Gagal Mendarat di Bulan, Pesawat Senilai Rp1,7 Triliun Terbakar di Langit
Sabtu, 20 Januari 2024 - 18:13 WIB
Seperti Peregrine, lander bulan robotik ini diharapkan akan berfungsi sebagai penyelidik untuk astronot Artemis NASA sebelum mereka melakukan pendaratan bulan pada tahun 2026.
Baca Juga: Peregrine Falcon, Hewan Tercepat di Bumi Mampu Melesat 389 Km/jam
Meski gagal mendarat di bulan, namun tak semua misi Paregrine One gagal. Sisa waktu di luar angkasa dioptimalkan untuk mengumpulkan data-data penting. “Pada saat keluar (lintasan menuju bulan), kami mengaktifkan semua muatan yang memiliki daya atau bisa menggunakan daya selama misi,” kata Thornton.
“Kami menerima sinyal sukses dari semua muatan tersebut dan mendapatkan data kembali dari semua muatan yang dapat mengirimkan data. Kami sangat senang melihat itu,” dia menambahkan.
Thornton mencatat Badan Antariksa Jerman, Deutsches Zentrum für Luft- und Raumfahrt mengungkapkan rasa terima kasihnya karena muatannya berupa instrumen ilmiah di Peregrine berhasil mengumpulkan data radiasi kosmik yang sangat dibutuhkan.
“Detektor radiasi DLR M42 berfungsi sempurna sepanjang seluruh rentang waktu misi,” kata Dr. Thomas Berger, kepala Grup Biofisika DLR dan ahli biologi radiasi, dalam sebuah pernyataan.
“Kami dapat mengumpulkan lebih dari 92 jam data mengukur lingkungan radiasi di ruang bebas yang sangat berharga bagi komunitas ilmiah dan DLR.”
Baca Juga: Astrobotic Hadirkan Robot Pendarat Bulan Komersil, Siap Diluncurkan Tahun Ini
Dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan pada Kamis malam, Astrobotic melaporkan kehilangan sinyal telemetri dari pesawat luar angkasa Peregrine sekitar pukul 3:50 sore EST (8:50 malam GMT). Hal ini menunjukkan bahwa pesawat telah menyelesaikan reentry terkendali di atas air lepas di Samudera Pasifik Selatan pada pukul 4:04 sore.
Baca Juga: Peregrine Falcon, Hewan Tercepat di Bumi Mampu Melesat 389 Km/jam
Meski gagal mendarat di bulan, namun tak semua misi Paregrine One gagal. Sisa waktu di luar angkasa dioptimalkan untuk mengumpulkan data-data penting. “Pada saat keluar (lintasan menuju bulan), kami mengaktifkan semua muatan yang memiliki daya atau bisa menggunakan daya selama misi,” kata Thornton.
“Kami menerima sinyal sukses dari semua muatan tersebut dan mendapatkan data kembali dari semua muatan yang dapat mengirimkan data. Kami sangat senang melihat itu,” dia menambahkan.
Thornton mencatat Badan Antariksa Jerman, Deutsches Zentrum für Luft- und Raumfahrt mengungkapkan rasa terima kasihnya karena muatannya berupa instrumen ilmiah di Peregrine berhasil mengumpulkan data radiasi kosmik yang sangat dibutuhkan.
“Detektor radiasi DLR M42 berfungsi sempurna sepanjang seluruh rentang waktu misi,” kata Dr. Thomas Berger, kepala Grup Biofisika DLR dan ahli biologi radiasi, dalam sebuah pernyataan.
“Kami dapat mengumpulkan lebih dari 92 jam data mengukur lingkungan radiasi di ruang bebas yang sangat berharga bagi komunitas ilmiah dan DLR.”
Baca Juga: Astrobotic Hadirkan Robot Pendarat Bulan Komersil, Siap Diluncurkan Tahun Ini
Dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan pada Kamis malam, Astrobotic melaporkan kehilangan sinyal telemetri dari pesawat luar angkasa Peregrine sekitar pukul 3:50 sore EST (8:50 malam GMT). Hal ini menunjukkan bahwa pesawat telah menyelesaikan reentry terkendali di atas air lepas di Samudera Pasifik Selatan pada pukul 4:04 sore.
Lihat Juga :