Dampak Badai Matahari di Indonesia, Berpotensi Timbulkan Gangguan Navigasi Berbasis Satelit
Rabu, 17 Agustus 2022 - 14:39 WIB
Badai Matahari menghantam Bumi selama akhir pekan, dan ada kemungkinan badai lain akan menyerang. Jika badai lain melanda, sistem saluran udara tegangan tinggi dapat terpengaruh. Foto/Ist
JAKARTA - Badai Matahari menghantam Bumi selama akhir pekan, dan ada kemungkinan badai lain akan menyerang. Jika badai lain melanda, sistem saluran udara tegangan tinggi dapat terpengaruh, yang berpotensi menyebabkan masalah pada jaringan listrik dan perangkat GPS.
Pusat Prediksi Cuaca Antariksa Administrasi Kelautan dan Atmosfer (Nasional National Oceanic and Atmospheric Administration/NOAA) mengklasifikasikan badai matahari ini kategori sedang. Badai geomagnetik G2, yang menghantam Bumi pada Minggu 7 Agustus 2022, adalah hasil dari angin atau partikel bermuatan dari matahari, menabrak medan magnet bumi.
Ketua Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin mengatakan bahwa fenomena tersebut terjadi akibat kondisi ekstrem di antariksa ketika terjadi letupan (flare) di Matahari yang kemudian melontarkan partikel berenergi tinggi (CME).
“Badai matahari berpotensi menggangu satelit. Di bumi dampak paling besar dirasakan di wilayah dekat Kutub. Dalam kondisi ekstrem, badai matahari bisa menyebabkan induksi pada jaringan listrik yang menyebabkan trafo terbakar,” katanya kepada MPI, Selasa (16/8/2022).
Baca juga; Badai Matahari Menghantam selama Akhir Pekan
Hal tersebut menurut dia pernah terjadi pada tahun 1989 di Kanada. Pada saat itu, badai matahari sempat membuat jaringan listrik di negara tersebut mati di sebagian wilayahnya.
Pusat Prediksi Cuaca Antariksa Administrasi Kelautan dan Atmosfer (Nasional National Oceanic and Atmospheric Administration/NOAA) mengklasifikasikan badai matahari ini kategori sedang. Badai geomagnetik G2, yang menghantam Bumi pada Minggu 7 Agustus 2022, adalah hasil dari angin atau partikel bermuatan dari matahari, menabrak medan magnet bumi.
Ketua Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin mengatakan bahwa fenomena tersebut terjadi akibat kondisi ekstrem di antariksa ketika terjadi letupan (flare) di Matahari yang kemudian melontarkan partikel berenergi tinggi (CME).
“Badai matahari berpotensi menggangu satelit. Di bumi dampak paling besar dirasakan di wilayah dekat Kutub. Dalam kondisi ekstrem, badai matahari bisa menyebabkan induksi pada jaringan listrik yang menyebabkan trafo terbakar,” katanya kepada MPI, Selasa (16/8/2022).
Baca juga; Badai Matahari Menghantam selama Akhir Pekan
Hal tersebut menurut dia pernah terjadi pada tahun 1989 di Kanada. Pada saat itu, badai matahari sempat membuat jaringan listrik di negara tersebut mati di sebagian wilayahnya.
Lihat Juga :