Peneliti Korea Selatan Klaim Bisa Deteksi Covid-19 Omicron dalam 20 Menit
Jum'at, 17 Desember 2021 - 17:04 WIB
Keunggulan metode dari Korea Selatan ini tidak memperlukan alat khusus. Foto: ist
JAKARTA - Tim peneliti dari Korea Selatan mengklaim sedang mengembangkan teknologi baru yang bisa mendeteksi varian Covid-19 Omicron hanya dalam 20-30 menit.
Menurut laporan kantor berita ANI, tim peneliti yang dipimpin oleh profesor Lee Jung-wook dari Pohang University of Science and Technology mengumumkan bahwa mereka berhasil mengembangkan diagnosa molekuler yang dapat mendeteksi varian Omicron yang diklaim memiliki 30 mutasi itu.
BACA JUGA: Hadapi Omicron, Inggris Andalkan Vaksin Booster
Metode tersebut diklaim jauh lebih efektif dibanding tes PCR yang sudah ada. Sebab, tes PCR saat ini tidak bisa mendeteksi varian Omicron tertentu.
”Di kasus Omicron, ada genom N dan genom S yang sama-sama positif, sehingga sangat sulit dikenali dan dibedakan dari varian lainnya,” beber Lee.
Jika tes PCR biasa hanya memindai beberapa area tertentu di virus, teknologi diagonisa molekuler yang dikembangkan oleh Lee diklaim mempu membuat reaksi pengikat asam nukleat hanya ketika RNA Covid-19 ditemukan. ”Sehingga memungkinkan deteksi cepat,” ujar Lee lagi.
Menurut laporan kantor berita ANI, tim peneliti yang dipimpin oleh profesor Lee Jung-wook dari Pohang University of Science and Technology mengumumkan bahwa mereka berhasil mengembangkan diagnosa molekuler yang dapat mendeteksi varian Omicron yang diklaim memiliki 30 mutasi itu.
BACA JUGA: Hadapi Omicron, Inggris Andalkan Vaksin Booster
Metode tersebut diklaim jauh lebih efektif dibanding tes PCR yang sudah ada. Sebab, tes PCR saat ini tidak bisa mendeteksi varian Omicron tertentu.
”Di kasus Omicron, ada genom N dan genom S yang sama-sama positif, sehingga sangat sulit dikenali dan dibedakan dari varian lainnya,” beber Lee.
Jika tes PCR biasa hanya memindai beberapa area tertentu di virus, teknologi diagonisa molekuler yang dikembangkan oleh Lee diklaim mempu membuat reaksi pengikat asam nukleat hanya ketika RNA Covid-19 ditemukan. ”Sehingga memungkinkan deteksi cepat,” ujar Lee lagi.
Lihat Juga :