TikTok: Bagi Anda Menyenangkan, tapi bagi Trump dan Politisi Kami Ancaman

Sabtu, 01 Agustus 2020 - 23:33 WIB
loading...
TikTok: Bagi Anda Menyenangkan,...
Pemerintah AS di bawah kendali Presiden Donald Trump menilai TikTok masih menjadi ancaman keamanan nasional bagi Amerika Serikat. Namun bagi warganya, aplikasi ini justru menyenangkan. Foto/Ist
A A A
JAKARTA - Pro Kontra kehadiran aplikasi berbagi video populer , TikTok, terus berlanjut. Presiden AS, Donal Trump, baru saja menyatakan TikTok sebagai aplikasi haram sebelum perusahaan seharga Rp700 triliun lebih itu ada digenggaman swasta Amerika. (Baca juga: Paksa Beli TikTok, Trump Minta Microsoft Jangan Kasih Napas Aplikasi China )

Aplikasi ini sendiri sudah terlanjut populer di AS. Ambil contoh Marcy Granger, yang pertama kali mengunduh TikTok pada awal tahun lalu. Petugas Administrasi Keamanan Transportasi (TSA) berusia 29 tahun itu sebelumnya tidak tahu bahwa perusahaan China memiliki aplikasi video pendek yang populer.

Kemudian TSA melarang pekerjanya menggunakan TikTok untuk keterlibatan media sosial agensi tersebut, karena masalah keamanan nasional. Saat itulah Granger mengetahui bahwa aplikasi video itu milik ByteDance, sebuah perusahaan teknologi berbasis di Beijing.

Pengungkapan itu tidak menghentikan Granger, yang telah mengumpulkan lebih dari 166.000 pengikut di aplikasi, dari membuat video TikTok. Warga Denver tersebut menyinkronkan lip ke musik pop dan mem-posting pesan motivasi tentang kehidupan dan menjadi ibu di aplikasi selama waktu luangnya.

Dia kadang-kadang memakai seragam TSA-nya di rumah dalam videonya, tetapi tidak memberikan rincian keamanan tentang pekerjaannya. "Itu tidak benar-benar membuat saya takut karena beberapa orang tidak menyadari semua media sosial dan semua data dilacak," kata Granger, yang juga menjalankan bisnis pemasaran media sosial. (Baca juga: Jika Tak Dibeli AS, TikTok Bisa Musnahkan YouTube dan Facebook? )

TikTok adalah hit media sosial global pertama di China, yang menarik perhatian pengguna melalui video pendek orang-orang yang menyinkronkan bibir, menari, dan bermain musik. Keberhasilan aplikasi, bagaimanapun, telah memicu pengawasan dari politisi yang khawatir bahwa Pemerintah China dapat menggunakan aplikasi untuk memata-matai warga dan menyebarkan propaganda politik.

Pada hari Jumat, Presiden AS, Donald Trump mengatakan, kepada wartawan di atas Air Force One bahwa Administrasinya berencana melarang TikTok di AS, menurut CBS News. Dia juga mempertimbangkan menandatangani perintah yang mengarahkan ByteDance untuk menjual operasi TikTok AS, Bloomberg melaporkan pada hari sebelumnya.

Microsoft berpotensi menjadi pembeli yang tertarik, menurut The New York Times. Seorang juru bicara untuk TikTok, mengatakan, perusahaan tidak mengomentari rumor atau spekulasi. Gedung Putih dan Microsoft tidak mengomentari laporan divestasi itu. Gedung Putih sendiri tidak segera menanggapi permintaan komentar atas pernyataan Trump di atas Air Force One.

Beberapa pakar keamanan dunia maya, mengatakan, fokus Trump pada TikTok lebih pada politik daripada masalah keamanan nasional. TikTok bersaing dalam lingkungan yang didominasi oleh jejaring sosial AS seperti Facebook, Twitter, dan Snapchat. Facebook, jaringan sosial terbesar di dunia, bahkan membuat aplikasi serupa bernama Lasso tetapi menutupnya pada Juli setelah gagal mendapatkan traksi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
OnePlus Tersingkir dari...
OnePlus Tersingkir dari AS, Apple dan Samsung Untung Besar
Eropa Siap Masuk Arena...
Eropa Siap Masuk Arena Pertempuran Robot AI China dan AS
TikTok Bukan Lagi Aplikasi...
TikTok Bukan Lagi Aplikasi Video: Evolusi Menjadi Super App yang Mengancam Google, Amazon, hingga Bank
Trump T1 Phone Ternyata...
Trump T1 Phone Ternyata HTC U24 Pro Buatan China: Ini Bukti Teardown-nya
Mau Traveling Keluarga...
Mau Traveling Keluarga Lebih Menyenangkan? Ikuti 5 Tips ala Tika Nurjanah
Iran Temukan Pangkalan...
Iran Temukan Pangkalan Angkatan Laut Berusia 2.000 Tahun di Selat Hormuz
Militer AS Tutupi Jumlah...
Militer AS Tutupi Jumlah Korban Luka dan Tewas, Malu karena Kalah Perang Iran?
Korban Jiwa Militer...
Korban Jiwa Militer AS Berjatuhan, Trump: Iran Akan Bayar Berkali-kali Lipat!
Iran Nyatakan Perang...
Iran Nyatakan Perang Skala Penuh, Rudalnya Gempur Pangkalan AS di Kuwait
Rekomendasi
Ayat-ayat Istimewa Surat...
Ayat-ayat Istimewa Surat Al Baqarah : Mengapa Ayat 255 Disebut Ayat Kursi?
10 Kontroversi Argentina...
10 Kontroversi Argentina di Piala Dunia 2026: Tuduhan Dibantu Wasit hingga Pukul Pemain Spanyol
Wujudkan Rencana Liburan...
Wujudkan Rencana Liburan Lebih Fleksibel Melalui Paylater
Berita Terkini
Israel Kerahkan Senjata...
Israel Kerahkan Senjata Super HYPNOSIS untuk Butakan Semua Target Terbang
Eropa Luncurkan Perisai...
Eropa Luncurkan Perisai Udara yang Bakal Jadi Lawan Tangguh Drone
Bisa 15 Kali Hybrid...
Bisa 15 Kali Hybrid Zoom, Logitech Kenalkan Rally AI Camera
Bukan Cuma Otomatisasi,...
Bukan Cuma Otomatisasi, Fitur AI Mekari Talenta Dorong HR Jadi Mitra Strategis Bisnis
Lewat Forum CorpU Association...
Lewat Forum CorpU Association Insight, Telkom Percepat Transformasi Talenta
Uni Eropa Perintahkan...
Uni Eropa Perintahkan Google Membuka Fitur AI Android
Infografis
Sejarah Boikot Olahraga...
Sejarah Boikot Olahraga Dunia dan Ancaman Jerman Mundur dari Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved