RECOFTC Bantu Petani Kopi Kompetitif dengan Tetap Menjaga Hutan
Kamis, 21 Juli 2022 - 04:18 WIB
Kopi Bantaeng ditanam di dataran tinggi, di hutan-hutan di kaki gunung Moncong Lompobatang. Selama satu dekade, RECOFTC bersama petani Bantaeng mengembangkan pertanian berkelanjutan di hutan setempat.
RECOFTC menjadi jantung upaya pemberdayaan masyarakat dan hutan desa. Dengan dukungan RECOFTC, masyarakat mendapat keleluasaan yang lebih besar dari pemerintah untuk mengelola hutan melalui izin hutan desa sehingga mereka cukup mengandalkan dari hasil hutan untuk bertahan hidup.
“RECOFTC adalah lembaga pelatihan dan pemberdayaan di tingkat Asia Pasifik yang telah beroperasi di 7 negara termasuk Indonesia selama 30 tahun. RECOFTC percaya bahwa hutan dan lanskap dapat tumbuh secara berkelanjutan dan berkeadilan jika masyarakat mendapatkan manfaat dari pengelolaan hutan,” kata Gamma Galudra, Direktur RECOFTC Indonesia.
Pada 2010, RECOFTC berkolaborasi dengan Universitas Hasanuddin dan sejumlah institusi lain untuk menyelenggarakan pelatihan wanatani bagi petani kopi Bantaeng. Di sini petani mulai mengenal cara-cara mengolah lahan secara berkelanjutan yang mendorong perbaikan bentang alam, sekaligus meningkatkan pendapatan.
Berbekal pengetahuan baru tentang wanatani dan kewirausahaan, petani kopi di Bantaeng kini mengubah cara mereka berinteraksi dengan 700 hektar lahan tempat mereka bekerja dan dengan hutan di sekitarnya. Mereka mempelajari diversifikasi tanaman agar lebih tahan menghadapi ancaman banjir dan kekeringan.
Angka perubahan tutupan hutan menjadi monokultur pun berkurang karena masyarakat merasa cukup mengandalkan hasil hutan dari wilayah yang dikelolanya dan tidak berusaha membuka hutan untuk lahan baru. Wanatani (atau sistem agroforestri) membuat masyarakat tidak mengusik hutan. Pada saat yang sama, kemampuan warga untuk mengelola hutan kopi pun berkembang, kualitas yang dihasilkan juga makin baik.
RECOFTC menjadi jantung upaya pemberdayaan masyarakat dan hutan desa. Dengan dukungan RECOFTC, masyarakat mendapat keleluasaan yang lebih besar dari pemerintah untuk mengelola hutan melalui izin hutan desa sehingga mereka cukup mengandalkan dari hasil hutan untuk bertahan hidup.
“RECOFTC adalah lembaga pelatihan dan pemberdayaan di tingkat Asia Pasifik yang telah beroperasi di 7 negara termasuk Indonesia selama 30 tahun. RECOFTC percaya bahwa hutan dan lanskap dapat tumbuh secara berkelanjutan dan berkeadilan jika masyarakat mendapatkan manfaat dari pengelolaan hutan,” kata Gamma Galudra, Direktur RECOFTC Indonesia.
Pada 2010, RECOFTC berkolaborasi dengan Universitas Hasanuddin dan sejumlah institusi lain untuk menyelenggarakan pelatihan wanatani bagi petani kopi Bantaeng. Di sini petani mulai mengenal cara-cara mengolah lahan secara berkelanjutan yang mendorong perbaikan bentang alam, sekaligus meningkatkan pendapatan.
Berbekal pengetahuan baru tentang wanatani dan kewirausahaan, petani kopi di Bantaeng kini mengubah cara mereka berinteraksi dengan 700 hektar lahan tempat mereka bekerja dan dengan hutan di sekitarnya. Mereka mempelajari diversifikasi tanaman agar lebih tahan menghadapi ancaman banjir dan kekeringan.
Angka perubahan tutupan hutan menjadi monokultur pun berkurang karena masyarakat merasa cukup mengandalkan hasil hutan dari wilayah yang dikelolanya dan tidak berusaha membuka hutan untuk lahan baru. Wanatani (atau sistem agroforestri) membuat masyarakat tidak mengusik hutan. Pada saat yang sama, kemampuan warga untuk mengelola hutan kopi pun berkembang, kualitas yang dihasilkan juga makin baik.
Lihat Juga :