Berusia 558 Juta Tahun, Ini Fosil Makhluk Hidup Paling Tua di Dunia

Minggu, 23 September 2018 - 11:21 WIB
Berusia 558 Juta Tahun,...
Berusia 558 Juta Tahun, Ini Fosil Makhluk Hidup Paling Tua di Dunia
A A A
CANBERRA - Para ilmuwan mengidentifikasi makhluk misterius berbentuk oval paling tua. Berdasarkan catatan geologis, makhluk misterius tersebut ditaksir berumur 558 tahun.

Peneliti menemukan spesies yang dikenal sebagai Dickinsonia itu dan diawetkan dengan baik, sehingga sampai saat sekarang masih mengandung molekuk kolesterol atau lemak. Lemak inilah yang menjadi ciri khas kehidupan bintang.

Dickinsonia memiliki sekelompok bentuk kehidupan yang dikenal sebagai biota Ediacaran. Mereka adalah organisme multisel kompleks pertama yang muncul di Bumi, namun sangat sulit untuk digolongkan. Karena pada siklus kehidupan telah menjadi salah satu misteri terbesar dalam paleontologi.
Berusia 558 Juta Tahun, Ini Fosil Makhluk Hidup Paling Tua di Dunia

Analisis baru dari spesimen yang ditemukan di Rusia itu menempatkan Dickinsonia dengan kuat berada dalam jajaran hewan. Peneliti Australian National University (ANU), Ilya Bobrovskiy, menemukan spesimen Dickinsonia dan organisme terkait yang disebut Andiva di bebatuan.

"Molekul lemak fosil yang kami temukan membuktikan bahwa hewan itu besar dan melimpah 558 juta tahun lalu, jutaan tahun lebih awal dari perkiraan sebelumnya," kata salah seorang penulis Jochen Brocks yang juga seorang profesor di Australian National University seperti dikutip dari laman BBC, Minggu (23/9/2018).

"Fosil lemak sekarang menegaskan Dickinsonia sebagai fosil hewan tertua yang diketahui, memecahkan misteri yang telah berusia puluhan tahun yang telah menjadi cawan suci paleontologi," tutur Brocks.

Biota Ediacaran muncul sekitar 600 juta tahun lalu dan berkembang selama puluhan juta tahun sebelum peristiwa yang disebut ledakan Kambria.

Sementara anggota tim, Ilya Bobrovskiy yang juga dari ANU, mengekstrak dan menganalisis molekul dari dalam fosil. Dia menemukan fosil Dickinsonia mengandung molekul kolesterol yang sangat tinggi -hingga 93%- dibandingkan dengan sedimen sekitarnya, di mana tingkatnya kira-kira 11%.

"Masalah yang harus kami atasi adalah menemukan fosil Dickinsonia yang mempertahankan beberapa bahan organik," tutup Bobrovskiy.
(mim)
Berita Terkait
Staf Ahli Mendikdasmen:...
Staf Ahli Mendikdasmen: KOSSMI 2026 Jadi Bukti Pentingnya STEM dan AI untuk Masa Depan Pendidikan Indonesia
Berebut Superpower Sains
Berebut Superpower Sains
Jokowi Akui Infrastruktur...
Jokowi Akui Infrastruktur Kesehatan dan Pendidikan Buat Daya Saing Indonesia Lemah
Sains yang Nirmakna
Sains yang Nirmakna
Jaring Talenta Bidang...
Jaring Talenta Bidang Sains, Kemendikbud Gelar Kompetisi Sains Nasional 2020
Sains, Corona, dan Agama
Sains, Corona, dan Agama
Berita Terkini
Mengapa iPhone 11 Masih...
Mengapa iPhone 11 Masih Didukung iOS 27? Ini Jawabannya
3 jam yang lalu
Berpengalaman di Perang...
Berpengalaman di Perang Ukraina, Sky-Watch Luncurkan Drone Jarak Jauh RQ-70 Dainn
5 jam yang lalu
Pembaruan Windows 11...
Pembaruan Windows 11 Menyebabkan Serangkaian Bug Serius
5 jam yang lalu
Padukan Semangat Sepak...
Padukan Semangat Sepak Bola dan Teknologi, Lexar Rilis Seri Penyimpanan Resmi AFA Berdesain Ikonik Nomor 10
6 jam yang lalu
Komputer Kuantum Optik...
Komputer Kuantum Optik Bakal Jadi Kebutuhan Energi AI
8 jam yang lalu
Meta Akui Kesalahan...
Meta Akui Kesalahan dalam Restrukturisasi AI
12 jam yang lalu
Infografis
Skuad Timnas Spanyol...
Skuad Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Real Madrid
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved