Bukan Cuma Otomatisasi, Fitur AI Mekari Talenta Dorong HR Jadi Mitra Strategis Bisnis
Sabtu, 18 Juli 2026 - 16:24 WIB
Foto: Doc. Istimewa
Mekari Talenta, Cloud HCM Software dari ekosistem Mekari, memperluas kapabilitas kecerdasan buatannya untuk membantu tim HR di Indonesia keluar dari lingkaran kerja administratif dan mengambil peran yang lebih strategis yang berkontribusi langsung dalam keputusan bisnis.
Tekanan ke arah sana semakin nyata. Profesi HR hari ini dituntut menjalankan dua peran sekaligus: menjaga roda operasional tetap berputar (mulai dari payroll, absensi, hingga reimbursement) sekaligus tampil sebagai mitra strategis yang turut menentukan arah keputusan bisnis terkait produktivitas, risiko turnover, dan kualitas talent. Bedanya, peran kedua ini tidak lagi cukup dijalankan lewat laporan bulanan atau insting semata; manajemen kini mengharapkan HR hadir dengan data dan rekomendasi yang bisa langsung dieksekusi, bukan sekadar informasi pendukung. Sementara itu, jumlah staf HR di banyak perusahaan tetap terbatas, dan ekspektasi karyawan generasi milenial dan Gen Z terhadap pengalaman kerja terus meningkat, membuat AI bukan lagi sekadar alat bantu administratif, melainkan bagian aktif dari proses pengambilan keputusan itu sendiri.
Riset PwC Global Workforce Hopes & Fears Survey 2025 menunjukkan bahwa 69 persen pekerja di Indonesia mengaku pernah menggunakan AI untuk pekerjaannya dalam setahun terakhir, lebih tinggi dari rata-rata global sebesar 54 persen. Namun, penggunaan harian masih terbatas, hanya 16 persen tenaga kerja Indonesia yang menggunakan AI generatif setiap hari, mengindikasikan bahwa potensi AI di tempat kerja baru tersentuh permukaannya. Kesenjangan ini juga terlihat dari sisi akses pembelajaran: 89 persen eksekutif senior di Indonesia merasa memiliki akses ke sumber daya pelatihan yang mereka butuhkan, dibanding hanya 64 persen pada level non-manajer
Di tingkat global, Gartner dalam Hype Cycle for AI in Human Resources 2025 mencatat bahwa hampir separuh inovasi AI di HR masih berada pada tahap awal "innovation trigger" dengan kegunaan dan kelayakan komersial yang belum teruji secara luas, dan merekomendasikan organisasi HR memprioritaskan adopsi yang terstruktur pada solusi yang sudah matang seperti AI dalam talent acquisition, sambil menjajaki inovasi seperti AI agent secara bertahap.
Sejalan dengan itu, Mercer dalam Global Talent Trends 2026, survei terhadap hampir 12.000 eksekutif C-suite, pemimpin HR, investor, dan karyawan secara global, menemukan bahwa prioritas utama C-suite dalam hal return-on-investment adalah mendesain ulang pekerjaan untuk mengintegrasikan AI dan otomatisasi (63%), sementara prioritas utama HR justru pada peningkatan employee experience untuk menarik dan mempertahankan talenta terbaik, menunjukkan adanya kesenjangan keselarasan antara C-Suite dan HR dalam hal apa yang sebenarnya mendorong performa. Lebih jauh, C-suite kini justru kurang yakin organisasinya siap menghadapi era human-machine, turun dari 65% pada 2024 menjadi hanya 51% pada 2026.
Menjawab kesenjangan ini, Mekari Talenta menghadirkan serangkaian kapabilitas AI baru melalui Mekari Airene yang langsung tertanam dalam alur kerja HR sehari-hari.
Yang Berubah di Meja Kerja HR
Dengan Mekari Airene di dalam Mekari Talenta, banyak pekerjaan harian HR yang dulu makan waktu kini berjalan otomatis di latar belakang : dari rekrutmen, absensi, hingga reimbursement:
-Mekari Airene HR Copilot. Asisten HR berbasis AI yang menjawab pertanyaan tim HR dalam Bahasa Indonesia, lengkap dengan data, visualisasi, dan rekomendasi. Pertanyaan seperti "Cabang mana dengan THP terbesar bulan lalu?" atau "Departemen mana yang paling sering lembur kuartal ini?" dijawab dalam hitungan detik, tanpa perlu membuka report builder.
