Satelit ESA Rekam Gelombang Panas Laut Hantam Atlantik Utara
Sabtu, 24 Juni 2023 - 07:03 WIB
loading...
A
A
A
Data satelit, bersama dengan data di lapangan, memungkinkan para ahli mendokumentasikan dampak gelombang panas laut ini termasuk tekanan pada ekosistem laut. Termasuk dampak pada industri seperti akuakultur dan perikanan.
Gelombang panas saat ini merupakan puncak dari periode kenaikan suhu di lautan Atlantik Utara yang dimulai pada bulan April. Otoritas prakiraan cuaca Inggris Met Office melaporkan bahwa suhu lautan di Atlantik Utara selama bulan Mei adalah yang terhangat sejak tahun 1850.
Baca juga; Suhu Global Naik Satu Derajat, 50% Penduduk Bumi Terancam Mengungsi
“Dibandingkan periode tahun 1961 hingga 1990, suhu rata-rata selama bulan Mei naik sekitar 1,25 derajat Celcius,” ujar profesor Albert Klein Tank, kepala Met Office Hadley Centre.
Dia menjelaskan, angin sepoi-sepoi yang tidak biasa di atas lautan berkontribusi pada pemanasan suhu laut yang tidak terduga. Apalagi pada bulan Juni tercatat suhu mencapai rekor terpanas secara global, ikut mendorong kenaikan suhu air laut.
“Biasanya, debu yang terbawa udara dari Sahara membantu mendinginkan wilayah ini dengan memblokir dan memantulkan sebagian energi matahari. Namun, angin yang lebih lemah dari rata-rata telah mengurangi jumlah debu di atmosfer yang berpotensi menyebabkan suhu lebih tinggi,” kata Tank.
Gelombang panas saat ini merupakan puncak dari periode kenaikan suhu di lautan Atlantik Utara yang dimulai pada bulan April. Otoritas prakiraan cuaca Inggris Met Office melaporkan bahwa suhu lautan di Atlantik Utara selama bulan Mei adalah yang terhangat sejak tahun 1850.
Baca juga; Suhu Global Naik Satu Derajat, 50% Penduduk Bumi Terancam Mengungsi
“Dibandingkan periode tahun 1961 hingga 1990, suhu rata-rata selama bulan Mei naik sekitar 1,25 derajat Celcius,” ujar profesor Albert Klein Tank, kepala Met Office Hadley Centre.
Dia menjelaskan, angin sepoi-sepoi yang tidak biasa di atas lautan berkontribusi pada pemanasan suhu laut yang tidak terduga. Apalagi pada bulan Juni tercatat suhu mencapai rekor terpanas secara global, ikut mendorong kenaikan suhu air laut.
“Biasanya, debu yang terbawa udara dari Sahara membantu mendinginkan wilayah ini dengan memblokir dan memantulkan sebagian energi matahari. Namun, angin yang lebih lemah dari rata-rata telah mengurangi jumlah debu di atmosfer yang berpotensi menyebabkan suhu lebih tinggi,” kata Tank.
Lihat Juga :