Begini Penjelasan Ilmiah saat Kita Jatuh Cinta Menurut Sains

Senin, 15 Februari 2021 - 23:02 WIB
Misalnya kebahagiaan, komitmen kepada pasangan dan kepuasan hubungan masing-masing terkait dengan intensitas aktivasi otak.

Pengaruh Hormonal

Oksitosin dan vasopresin adalah hormon yang paling dekat hubungannya dengan cinta romantis. Mereka diproduksi oleh hipotalamus dan dilepaskan oleh kelenjar pituitari. Sementara pria dan wanita sama-sama dipengaruhi oleh oksitosin dan vasopresin, wanita lebih sensitif terhadap oksitosin dan pria lebih sensitif terhadap vasopresin.

Konsentrasi oksitosin dan vasopresin meningkat selama tahap intens cinta romantis. Hormon-hormon ini bekerja pada banyak sistem di dalam otak dan reseptor hadir di sejumlah area otak yang berhubungan dengan cinta romantis. Secara khusus, oksitosin dan vasporessin berinteraksi dengan sistem penghargaan dopaminergik dan dapat merangsang pelepasan dopamin oleh hipotalamus.

Jalur dopaminergik yang diaktifkan selama cinta romantis menciptakan perasaan menyenangkan yang bermanfaat. Jalur tersebut juga dikaitkan dengan perilaku adiktif, konsisten dengan perilaku obsesif dan ketergantungan emosional yang sering diamati pada tahap awal cinta romantis.

Para peneliti sering menyelidiki pengaruh oksitosin dan vasopresin pada hewan non-manusia seperti padang rumput dan tikus gunung. Jelas didokumentasikan bahwa tikus padang rumput (yang membentuk hubungan seumur hidup monogami yang dikenal sebagai ikatan berpasangan) memiliki kepadatan reseptor oksitosin dan vasopresin yang jauh lebih tinggi daripada tikus gunung promiscuous, terutama dalam sistem penghargaan dopamin.

Selanjutnya, tikus padang rumput menjadi promiscuous ketika pelepasan oksitosin dan vasopresin diblokir. Bersama-sama, temuan ini menyoroti cara aktivitas hormon dapat memfasilitasi (atau menghalangi) pembentukan hubungan yang erat.

Cinta dan Kehilangan
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!