Keren! Siswa SMK Ciptakan Aplikasi Pemantau Mangrove Jarak Jauh
Sabtu, 07 Oktober 2023 - 20:00 WIB
loading...
A
A
A
Fikry juga masih menyiasati supaya biaya pemeliharaan dan pembuatan aplikasi dan implementasi ini lebih terjangkau di masyarakat. Sebab secara perhitungan setidaknya biaya penelitian pengembangan hingga produksi memakan Rp 131 juta, untuk empat kuarter dan satu tahun.
"Yang paling mahal untuk R&D Reseacrh and Development atau pengembangan. Kita juga akan building developer aplikasinya, kemudian akan memperluas sensor kita, sehingga bisa menjangkau luas wilayah di area penanamannya," ungkapnya.
Berkat aplikasi inovasi pemeliharaan ekosistem pesisir pantai ini, para pelajar SMK Telkom berhasil menjadi juara 1 Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI). Ia dan dua rekannya yakni Abid Abdullah Ghani dan Nabila Rozan Humairoh, dibawah bimbingan pengajar Muhammad Arifin, mampu mengalahkan lebih dari 300 tim peserta dalam tiga tahapan, hingga akhirnya melaju di babak final yang diikuti oleh enam tim peserta.
"Dari sekitar 340 peserta itu kita lolos ke final, jadi tiga tahapan sebelum ke final. Di final karena kategori kita teknologi digital, lawannya ada enam tim peserta. Alhamdulillah dapat juara satu," kata dia.
Saat ini dirinya juga berharap, aplikasi ini bisa dilirik oleh pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KHLK) untuk diproduksi secara massa dan didistribusikan di beberapa wilayah yang ekosistem mangrovenya rawan alami kerusakan.
"Yang paling mahal untuk R&D Reseacrh and Development atau pengembangan. Kita juga akan building developer aplikasinya, kemudian akan memperluas sensor kita, sehingga bisa menjangkau luas wilayah di area penanamannya," ungkapnya.
Berkat aplikasi inovasi pemeliharaan ekosistem pesisir pantai ini, para pelajar SMK Telkom berhasil menjadi juara 1 Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI). Ia dan dua rekannya yakni Abid Abdullah Ghani dan Nabila Rozan Humairoh, dibawah bimbingan pengajar Muhammad Arifin, mampu mengalahkan lebih dari 300 tim peserta dalam tiga tahapan, hingga akhirnya melaju di babak final yang diikuti oleh enam tim peserta.
"Dari sekitar 340 peserta itu kita lolos ke final, jadi tiga tahapan sebelum ke final. Di final karena kategori kita teknologi digital, lawannya ada enam tim peserta. Alhamdulillah dapat juara satu," kata dia.
Saat ini dirinya juga berharap, aplikasi ini bisa dilirik oleh pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KHLK) untuk diproduksi secara massa dan didistribusikan di beberapa wilayah yang ekosistem mangrovenya rawan alami kerusakan.
(msf)
Lihat Juga :