Bisnis Co-Living Didukung Teknologi Diramalkan Bakal Cerah

Rabu, 06 Mei 2020 - 20:49 WIB
Namun dengan segala peristiwa yang terjadi baru-baru ini, para pekerja jarak jauh bisa saja terbuka matanya untuk mencari pilihan tempat tinggal lain yang juga dapat menghadirkan fasilitas serta nuansa komunitas. Keyakinan tersebut didorong oleh hasil survei Buffer pada tahun 2019 yang menyatakan 84% pekerja jarak jauh nyatanya masih memilih untuk melakukannya di rumah mereka.

Dari situ, ‘saudara jauh’ co-working, yakni co-living, bisa menjadi suatu tren baru di masa mendatang. Sebab menyediakan ‘kombinasi’ sesuai bagi populasi pekerja jarak jauh yang sedang bertumbuh pesat.

Sebagai pekerja digital media lepas di Jakarta, Fati (24) memiliki kebebasan untuk memilih tempat kerjanya. Dia memutuskan menyewa ruang co-working di Mega Kuningan.

Pilihan tersebut didasari oleh adanya kemungkinan untuk melakukan networking, hingga tersedianya acara mingguan hingga fasilitas macam WiFi berkecepatan tinggi. Sebelum pemerintah mendorong warganya untuk bekerja dari rumah pada awal Maret, Fati biasa menghabiskan 15 menit waktu perjalanan ke tempat kerja dari huniannya di kawasan Setiabudi yang disewa dari operator co-living berbasis teknologi, Flokq.

Selama pandemik, dia melakukan seluruh pekerjaan dari ruang co-living-nya. Fati sama sekali tidak kehilangan segala kelebihan yang biasa dirasakan di tempat kerjanya.

“Beberapa waktu terakhir, aku meluangkan lebih banyak waktu di apartemenku. Flokq menyediakan internet yang cepat, dan aku juga merasa mudah melakukan pekerjaan di ruang komunal bersama teman-teman flat. Ini terasa nyaman, dan sepertinya aku akan melanjutkan gaya kerja seperti ini bahkan setelah pandemik selesai,” tutur Fati.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!