BSSN dan Huawei Kerja Bareng Deteksi Keamanan Siber Sejak Dini
Jum'at, 22 Januari 2021 - 23:45 WIB
BSSN terus berupaya memerangi kejahatan dan serangan siber yang jumlahnya mencapai ratusan ribu serangan pada tahun lalu. Foto/Ist
DENPASAR - Honeynet Project merupakan program penuh komitmen BSSN guna memperkuat ketahanan nasional. Sekaligus, meningkatkan kapabilitas aparat pemerintah daerah (pemda) di bidang keamanan siber.
Sebagai bagian dari program itu, Badan Sandi dan Siber Negara (BSSN) bersama Huawei Indonesia mengadakan lokakarya mengusung tema ‘Peran Honeynet Pada Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE)’. Lokakarya secara luring dengan jumlah terbatas dengan mengedepankan protokol kesehatan tersebut menghadirkan Deputi I Bidang Identifikasi Dan Deteksi BSSN Irjen Pol Dono Indarto, Direktur Deteksi Ancaman BSSN Sulistyo, Vice President Public Affairs and Communications Huawei Indonesia Ken Qi, dan Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Provinsi Bali I Wayan Suarjana sebagai pembicara utama. Baca juga: Tingkatkan Keamanan Siber Nasional, BSSN Susun Draft SKSN
Irjen Pol Dono Indarto, mengatakan, keamanan siber telah menjadi isu penting seiring dengan tingginya penggunaan teknologi, informasi dan komunikasi (TIK) yang telah mendorong peningkatan frekuensi ancaman serta serangan siber. Diingatkannya, keamanan siber menjadi tanggung jawab seluruh komponen, baik pemerintah, swasta, akademia maupun publik, mengingat potensi terjadinya ancaman siber makin meningkat. Jadi diperlukan keseriusan dan kepedulian semua pihak dalam menyikapinya.
Berdasarkan data hasil pemantauan layanan Honeynet BSSN sepanjang tahun 2020 yang tersebar di 71 titik yang meliputi sektor pemerintah, IIKN dan akademik, telah terjadi 246.432.010 serangan siber dan 190.599 serangan malware. Oleh karena itu, untuk menjamin keberlangsungan pelaksanaan SPBE dan optimalisasi keamanannya, diperlukan kemampuan mengelola keamanan informasi untuk meminimalkan dampak risiko keamanan informasi seperti yang tertuang pada Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2018.
Sebagai bagian dari program itu, Badan Sandi dan Siber Negara (BSSN) bersama Huawei Indonesia mengadakan lokakarya mengusung tema ‘Peran Honeynet Pada Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE)’. Lokakarya secara luring dengan jumlah terbatas dengan mengedepankan protokol kesehatan tersebut menghadirkan Deputi I Bidang Identifikasi Dan Deteksi BSSN Irjen Pol Dono Indarto, Direktur Deteksi Ancaman BSSN Sulistyo, Vice President Public Affairs and Communications Huawei Indonesia Ken Qi, dan Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Provinsi Bali I Wayan Suarjana sebagai pembicara utama. Baca juga: Tingkatkan Keamanan Siber Nasional, BSSN Susun Draft SKSN
Irjen Pol Dono Indarto, mengatakan, keamanan siber telah menjadi isu penting seiring dengan tingginya penggunaan teknologi, informasi dan komunikasi (TIK) yang telah mendorong peningkatan frekuensi ancaman serta serangan siber. Diingatkannya, keamanan siber menjadi tanggung jawab seluruh komponen, baik pemerintah, swasta, akademia maupun publik, mengingat potensi terjadinya ancaman siber makin meningkat. Jadi diperlukan keseriusan dan kepedulian semua pihak dalam menyikapinya.
Berdasarkan data hasil pemantauan layanan Honeynet BSSN sepanjang tahun 2020 yang tersebar di 71 titik yang meliputi sektor pemerintah, IIKN dan akademik, telah terjadi 246.432.010 serangan siber dan 190.599 serangan malware. Oleh karena itu, untuk menjamin keberlangsungan pelaksanaan SPBE dan optimalisasi keamanannya, diperlukan kemampuan mengelola keamanan informasi untuk meminimalkan dampak risiko keamanan informasi seperti yang tertuang pada Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2018.
Lihat Juga :