Misi ke Luar Angkasa Sebabkan Mutasi DNA Darah Astronot

Selasa, 06 September 2022 - 09:48 WIB
Program pemantauan tetap akan menjadi penting karena NASA meluncurkan misi luar angkasa jangka panjang melalui program Artemis di bulan dan kemudian, kunjungan manusia ke Mars. Para peneliti memutuskan untuk melanjutkan studi baru ini, mengingat peningkatan minat dalam penerbangan luar angkasa komersial dan eksplorasi luar angkasa.

“Potensi risiko kesehatan dari paparan berbagai faktor berbahaya yang terkait dengan misi luar angkasa eksplorasi berulang atau berdurasi panjang,” kata Dr David Goukassian yang juga profesor kardiologi di Icahn Mount Sinai dikutip SINDOnews dari laman Space.com, Selasa (6/9/2022).

NASA baru-baru ini mengubah persyaratan radiasi seumur hidup untuk astronot yang menurut para kritikus mendiskriminasi wanita, padahal secara historis memiliki batas lebih rendah daripada astronot pria.

Para peneliti menemukan frekuensi mutasi somatik yang lebih tinggi pada gen dari 14 astronot yang dipertimbangkan dalam penelitian ini, relatif terhadap statistik populasi yang pernah ke luar angkasa.

Baca juga; Bangun Koloni di Mars, Ilmuwan Ciptakan Beton dari Plasma Darah Astronot

Kohort luar angkasa terbang antara tahun 1998 dan 2001 dengan misi ulang-alik rata-rata 12 hari. Sekitar 85 persen dari kelompok itu adalah laki-laki, dan enam astronot sedang dalam misi pertama mereka.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!