Pesawat Listrik eCaravan, Terbang Setengah Jam Habiskan Rp84.000
Senin, 22 Juni 2020 - 06:53 WIB
Senada dengan Susan, Duncan Walker dari Loughborough University mengatakan bahan bakar konvensional lebih efisien dari segi bentuk dan beban. Dia juga memperhitungkan Airbus A380 hanya akan bisa terbang sejauh 1.000 kilometer menggunakan baterai kontra 15.000 kilometer menggunakan kerosin.
“Untuk melakukan penerbangan tersebut, pesawat A380 akan memiliki berat 30 kali lipat dibandingkan menggunakan bahan bakar konvensional,” kata Walker. Dengan demikian, para ahli memperkirakan penggunaan baterai kemungkinan hanya dapat diterapkan di dalam pesawat kecil dan dalam perjalanan jarak dekat.
Sebelumnya perusahaan startup asal AS, Ampaire, juga telah melakukan uji coba penerbangan pesawat listrik hibrida, Electric EEL, di jalur penerbangan komersial di Hawaii. Electric EEL dilengkapi dua mesin kembar Cessna 337 Skymaster, yakni mesin konvensional dan listrik. Kedua mesin itu bekerja secara paralel.
Chief Executive Officer (CEO) Ampaire, Kevin Noertker, mengatakan pengenalan dan pemasaran pesawat listrik hibrida diharapkan dapat mengganti pesawat konvensional secara berangsur-angsur sebelum inovasi daya listrik penuh diciptakan. Tujuannya agar moda transportasi udara lebih ramah lingkungan. (Baca juga: Kaum Adam bereran besar terhadap ledakan Kehamilan Tak Direncanakan)
“Cara paling praktis untuk meraih masa depan bebas fosil ialah dengan mulai memasarkan teknologi listrik hibrida,” ujar Noertker, dikutip CNN. “Kami sedang mengejar perluasan dan komersialisasi pasar pesawat listrik secara bertahap. Pendekatan ini akan menguras banyak waktu dan dana ratusan juta dolar.”
Electric EEL mampu memangkas konsumsi bahan bakar 50% dan mengurangi emisi. Di masa depan, baterai listrik diyakini akan mengalami kemajuan amat pesat. Saat ini daya dan kekuatan baterai yang tersedia tidak kuat untuk mengangkat pesawat besar sehingga teknologi ini terbatas pada pesawat kecil.
“Untuk melakukan penerbangan tersebut, pesawat A380 akan memiliki berat 30 kali lipat dibandingkan menggunakan bahan bakar konvensional,” kata Walker. Dengan demikian, para ahli memperkirakan penggunaan baterai kemungkinan hanya dapat diterapkan di dalam pesawat kecil dan dalam perjalanan jarak dekat.
Sebelumnya perusahaan startup asal AS, Ampaire, juga telah melakukan uji coba penerbangan pesawat listrik hibrida, Electric EEL, di jalur penerbangan komersial di Hawaii. Electric EEL dilengkapi dua mesin kembar Cessna 337 Skymaster, yakni mesin konvensional dan listrik. Kedua mesin itu bekerja secara paralel.
Chief Executive Officer (CEO) Ampaire, Kevin Noertker, mengatakan pengenalan dan pemasaran pesawat listrik hibrida diharapkan dapat mengganti pesawat konvensional secara berangsur-angsur sebelum inovasi daya listrik penuh diciptakan. Tujuannya agar moda transportasi udara lebih ramah lingkungan. (Baca juga: Kaum Adam bereran besar terhadap ledakan Kehamilan Tak Direncanakan)
“Cara paling praktis untuk meraih masa depan bebas fosil ialah dengan mulai memasarkan teknologi listrik hibrida,” ujar Noertker, dikutip CNN. “Kami sedang mengejar perluasan dan komersialisasi pasar pesawat listrik secara bertahap. Pendekatan ini akan menguras banyak waktu dan dana ratusan juta dolar.”
Electric EEL mampu memangkas konsumsi bahan bakar 50% dan mengurangi emisi. Di masa depan, baterai listrik diyakini akan mengalami kemajuan amat pesat. Saat ini daya dan kekuatan baterai yang tersedia tidak kuat untuk mengangkat pesawat besar sehingga teknologi ini terbatas pada pesawat kecil.
Lihat Juga :