Iran Siap Serang Google, YouTube, dan Microsoft
Kamis, 12 Maret 2026 - 12:04 WIB
Lokasi-lokasi yang tercantum mencakup kantor dan infrastruktur cloud di beberapa kota Israel dan di beberapa negara Teluk.
Sebelumnya,Kelompok peretas yang diduga terkait pemerintah Iran dilaporkan berhasil menyusup ke sejumlah jaringan penting di Amerika Serikat (AS), termasuk sistem bank dan bandara. Serangan siber ini dilakukan dengan menanamkan backdoor atau akses tersembunyi yang memungkinkan pelaku memantau dan mengendalikan sistem korban dari jarak jauh.
Laporan tersebut diungkap dalam artikel yang dipublikasikan oleh media teknologi keamanan The Register. Serangan dikaitkan dengan kelompok peretas bernama MuddyWater, yang diketahui berafiliasi dengan Ministry of Intelligence and Security Iran (MOIS).
Kelompok MuddyWater sendiri dikenal sebagai salah satu aktor siber yang aktif melakukan operasi spionase digital terhadap berbagai sektor strategis. Sejak sekitar 2017, kelompok ini kerap menargetkan pemerintah, sektor telekomunikasi, lembaga keuangan, serta infrastruktur penting di berbagai negara.
Para peneliti memperingatkan bahwa keberadaan backdoor pada jaringan kritikal dapat menimbulkan risiko keamanan serius. Selain memungkinkan pencurian data, akses tersebut juga berpotensi dimanfaatkan untuk operasi siber lanjutan, termasuk sabotase sistem atau pengumpulan intelijen jangka panjang.
Sebelumnya,Kelompok peretas yang diduga terkait pemerintah Iran dilaporkan berhasil menyusup ke sejumlah jaringan penting di Amerika Serikat (AS), termasuk sistem bank dan bandara. Serangan siber ini dilakukan dengan menanamkan backdoor atau akses tersembunyi yang memungkinkan pelaku memantau dan mengendalikan sistem korban dari jarak jauh.
Laporan tersebut diungkap dalam artikel yang dipublikasikan oleh media teknologi keamanan The Register. Serangan dikaitkan dengan kelompok peretas bernama MuddyWater, yang diketahui berafiliasi dengan Ministry of Intelligence and Security Iran (MOIS).
Kelompok MuddyWater sendiri dikenal sebagai salah satu aktor siber yang aktif melakukan operasi spionase digital terhadap berbagai sektor strategis. Sejak sekitar 2017, kelompok ini kerap menargetkan pemerintah, sektor telekomunikasi, lembaga keuangan, serta infrastruktur penting di berbagai negara.
Para peneliti memperingatkan bahwa keberadaan backdoor pada jaringan kritikal dapat menimbulkan risiko keamanan serius. Selain memungkinkan pencurian data, akses tersebut juga berpotensi dimanfaatkan untuk operasi siber lanjutan, termasuk sabotase sistem atau pengumpulan intelijen jangka panjang.
(wbs)
Lihat Juga :