Gelombang AI, AS Khawatir Melihat Asia Lebih Berkembang
Senin, 03 November 2025 - 12:13 WIB
Selama setahun terakhir, belanja modal perusahaan teknologi telah meningkat antara 70 dan 100 persen, mendorong permintaan energi, infrastruktur digital, dan komponen elektronik, terutama semikonduktor, yang merupakan ‘otak’ utama teknologi AI.
Di Wall Street, lonjakan harga saham teknologi telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor, terutama tentang apakah kenaikan tersebut didukung oleh basis pendapatan riil atau hanya euforia pasar.
Indeks Nasdaq telah melonjak lebih dari 40 persen dalam dua tahun terakhir, sementara laporan Gartner memproyeksikan investasi global di sektor AI akan mencapai US$1,5 triliun tahun ini.
Namun, imbal hasil rata-rata pada sebagian besar proyek tahap awal masih rendah, di bawah 10 persen, yang menunjukkan bahwa laba aktual belum sejalan dengan jumlah investasi.
“Pasar kini sedang menilai kembali realitas di balik euforia AI. Mungkin belum mencapai level gelembung penuh, tetapi tanda-tanda investasi berlebih mulai terlihat,” jelas Sedek.
Meskipun fundamental keuangan perusahaan teknologi saat ini jauh lebih kuat daripada saat gelembung dot-com tahun 2000, sejarah menunjukkan bahwa berinvestasi terlalu banyak pada satu tema dapat memicu koreksi pasar yang tiba-tiba.
Ketika saham teknologi AS anjlok pada akhir Oktober, dampaknya langsung terasa di Asia, dengan indeks-indeks utama di Korea, Taiwan, dan Malaysia masing-masing turun antara 2 dan 3 persen, mencerminkan keterkaitan kawasan ini dengan ekosistem global.
Di Wall Street, lonjakan harga saham teknologi telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor, terutama tentang apakah kenaikan tersebut didukung oleh basis pendapatan riil atau hanya euforia pasar.
Indeks Nasdaq telah melonjak lebih dari 40 persen dalam dua tahun terakhir, sementara laporan Gartner memproyeksikan investasi global di sektor AI akan mencapai US$1,5 triliun tahun ini.
Namun, imbal hasil rata-rata pada sebagian besar proyek tahap awal masih rendah, di bawah 10 persen, yang menunjukkan bahwa laba aktual belum sejalan dengan jumlah investasi.
“Pasar kini sedang menilai kembali realitas di balik euforia AI. Mungkin belum mencapai level gelembung penuh, tetapi tanda-tanda investasi berlebih mulai terlihat,” jelas Sedek.
Meskipun fundamental keuangan perusahaan teknologi saat ini jauh lebih kuat daripada saat gelembung dot-com tahun 2000, sejarah menunjukkan bahwa berinvestasi terlalu banyak pada satu tema dapat memicu koreksi pasar yang tiba-tiba.
Ketika saham teknologi AS anjlok pada akhir Oktober, dampaknya langsung terasa di Asia, dengan indeks-indeks utama di Korea, Taiwan, dan Malaysia masing-masing turun antara 2 dan 3 persen, mencerminkan keterkaitan kawasan ini dengan ekosistem global.
Lihat Juga :