Robot Ulama, Iran Pakai Teknologi AI untuk Menerbitkan Fatwa
Senin, 02 Oktober 2023 - 19:31 WIB
loading...
Para ulama Iran mulai menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mempercepat penerbitan fatwa. (Foto: Firstpost)
A
A
A
JAKARTA - Para ulama Iran mulai menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mempercepat penerbitan fatwa. Teknologi AI diyakini dapat bertindak sebagai asisten ulama yang andal, sehingga memangkas waktu yang diperlukan untuk mengeluarkan fatwa, dari 50 hari menjadi hanya jam lima.
Menurut laporan dari Financial Times, Senin (2/10/2023), para pejabat di kota suci Qom, mendorong para ulama untuk bereksperimen dengan teknologi AI.
Secara tradisional, ulama Syiah mendedikasikan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk mempelajari teks-teks Islam sebelum menyampaikan fatwa, yang mencakup berbagai topik, mulai dari masalah patriotisme hingga thoharah (bersuci). Selama bertahun-tahun, beberapa fatwa bahkan telah dikeluarkan sebagai tanggapan terhadap masalah budaya Barat, seperti fatwa terkenal yang menentang novelis Salman Rushdie .
Baca Juga: Fatwa Khamenei Iran: Wanita dalam Kartun Harus Berjilbab
Ayatollah Alireza Arafi, anggota Dewan Wali dan Majelis Ahli Iran yang berpengaruh, menyatakan pada bulan Juli, “Seminari harus terlibat dalam penggunaan teknologi modern dan progresif serta kecerdasan buatan untuk mempromosikan peradaban Islam.”
Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan Islam Komputer Noor, lembaga penelitian AI terkemuka di Qom, berafiliasi dengan seminari berusia satu abad di kota tersebut dan memiliki akses ke teks-teks keagamaan kuno, yang dapat diintegrasikan ke dalam algoritma AI.
Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei mendukung inisiatif AI ini dan menyatakan keinginannya agar Iran menjadi pemimpin global dalam kecerdasan buatan. Namun, dia menekankan bahwa hal itu harus sejalan dengan interpretasi negara terhadap Islam.
Menurut laporan dari Financial Times, Senin (2/10/2023), para pejabat di kota suci Qom, mendorong para ulama untuk bereksperimen dengan teknologi AI.
Secara tradisional, ulama Syiah mendedikasikan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk mempelajari teks-teks Islam sebelum menyampaikan fatwa, yang mencakup berbagai topik, mulai dari masalah patriotisme hingga thoharah (bersuci). Selama bertahun-tahun, beberapa fatwa bahkan telah dikeluarkan sebagai tanggapan terhadap masalah budaya Barat, seperti fatwa terkenal yang menentang novelis Salman Rushdie .
Baca Juga: Fatwa Khamenei Iran: Wanita dalam Kartun Harus Berjilbab
Ayatollah Alireza Arafi, anggota Dewan Wali dan Majelis Ahli Iran yang berpengaruh, menyatakan pada bulan Juli, “Seminari harus terlibat dalam penggunaan teknologi modern dan progresif serta kecerdasan buatan untuk mempromosikan peradaban Islam.”
Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan Islam Komputer Noor, lembaga penelitian AI terkemuka di Qom, berafiliasi dengan seminari berusia satu abad di kota tersebut dan memiliki akses ke teks-teks keagamaan kuno, yang dapat diintegrasikan ke dalam algoritma AI.
Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei mendukung inisiatif AI ini dan menyatakan keinginannya agar Iran menjadi pemimpin global dalam kecerdasan buatan. Namun, dia menekankan bahwa hal itu harus sejalan dengan interpretasi negara terhadap Islam.
Lihat Juga :