Paradoks Laptop Murah: Mengapa Chromebook yang Merajai Sekolah Negara Maju Justru Melukai Pendidikan di Indonesia?

Sabtu, 06 September 2025 - 10:30 WIB
Tanpa koneksi internet yang stabil dan cepat, sebuah Chromebook secara drastis kehilangan fungsinya. Inilah jurang pemisah antara negara maju dan Indonesia. Sementara siswa di Tokyo bisa mengandalkan Wi-Fi di setiap sudut, jutaan siswa di Indonesia berjuang untuk sekadar mendapatkan satu bar sinyal.

Data dari Center of Economics and Law Studies (CELIOS) melukiskan gambaran yang suram. Direktur Ekonomi Digital Celios, Nailul Huda, mengungkapkan fakta yang menohok: pada 2021, hanya sekitar 17% hingga 20% desa di wilayah Maluku dan Papua yang memiliki akses internet berkualitas baik.

"Ini tercermin juga sebenarnya dari data BPS, yang menyebutkan untuk provinsi yang masih melakukan penjualan secara online, di Papua, di Maluku, dan Indonesia Timur itu masih relatif sekitar di bawah 10%," jelas Nailul.

Sebagai perbandingan, di Yogyakarta dan Jakarta, angka pemanfaatan internet untuk ekonomi digital mencapai 37% hingga 45%.

Jika pelaku usaha saja kesulitan memanfaatkan internet untuk berdagang, bagaimana mungkin kita bisa berharap siswa di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) dapat mengandalkan laptop yang 90% fungsinya bergantung pada koneksi internet untuk belajar?

Perjuangan di Balik Layar

Kisah perjuangan ini bukan hanya soal ketiadaan sinyal, tetapi juga kualitasnya. Aries Setiadi, Direktur Eksekutif Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH), menggambarkan drama sehari-hari yang dihadapi banyak keluarga.

Koneksi yang lambat dan tidak stabil membuat masyarakat enggan menggunakan layanan digital.

Dalam kondisi seperti ini, memaksakan penggunaan perangkat yang haus koneksi seperti Chromebook hanya akan menambah frustrasi dan menghambat proses belajar, bukan memudahkannya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!