-Mekari Airene Performance Review Summarization. Merangkum hasil review dari berbagai reviewer menjadi insight yang siap dibaca manajer dan tim talent development, memangkas waktu summary hingga 70 persen sehingga membantu membuat perencanaan pengembangan karyawan selanjutnya dengan lebih tepat.
Tekanan ke arah sana semakin nyata. Profesi HR hari ini dituntut menjalankan dua peran sekaligus: menjaga roda operasional tetap berputar (mulai dari payroll, absensi, hingga reimbursement) sekaligus tampil sebagai mitra strategis yang turut menentukan arah keputusan bisnis terkait produktivitas, risiko turnover, dan kualitas talent. Bedanya, peran kedua ini tidak lagi cukup dijalankan lewat laporan bulanan atau insting semata; manajemen kini mengharapkan HR hadir dengan data dan rekomendasi yang bisa langsung dieksekusi, bukan sekadar informasi pendukung. Sementara itu, jumlah staf HR di banyak perusahaan tetap terbatas, dan ekspektasi karyawan generasi milenial dan Gen Z terhadap pengalaman kerja terus meningkat, membuat AI bukan lagi sekadar alat bantu administratif, melainkan bagian aktif dari proses pengambilan keputusan itu sendiri.
Riset PwC Global Workforce Hopes & Fears Survey 2025 menunjukkan bahwa 69 persen pekerja di Indonesia mengaku pernah menggunakan AI untuk pekerjaannya dalam setahun terakhir, lebih tinggi dari rata-rata global sebesar 54 persen. Namun, penggunaan harian masih terbatas, hanya 16 persen tenaga kerja Indonesia yang menggunakan AI generatif setiap hari, mengindikasikan bahwa potensi AI di tempat kerja baru tersentuh permukaannya. Kesenjangan ini juga terlihat dari sisi akses pembelajaran: 89 persen eksekutif senior di Indonesia merasa memiliki akses ke sumber daya pelatihan yang mereka butuhkan, dibanding hanya 64 persen pada level non-manajer
Di tingkat global, Gartner dalam Hype Cycle for AI in Human Resources 2025 mencatat bahwa hampir separuh inovasi AI di HR masih berada pada tahap awal "innovation trigger" dengan kegunaan dan kelayakan komersial yang belum teruji secara luas, dan merekomendasikan organisasi HR memprioritaskan adopsi yang terstruktur pada solusi yang sudah matang seperti AI dalam talent acquisition, sambil menjajaki inovasi seperti AI agent secara bertahap.
Sejalan dengan itu, Mercer dalam Global Talent Trends 2026, survei terhadap hampir 12.000 eksekutif C-suite, pemimpin HR, investor, dan karyawan secara global, menemukan bahwa prioritas utama C-suite dalam hal return-on-investment adalah mendesain ulang pekerjaan untuk mengintegrasikan AI dan otomatisasi (63%), sementara prioritas utama HR justru pada peningkatan employee experience untuk menarik dan mempertahankan talenta terbaik, menunjukkan adanya kesenjangan keselarasan antara C-Suite dan HR dalam hal apa yang sebenarnya mendorong performa. Lebih jauh, C-suite kini justru kurang yakin organisasinya siap menghadapi era human-machine, turun dari 65% pada 2024 menjadi hanya 51% pada 2026.
Menjawab kesenjangan ini, Mekari Talenta menghadirkan serangkaian kapabilitas AI baru melalui Mekari Airene yang langsung tertanam dalam alur kerja HR sehari-hari.
Yang Berubah di Meja Kerja HR
Dengan Mekari Airene di dalam Mekari Talenta, banyak pekerjaan harian HR yang dulu makan waktu kini berjalan otomatis di latar belakang : dari rekrutmen, absensi, hingga reimbursement:
-Mekari Airene HR Copilot. Asisten HR berbasis AI yang menjawab pertanyaan tim HR dalam Bahasa Indonesia, lengkap dengan data, visualisasi, dan rekomendasi. Pertanyaan seperti "Cabang mana dengan THP terbesar bulan lalu?" atau "Departemen mana yang paling sering lembur kuartal ini?" dijawab dalam hitungan detik, tanpa perlu membuka report builder.
-Mekari Airene Performance Review Summarization. Merangkum hasil review dari berbagai reviewer menjadi insight yang siap dibaca manajer dan tim talent development, memangkas waktu summary hingga 70 persen sehingga membantu membuat perencanaan pengembangan karyawan selanjutnya dengan lebih tepat.
Lihat Juga :