Perang Hoax Akan Panaskan Media Sosial hingga 2019

Rabu, 27 Desember 2017 - 21:43 WIB
Perang Hoax Akan Panaskan...
Perang Hoax Akan Panaskan Media Sosial hingga 2019
A A A
JAKARTA - Tahun 2018 adalah tahun politik. Selain gelaran pilkada serentak, parpol juga tengah memanaskan mesin politiknya menuju Pileg dan Pilpres 2019.

Dampaknya bisa ditebak, ragam laman media sosial (medsos) pasti akan memanas. Sebab medsos masih bakal dimanfaatkan sebagai media komunikasi politik oleh elite. Lalu bagaimana para pengamat melihat geliat medsos di 2018?

Nukman Lutfie, selaku pendiri Lembaga Literasi Media Sosial berpendapat, hoax (berita bohong) tidak akan berkurang di 2018. Bahkan kemungkinan persebaran atau perang hoax akan terus berlanjut hingga 2019 karena adanya ajang Pemilihan Presiden (Pilpres).

"Ini berita hoax akan semakin ramai. Sepanjang ada perebutan kekuasaan pasti masih akan ramai. Kampanye hitam dari sosmed juga akan ramai baik yang memang di sengaja atau tidak di sengaja," ungkap Nukman kepada SINDOnews, Rabu (27/12/2017).

Lebih lanjut dikatakan, penyebaran berita hoax sebenarnya harus diawasi bersama. Baik itu oleh pemerintah ataupun masyarakat sendiri.

"Tapi Dewan Pers juga harus berperan aktif karena mereka tahu mana yang sudah terverifikasi atau tidak. Jadi tidak ada media-media online yang bikin berita ngawur. Terakhir penyedia platform juga harus sigap mengawasi konten-konten negatif," papar Nukman.

Sementara itu, Koordinator Gerakan Bijak Bersosmed, Enda Nasution pun melihat hal yang sama di tahun depan. "2018 suhu politik akan memanas lagi, terutama di media sosial. Tapi masyarakat Indonesia juga harus makin cerdas dan bijak menyikapinya. Jangan mudah terhasut oleh berita bohong dan fitnah," saran Enda.

Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara dalam sebuah kesempatan pun mengimbau agar masyarakat jangan sampai menggunakan media sosial sebagai hal-hal yang negatif dalam pemilu nanti. "Jadi kita harus libatkan stakeholder semua, tapi yang paling penting nanti platform-nya juga harus ikutan menjaga. Jangan platform-nya malah bilang itu bukan tanggung jawab saya," ujarnya.

Rudiantara mengibaratkan media sosial sebagai supermarket. Kalau ada barang busuk di dalamnya mana bisa dia bilang itu bukan tanggungjawabnya.

"Orang masuk kedalam supermarket itu karena ada apa? Ya karena ada supermarket dan barang yang ditawarkan," ucapnya.
(mim)
Berita Terkait
Ancaman Kejahatan Siber...
Ancaman Kejahatan Siber Dinilai Harus Menjadi Perhatian Bersama
Marak Tuntutan Tebusan,...
Marak Tuntutan Tebusan, Serangan Pelumpuhan Website di Indonesia Melonjak 62%
Fitur Verifikasi Wajah,...
Fitur Verifikasi Wajah, Antisipasi Mitra Gojek agar Terhindar Cyber Crime
Twitter Beri Label Informasi...
Twitter Beri Label Informasi COVID-19 yang Menyesatkan
Awas Doxing di Media...
Awas Doxing di Media Sosial, Ini Cara Menghindarinya
Waspadai Akun Media...
Waspadai Akun Media Sosial Lelang Palsu Mengatasnamakan Pegadaian
Berita Terkini
Rumah Kuno Mendingin...
Rumah Kuno Mendingin saat Gelombang Panas Membakar Eropa
57 menit yang lalu
YouTube Update Shorts,...
YouTube Update Shorts, Tampilan Lebih Bersih dan Kontrol Cepat
2 jam yang lalu
Nokia Bangun Jaringan...
Nokia Bangun Jaringan Antidrone di Perbatasan Finlandia
5 jam yang lalu
Zuckerberg Mau Saingi...
Zuckerberg Mau Saingi Polymarket: Meta Siapkan Aplikasi Prediksi untuk 100 Juta Pengguna
1 hari yang lalu
TikTok Bukan Lagi Aplikasi...
TikTok Bukan Lagi Aplikasi Video: Evolusi Menjadi Super App yang Mengancam Google, Amazon, hingga Bank
1 hari yang lalu
Geger Robot Humanoid...
Geger Robot Humanoid Siap Gantikan Buruh Pabrik, Biaya Kerjanya Cuma Rp35 Ribu per Jam!
1 hari yang lalu
Infografis
5 Kapal Perang Paling...
5 Kapal Perang Paling Canggih di ASEAN
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved