Smartphone murah penetrasi pasar Indonesia

Smartphone murah penetrasi pasar Indonesia
A
A
A
Sindonews.com - Ponsel pintar dengan harga yang semakin terjangkau harus menjadi pertimbangan vendor dalam memasarkan perangkatnya di Indonesia.
Smartphone premium seperti Galaxy S5 atau Sony Xperia Z2 memang seksi. Fitur-fitur yang dimiliki kedua model tersebut adalah yang terbaik di kelasnya. Harganya termasuk yang paling mahal. Apa yang dibenamkan di model tersebut juga ikut menentukan arah tren industri ponsel di masa depan. Tidak heran jika smartphone premium adalah trend setter yang selalu ditunggu beritanya.
Tapi, yang harus menjadi fokus para vendor justru sebaliknya. Yakni pasar menengah kebawah yang terus menerus membesar. Merek-merek smartphone lokal atau China saat ini kembali memicu perang harga. Dengan harga yang semakin terjangkau, para vendor menawarkan lebih banyak fitur, lebih banyak “smartphone experience” ke konsumen.
Menurut laporan IDC Asia/Pacific Quarterly Mobile Phone Tracker, sekitar 30% atau sekitar 12 juta unit smartphone yang dikapalkan pada 2013 dibanderol di harga antara USD50 hingga USD150.
Perang harga, kualitas bersaing
Dibandingkan tahun 2012, rentang harga itu tumbuh 24%. Ini menunjukkan bahwa harga permintaan terhadap smartphone dengan harga kian terjangkau semakin besar.
Darwin Lie, Market Analyst IDC Indonesia, menilai bahwa kehadiran smartphone murah mampu menjangkau konsumen yang setia dengan feature phone karena harganya lebih terjangkau. Selain itu, ada juga konsumen yang akan beralih dari feature phone ke smartphone karena pertimbangan “user experience” yang lebih baik. ”Banyak konsumen yang semakin dewasa dalam menggunakan ponsel,” paparnya.
IDC Indonesia memprediksi bahwa pertarungan smartphone “low cost” ini akan semakin memanas. Para vendor akan bertarung menghadirkan model smartphone dengan harga yang semakin terjangkau.
Dan dampak dari ”perang harga” ini sangat intens. Yakni akan terlihat model-model smartphone ”low cost” dengan kualitas yang bersaing, dengan fitur beragam yang diharapkan jadi pembeda.
”Smartphone low cost ini akan jadi komoditas. Karena itu, kualitas, eksperiens dan intuitiveness dari perangkat itu yang akan membuat konsumen tertarik,” ujar Darwin.
Bagi konsumen, dampak tren ini akan positif. Sebab, semakin lama perbedaan antara model smartphone high-end dan model yang menengah kebawah semakin tipis.
Kedepannya smartphone low cost pun sudah bisa melakukan berbagai kegiatan standar dengan baik. Sebagian vendor mungkin garuk kepala untuk bisa mencari kombinasi sempurna antara performa, kualitas, dan tetap bisa mendapatkan untung.
Smartphone premium seperti Galaxy S5 atau Sony Xperia Z2 memang seksi. Fitur-fitur yang dimiliki kedua model tersebut adalah yang terbaik di kelasnya. Harganya termasuk yang paling mahal. Apa yang dibenamkan di model tersebut juga ikut menentukan arah tren industri ponsel di masa depan. Tidak heran jika smartphone premium adalah trend setter yang selalu ditunggu beritanya.
Tapi, yang harus menjadi fokus para vendor justru sebaliknya. Yakni pasar menengah kebawah yang terus menerus membesar. Merek-merek smartphone lokal atau China saat ini kembali memicu perang harga. Dengan harga yang semakin terjangkau, para vendor menawarkan lebih banyak fitur, lebih banyak “smartphone experience” ke konsumen.
Menurut laporan IDC Asia/Pacific Quarterly Mobile Phone Tracker, sekitar 30% atau sekitar 12 juta unit smartphone yang dikapalkan pada 2013 dibanderol di harga antara USD50 hingga USD150.
Perang harga, kualitas bersaing
Dibandingkan tahun 2012, rentang harga itu tumbuh 24%. Ini menunjukkan bahwa harga permintaan terhadap smartphone dengan harga kian terjangkau semakin besar.
Darwin Lie, Market Analyst IDC Indonesia, menilai bahwa kehadiran smartphone murah mampu menjangkau konsumen yang setia dengan feature phone karena harganya lebih terjangkau. Selain itu, ada juga konsumen yang akan beralih dari feature phone ke smartphone karena pertimbangan “user experience” yang lebih baik. ”Banyak konsumen yang semakin dewasa dalam menggunakan ponsel,” paparnya.
IDC Indonesia memprediksi bahwa pertarungan smartphone “low cost” ini akan semakin memanas. Para vendor akan bertarung menghadirkan model smartphone dengan harga yang semakin terjangkau.
Dan dampak dari ”perang harga” ini sangat intens. Yakni akan terlihat model-model smartphone ”low cost” dengan kualitas yang bersaing, dengan fitur beragam yang diharapkan jadi pembeda.
”Smartphone low cost ini akan jadi komoditas. Karena itu, kualitas, eksperiens dan intuitiveness dari perangkat itu yang akan membuat konsumen tertarik,” ujar Darwin.
Bagi konsumen, dampak tren ini akan positif. Sebab, semakin lama perbedaan antara model smartphone high-end dan model yang menengah kebawah semakin tipis.
Kedepannya smartphone low cost pun sudah bisa melakukan berbagai kegiatan standar dengan baik. Sebagian vendor mungkin garuk kepala untuk bisa mencari kombinasi sempurna antara performa, kualitas, dan tetap bisa mendapatkan untung.
(dol)