Hiroshi Mikitani Mengejar 2 Miliar Konsumen

Selasa, 16 Januari 2018 - 11:45 WIB
Hiroshi Mikitani Mengejar...
Hiroshi Mikitani Mengejar 2 Miliar Konsumen
A A A
TOKYO - Hiroshi Mikitani dikenal sebagai miliuner yang punya hobi membeli perusahaan atau berinvestasi pada startup raksasa yang dia prediksi akan sukses.

Tidak ada yang menyangsikan tangan dinginnya melihat kesuksesan Rakuten saat ini, termasuk ketika dia memutuskan memulai bisnis operator telekomunikasi di Jepang.

Mungkin banyak yang menyebutnya gila saat Mikitani mengatakan bakal mengguncang industri telekomunikasi Jepang dengan mendirikan operator telekomunikasi keempat di Negara Matahari Terbit tersebut. Sebelumnya Rakuten memang sudah mengoperasikan jaringan telekomunikasinya sendiri dengan menyewa frekuensi operator NTT Docomo.

Tetapi, sekarang Rakuten berencana mengikuti lelang frekuensi yang dihelat Pemerintah Jepang. Biaya yang disiapkan mencapai USD5,3 miliar hingga 2025 mendatang, dengan target bisa mengakuisisi 15 juta pelanggan setelah peluncurannya pada 2019.

Keputusan tersebut sedikit banyak mengguncang saham operator Jepang lainnya hingga turun 2%-3%, seperti SoftBank Group Corp, NTT Docomo Inc, serta KDDI Corp. Terakhir kali perubahan drastis pada industri telekomunikasi Jepang terjadi pada 2006 ketika SoftBank membeli Vodafone. Hingga kini tarif telekomunikasi di Jepang dianggap terlalu mahal dan memberatkan, tetapi operator yang ada sepakat dengan harga yang sama.

Karena itu, diharapkan kehadiran Mikitani dapat mengguncang tarif telekomunikasi di Jepang. Bahkan, Perdana Menteri Shinzo Abe juga berupaya menghadirkan lebih banyak operator telekomunikasi untuk meningkatkan kompetisi.

Di Jepang, Rakuten mendapat serangan berat dari Amazon.com Inc milik miliarder Jeff Bezos yang sukses lewat pengiriman gratis dan produk online streaming . Maka itu, mau tidak mau Mikitani berusaha mencari jalur bisnis lain selain bisnis utama Rakuten di e-commerce .

Mereka yang mengenal Mikitani sudah paham benar dengan sepak terjangnya. Sebab, walau bisnis utama Rakuten memang e-commerce, sebenarnya Rakuten sudah memiliki track record sukses di berbagai industri lainnya, termasuk di industri finansial seperti bank dan kartu kredit.

Bahkan, industri finansial mengakomodasi 35% total pendapatan Rakuten pada 2016. Rakuten adalah perusahaan kartu kredit terbesar di Jepang. Jadi, seharusnya memang tidak sulit bagi Mikitani untuk masuk ke telekomunikasi.

Pada era saat ini, masuk ke bisnis mobile memang membutuhkan modal yang sangat besar dan risiko yang sangat tinggi. Sebab, sepanjang sejarah tidak ada operator yang bisa menggoyahkan ketiga operator Jepang yang sudah ada. (Danang Arradian)
(nfl)
Berita Terkait
Ramaikan Pasar e-commerce,...
Ramaikan Pasar e-commerce, Market America Worldwide | SHOP.COM Resmi Masuk Indonesia
Waspada, Social Commerce...
Waspada, Social Commerce Bakal Digerus AI Commerce
Ipsos 2025 Membedah:...
Ipsos 2025 Membedah: Bagaimana UMKM dan Brand Lokal Berjuang di Arena E-Commerce?
ABC Berdayakan Para...
ABC Berdayakan Para Ibu Melalui Social Commerce
Ganjar Pranowo Komentari...
Ganjar Pranowo Komentari Social Commerce TikTok Shop, Apa Bedanya dengan Ecommerce?
Terkuak, Ini E-Commerce...
Terkuak, Ini E-Commerce No.1 Pilihan Penjual dan Pembeli
Berita Terkini
Meta Luncurkan Agen...
Meta Luncurkan Agen Bisnis di WhatsApp, Instagram, dan Messenger
2 jam yang lalu
Heboh Grab Dikabarkan...
Heboh Grab Dikabarkan Kabur Gara-Gara Aturan Baru, CEO Neneng Buka Suara
2 jam yang lalu
Ambisi Gila IPO SpaceX:...
Ambisi Gila IPO SpaceX: Kejar Rp1.350 Triliun dalam Semalam
4 jam yang lalu
Mengapa Indonesia Mendadak...
Mengapa Indonesia Mendadak Jadi Kiblat Baru ChatGPT Images 2.0?
4 jam yang lalu
Melihat Lebih Dekat...
Melihat Lebih Dekat Fasilitas Penyimpanan Limbah Nuklir Pertama di Dunia
7 jam yang lalu
ChatGPT Jadi Aplikasi...
ChatGPT Jadi Aplikasi Tercepat Mencapai 1 Miliar Pengguna di Seluruh Dunia
10 jam yang lalu
Infografis
Jadwal Imsakiyah Ramadan...
Jadwal Imsakiyah Ramadan 1447 H, Senin 2 Maret 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved