Iklan Bakal Menjajah Status WhatsApp Anda, Privasi Jadi Taruhannya?
Rabu, 18 Juni 2025 - 07:00 WIB
Di Balik Alasan 'Tidak Mengganggu'
Langkah ini adalah sebuah drama panjang yang penuh intrik. Para pendiri WhatsApp, Jan Koum dan Brian Acton, hengkang dari perusahaan salah satunya karena menentang keras ide untuk membawa iklan ke platform yang mereka bangun di atas fondasi privasi. Namun, di bawah kepemimpinan Mark Zuckerberg, mesin pencetak uang Meta yang meraup lebih dari Rp2.600 triliun dari pendapatan iklan tahun lalu, tak bisa lagi dibendung.Pada tahun 2020, Meta sempat membatalkan rencana ini. Namun, pada tahun 2023, kepala WhatsApp, Will Cathcart, mengonfirmasi bahwa mereka kembali mengerjakan implementasinya. Dan kini, rencana itu menjadi kenyataan.
Privasi Anda, Target Iklan Mereka
Di sinilah letak kekhawatiran terbesar. Meta berjanji bahwa iklan akan ditargetkan menggunakan informasi yang "terbatas", seperti negara, bahasa, atau Saluran yang Anda ikuti. Mereka juga berjanji tidak akan pernah menjual nomor telepon Anda dan tidak akan menggunakan isi pesan, panggilan, atau grup Anda untuk menargetkan iklan.Namun, seberapa lama janji ini akan bertahan? Di saat data adalah "emas" baru, banyak pihak skeptis bahwa Meta akan mampu menahan godaan untuk tidak memanfaatkan data yang lebih dalam di masa depan. Pengguna memang diberi opsi untuk mengatur preferensi iklan mereka melalui Pusat Akun Meta, namun ini tetap terasa seperti sebuah kompromi yang dipaksakan.
Pada akhirnya, peluncuran iklan di Status WhatsApp adalah sebuah penanda yang tak terelakkan. Ini adalah hari di mana sebuah platform yang lahir dari idealisme privasi akhirnya harus tunduk pada realitas bisnis dari raksasa periklanan yang memilikinya. Selamat datang di era baru WhatsApp, di mana ruang pribadi Anda kini memilikisponsor.
(dan)
Lihat Juga :