Ilmuwan Pastikan AI Belum Bisa Kalahkan Teori Soal Iklim

Selasa, 09 Juni 2026 - 07:41 WIB
.

Namun, kelemahan utama pembelajaran mesin adalah ketergantungannya pada data pelatihan. Jika peristiwa cuaca ekstrem tidak cukup sering terjadi dalam data masa lalu, model tersebut mungkin meremehkan frekuensi atau intensitasnya. Ini merupakan masalah penting karena prediksi akurat tentang peristiwa ekstrem memiliki implikasi langsung terhadap keselamatan manusia.

Dalam pemodelan iklim, para ilmuwan lebih berhati-hati. Iklim bukan hanya tentang memprediksi cuaca untuk beberapa jam atau hari ke depan, tetapi juga menimbulkan pertanyaan jangka panjang seperti bagaimana perubahan kadar CO2 akan memengaruhi sistem iklim. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dapat dijawab hanya dari data historis, sehingga hukum fisika tetap menjadi inti.

Beberapa kelompok penelitian sedang mengembangkan model iklim hibrida, yang menggabungkan perhitungan fisika dengan komponen pembelajaran mesin. Pendekatan ini meningkatkan efisiensi komputasi di area tertentu, seperti simulasi salju, awan, es laut, atau siklus laut, sambil tetap mempertahankan batasan fisik untuk menghindari hasil yang tidak logis.

Para ilmuwan juga menekankan sifat "kotak hitam" dari pembelajaran mesin, karena tidak selalu jelas mengapa model tersebut menghasilkan hasil tertentu. Oleh karena itu, AI dipandang sebagai alat pelengkap yang penting, bukan sebagai pengganti sepenuhnya untuk ilmu iklim tradisional.
(wbs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!