Betina Terakhir Ditemukan Mati Terdampar, Spesies Kura-kura Air Tawar Terbesar Terancam Punah
Jum'at, 05 Mei 2023 - 20:42 WIB
loading...
Betina terakhir kura-kura air tawar terbesar di dunia ditemukan mati terdampar pada 21 April di tepi Danau Dong Mo, di distrik Son Tay Hanoi. Foto/WCS Vietnam/Live Science
A
A
A
BEIJING - Betina terakhir kura-kura air tawar terbesar di dunia ditemukan mati terdampar pada 21 April di tepi Danau Dong Mo, di distrik Son Tay Hanoi. Akibatnya, spesies yang dikenal sebagai kura-kura cangkang lunak raksasa Yangtze terancam punah .
Kura-kura betina, yang panjangnya sekitar 1,5 meter dan berat 93 kilogram, pertama kali dilaporkan mati oleh situs berita Vietnam VNExpress. Belum diketahui penyebab kematian kura-kura betina itu, diperkirakan sudah mati beberapa hari sebelum ditemukan terdampar.
Kura-kura cangkang lunak raksasa Yangtze (Rafetus swinhoei), merupakan salah satu spesies paling terancam punah di Bumi. Setelah betina terakhir ditemukan mati di Vietnam, secara teknis akan punah meskipun masih ada dua jantan yang hidup.
Baca juga; Kura-kura Langka Berwarna Kuning Ditemukan di India
“Ini benar-benar pukulan. Jika betina itu selamat, dia bisa bertelur seratus telur atau lebih dalam setahun,” kata Tim McCormack, Direktur Program Penyu Asia untuk Konservasi Indo-Myanmar, kepada majalah TIME yang dikutip SINDOnews dari laman Live Science, Jumat (5/5/2023).
Kura-kura betina, yang panjangnya sekitar 1,5 meter dan berat 93 kilogram, pertama kali dilaporkan mati oleh situs berita Vietnam VNExpress. Belum diketahui penyebab kematian kura-kura betina itu, diperkirakan sudah mati beberapa hari sebelum ditemukan terdampar.
Kura-kura cangkang lunak raksasa Yangtze (Rafetus swinhoei), merupakan salah satu spesies paling terancam punah di Bumi. Setelah betina terakhir ditemukan mati di Vietnam, secara teknis akan punah meskipun masih ada dua jantan yang hidup.
Baca juga; Kura-kura Langka Berwarna Kuning Ditemukan di India
“Ini benar-benar pukulan. Jika betina itu selamat, dia bisa bertelur seratus telur atau lebih dalam setahun,” kata Tim McCormack, Direktur Program Penyu Asia untuk Konservasi Indo-Myanmar, kepada majalah TIME yang dikutip SINDOnews dari laman Live Science, Jumat (5/5/2023).
Lihat Juga :