Tidak Terdeteksi Satelit, Badai Matahari Terkuat Hantam Bumi
Jum'at, 24 Maret 2023 - 21:43 WIB
loading...
Badai matahari paling kuat menghantam Bumi pada 24 Maret 2023 dan membuat para ilmuwan terkejut karena tidak terdeteksi satelit peramal cuaca luar angkasa. Foto/NOAA/Space
A
A
A
COLORADO - Badai matahari paling kuat menghantam Bumi pada 24 Maret 2023 dan membuat para ilmuwan terkejut karena tidak terdeteksi satelit peramal cuaca luar angkasa. Badai matahari terkuat dalam enam tahun terakhir memaksa perusahaan penerbangan luar angkasa Rocket Lab menunda peluncuran selama 90 menit.
Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) mengklasifikasikan badai matahari ini sebagai G4 pada skala kelas 5 yang dapat menimbulkan gangguan parah. Keganasan badai matahari yang tak terduga ini menghadirkan aurora terlihat sejauh ke selatan hingga Colorado dan New Mexico di AS.
Layanan Cuaca Luar Angkasa Nasional NOAA awalnya mengumumkan pengawasan badai geomagnetik pada 22 Maret 2023, yang akan mulai berlaku pada 23-25 Maret 2023 dengan kemungkinan kekuatan kategori badai G2. Jadi peramal cuaca tidak sepenuhnya lengah, namun mereka tidak menduga kekuatan badai berubah jadi kategori G4 berkekuatan besar.
Baca juga; Tornado Surya Berkecepatan 499.000 Km/Jam Muncul di Atas Permukaan Matahari
Baru pada pukul 00:41 EDT pada 24 Maret 2023, NOAA meningkatkan peringatan menjadi badai G4 yang parah. Peringatan ini disampaikan setelah terjadi badai G3 yang lebih kuat dari perkiraan meningkat menjadi G4 pada pukul 12: 04 EDT.
Peramal cuaca luar angkasa AS Tamitha Skov menjelaskan kepada Space.com alasan komunitas cuaca luar angkasa salah memperhitungkan badai matahari ini. “Badai yang hampir tak terlihat ini diluncurkan jauh lebih lambat daripada CME yang meletus dan sangat sulit diamati ketika meninggalkan permukaan matahari,” katanya.
Dia menambahkan bahwa CME siluman juga dapat “disamarkan” oleh struktur lain yang lebih padat yang berasal dari matahari, yang membuatnya sulit untuk diamati. “Inilah penyebab masalah badai geomagnetik tingkat G4 yang kita alami sekarang,” lanjut Skov.
Badai matahari atau geomagnetik adalah gangguan pada medan magnet bumi yang disebabkan oleh material matahari dari coronal mass ejections (CME). Yaitu pelepasan besar plasma dan medan magnet dari atmosfer matahari.
Baca juga; Penampakan Kobaran Plasma Matahari Bikin Merinding, Membara Menjulang Setinggi 100.000 Km
NOAA sudah mengklasifikasikan badai geomagnetik mulai pada skala G1, yang dapat menyebabkan peningkatan aktivitas aurora di sekitar kutub dan fluktuasi kecil pada pasokan listrik, Sampai kategori G5, yang mencakup kasus ekstrem seperti Peristiwa Carrington pada September 1859, yang mengganggu layanan telegraf di seluruh dunia dan memicu aurora yang begitu terang hingga Bahama di selatan.
![Tidak Terdeteksi Satelit, Badai Matahari Terkuat Hantam Bumi]()
Badai geomagnetik yang kuat dapat mengganggu penerbangan luar angkasa karena meningkatkan kepadatan gas di atmosfer bagian atas Bumi. Kondisi ini meningkatkan hambatan pada satelit dan pesawat ruang angkasa lainnya.
Pada Februari 2022, SpaceX kehilangan hingga 40 satelit Starlink baru ketika gagal mencapai orbit setelah dihantam badai geomagnetik kecil. Efek samping lain dari badai geomagnetik yang kuat adalah tampilan aurora luar biasa yang dipicunya.
Saat partikel berenergi dari matahari menghantam atmosfer Bumi dengan kecepatan hingga 72 juta km/jam, medan magnet planet Bumi menyalurkan partikel ke arah kutub. Supercharging berikutnya molekul di atmosfer bumi memicu perubahan warna-warni, yang biasanya terjadi pada daerah di lintang tinggi.
