga :