AI Diplesetkan Jadi Asian Intelligence: Ketika Raksasa Teknologi AS Jor-joran Bayar Talenta China

Senin, 25 Agustus 2025 - 10:40 WIB
Tim super Meta dipimpin Alexandr Wang, jenius berusia 26 tahun keturunan Tionghoa yang kekayaan pribadinya ditaksir mencapai USD5 miliar USD atau Rp78 Triliun. Foto: X/Alexandr Wang
SILLICON VALLEY - “Perang pembajakan" elite tengah berkecamuk di jantung teknologi dunia, Silicon Valley. Awal tahun ini, Meta secara dramatis merekrut empat peneliti jenius dari rivalnya, OpenAI. Di balik drama ini, ada dua hal yang menjadi sorotan utama: bayaran mereka yang fantastis, dan fakta bahwa mereka semua adalah talenta brilian berdarah China.

Ini bukanlah kisah tentang eksodus, melainkan sebuah penegasan dramatis akan sebuah fakta: Amerika Serikat masih menjadi magnet terkuat di dunia bagi para pemikir terbaik, dan mereka rela membayar harga berapapun untuk mengumpulkan para jenius di bawah bendera mereka demi memenangkan perlombaan Kecerdasan Buatan (AI).



'Hujan' Triliunan Rupiah untuk Para Jenius AI

Angka-angka yang terlibat dalam perang talenta ini benar-benar mencengangkan.

Dr. Ruomin Pang, yang dibajak Meta dari Apple, dilaporkan menerima paket kompensasi lebih dari USD200 juta USD atau setara Rp3,1 Triliun.

Sebagai perbandingan, gaji CEO Microsoft Satya Nadella pada tahun 2024 "hanya" sekitar Rp1,2 Triliun. Seorang peneliti kini dihargai lebih dari dua kali lipat seorang CEO raksasa teknologi!

Tim super Meta ini dipimpin oleh Alexandr Wang, seorang jenius berusia 26 tahun keturunan Tionghoa yang kekayaan pribadinya ditaksir mencapai USD5 miliar USD atau Rp78 Triliun, menjadikannya miliarder termuda di dunia yang membangun kekayaannya sendiri.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!