Baca juga; Fenomena Alam Langka, Aurora Merah Hiasi Langit Kanada, AS, dan Eropa
Bumi perlu mewaspadai peristiwa cuaca luar angkasa yang lebih ekstrem seperti badai geomagnetik yang kuat. Mengingat saat matahari mencapai puncaknya dalam siklus aktivitas matahari 11 tahun, yang diperkirakan akan terjadi pada tahun 2025.
Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) mengklasifikasikan badai matahari ini sebagai G4 pada skala kelas 5 yang dapat menimbulkan gangguan parah. Keganasan badai matahari yang tak terduga ini menghadirkan aurora terlihat sejauh ke selatan hingga Colorado dan New Mexico di AS.
Layanan Cuaca Luar Angkasa Nasional NOAA awalnya mengumumkan pengawasan badai geomagnetik pada 22 Maret 2023, yang akan mulai berlaku pada 23-25 Maret 2023 dengan kemungkinan kekuatan kategori badai G2. Jadi peramal cuaca tidak sepenuhnya lengah, namun mereka tidak menduga kekuatan badai berubah jadi kategori G4 berkekuatan besar.
Baca juga; Tornado Surya Berkecepatan 499.000 Km/Jam Muncul di Atas Permukaan Matahari
Baru pada pukul 00:41 EDT pada 24 Maret 2023, NOAA meningkatkan peringatan menjadi badai G4 yang parah. Peringatan ini disampaikan setelah terjadi badai G3 yang lebih kuat dari perkiraan meningkat menjadi G4 pada pukul 12: 04 EDT.
Peramal cuaca luar angkasa AS Tamitha Skov menjelaskan kepada Space.com alasan komunitas cuaca luar angkasa salah memperhitungkan badai matahari ini. “Badai yang hampir tak terlihat ini diluncurkan jauh lebih lambat daripada CME yang meletus dan sangat sulit diamati ketika meninggalkan permukaan matahari,” katanya.
Dia menambahkan bahwa CME siluman juga dapat “disamarkan” oleh struktur lain yang lebih padat yang berasal dari matahari, yang membuatnya sulit untuk diamati. “Inilah penyebab masalah badai geomagnetik tingkat G4 yang kita alami sekarang,” lanjut Skov.
Badai matahari atau geomagnetik adalah gangguan pada medan magnet bumi yang disebabkan oleh material matahari dari coronal mass ejections (CME). Yaitu pelepasan besar plasma dan medan magnet dari atmosfer matahari.
Baca juga; Penampakan Kobaran Plasma Matahari Bikin Merinding, Membara Menjulang Setinggi 100.000 Km
NOAA sudah mengklasifikasikan badai geomagnetik mulai pada skala G1, yang dapat menyebabkan peningkatan aktivitas aurora di sekitar kutub dan fluktuasi kecil pada pasokan listrik, Sampai kategori G5, yang mencakup kasus ekstrem seperti Peristiwa Carrington pada September 1859, yang mengganggu layanan telegraf di seluruh dunia dan memicu aurora yang begitu terang hingga Bahama di selatan.

Badai geomagnetik yang kuat dapat mengganggu penerbangan luar angkasa karena meningkatkan kepadatan gas di atmosfer bagian atas Bumi. Kondisi ini meningkatkan hambatan pada satelit dan pesawat ruang angkasa lainnya.
Pada Februari 2022, SpaceX kehilangan hingga 40 satelit Starlink baru ketika gagal mencapai orbit setelah dihantam badai geomagnetik kecil. Efek samping lain dari badai geomagnetik yang kuat adalah tampilan aurora luar biasa yang dipicunya.
Saat partikel berenergi dari matahari menghantam atmosfer Bumi dengan kecepatan hingga 72 juta km/jam, medan magnet planet Bumi menyalurkan partikel ke arah kutub. Supercharging berikutnya molekul di atmosfer bumi memicu perubahan warna-warni, yang biasanya terjadi pada daerah di lintang tinggi.
Baca juga; Fenomena Alam Langka, Aurora Merah Hiasi Langit Kanada, AS, dan Eropa
Bumi perlu mewaspadai peristiwa cuaca luar angkasa yang lebih ekstrem seperti badai geomagnetik yang kuat. Mengingat saat matahari mencapai puncaknya dalam siklus aktivitas matahari 11 tahun, yang diperkirakan akan terjadi pada tahun 2025.
(wib)
Lihat Juga :