Telegram Diblokir, Pemerintah Diminta Memikirkan Akibatnya

Rabu, 19 Juli 2017 - 22:02 WIB
Telegram Diblokir, Pemerintah...
Telegram Diblokir, Pemerintah Diminta Memikirkan Akibatnya
A A A
JAKARTA - Pemblokiran Telegram oleh Pemerintah lewat Kominfo menimbulkan pro-kontra di tengah masyarakat. Pemerintah beralasan telegram banyak digunakan untuk propaganda terorisme dan radikalisme.

Dalam keterangannya Rabu (19/7), pakar keamanan siber Pratama Persadha menjelaskan bahwa sebaiknya sebelum pemblokiran dilakukan ada sosialisasi jauh-jauh hari, sehingga tidak membingungkan masyarakat. Selain itu menurutnya, dengan momentum ini pemerintah menjadi lebih menyadari pentingnya membangun aplikasi lokal lebih serius.

“Pemblokiran demi keamanan negara jangan sampai melupakan kepentingan masyarakat, karena itu perlu ada jeda waktu dengan sosialisasi. Pengguna telegram ini jutaan, cukup banyak meski belum sebanyak Whatsapp, BBM dan Line, namun saya kira efeknya tetap ada, terutama kepada mereka yang menggunakannya untuk bisnis,” jelas mantan pejabat Lembaga Sandi Negara ini.

Ditambahkan olehnya, telegram memang seperti aplikasi lainnya bisa untuk hal positif maupun negatif. Namun seharusnya memang telegram tetap mengikuti aturan yang ada di tanah air, apalagi bila menyangkut keamanan negara. Pemblokiran terhadap DNS (Domain Name System) sendiri efektif dilakukan sejak Senin (17/7), meski sejak diumumkan Jumat (14/7) lalu beberapa provider langsung melakukan blokir. Pemblokiran ini sementara menyasar pada telegram berbasis web, sementara aplikasi masih bisa digunakan.

“Di telegram kita bisa memakai fitur secret chat yang itu diduga banyak dipakai oleh para pelaku teror untuk berkomunikasi. Percakapan pada fitur secret chat memang tidak bisa diakses, bahkan oleh pihak telegram sekalipun,” jelas chairman lembaga riset keamanan siber CISSReC (Communication and Information System Security Research Center) ini.

Pratama menduga fitur lain di telegram yaitu channel banyak digunakan propaganda terorisme, terutama gerakan ISIS. Telegram sendiri sebenarnya sudah banyak menerima laporan dan mereka telah memblokir lebih dari 3.500 channel yang berkaitan dengan ISIS dan masih akan terus bertambah. Karena itu dialog antara pemerintah dan telegram sangat diperlukan untuk menyamakan visi memberantas teror di tanah air.

“Dengan kasus pemblokiran telegram ini seharusnya pemerintah bisa mulai membangun aplikasi instant messaging lokal yang mudah digunakan dan akrab dengan kebiasaan orang Indonesia. Jangan sampai 10-20 tahun mendatang orang Indonesia malah tambah ketergantungannya pada aplikasi luar,” terang pria asal Cepu Jawa Tengah ini.

Menurut Pratama ini jadi pembelajaran penting bagi pemerintah untuk memaksa para penyedia layanan Over The Top (OTT) seperti Facebook, Instagram, Twitter, Whatsapp dan Google untuk mengikuti regulasi di tanah air.

“Sebenarnya secara umum komunikasi antara pemerintah dengan penyedia layanan OTT ini tidak selalu tentang keamanan, namun juga terkait model bisnis, pajak dan paling penting apakah menyerap tenaga kerja lokal. Jangan hanya kita ini jadi komoditi mereka saja,” tegasnya.

Pratama menjelaskan langkah tegas Tiongkok bisa ditiru, memberikan alternatif media sosial lokal. Akibatnya jelas, pemerintah Tiongkok dengan mudah bisa menolak Google dan Facebook, karena enggan mengikuti regulasi di negeri tirai bamboo tersebut. Namun tentu sulit untuk meniru apa yang dilakukan Tiongkok, karena selain sebagai negara demokrasi, Indonesia juga belum siap dengan aplikasi alternatif untuk bermedia sosial dan aplikasi instant messaging yang mumpuni.
(wbs)
Berita Terkait
Berbekal eSIM Traveling...
Berbekal eSIM Traveling 5G, Liburan di Luar Negeri Makin Mudah Akses Internet
Indosat HiFi Air Hadirkan...
Indosat HiFi Air Hadirkan Internet Rumah Instan untuk Streaming hingga WFH
Antisipasi Hoaks dengan...
Antisipasi Hoaks dengan Memeriksa Fakta dan Berita di Internet
Tingkatkan Koneksi Internet...
Tingkatkan Koneksi Internet Saat Liburan, Passpod Luncurkan Program Internet KPK
Sinyal IM3 Terus Tersambung...
Sinyal IM3 Terus Tersambung Hingga ke Pulau Kecil
Memetakan Tanggung Jawab...
Memetakan Tanggung Jawab Platform Intermediary di Indonesia
Berita Terkini
Iran Berniat Kembangan...
Iran Berniat Kembangan Rudal Balistik Antarbenua biar Tambah Menakutkan
1 jam yang lalu
Bangun Kedaulatan Digital,...
Bangun Kedaulatan Digital, Telkom Pertemukan Regulator dan Pemain Industri
2 jam yang lalu
Kehilangan Kendali,...
Kehilangan Kendali, Anthropic Usulkan Hentikan Sementara Pengembangan AI
2 jam yang lalu
Respons Permintaan Tinggi,...
Respons Permintaan Tinggi, Telkom Akselerasi Ekspansi Kapasitas NeutraDC Batam
2 jam yang lalu
Luncurkan AIcosystem,...
Luncurkan AIcosystem, Telkom Siap Garap Peluang AI di Berbagai Sektor Industri
3 jam yang lalu
Jalan Pintas Nostalgia:...
Jalan Pintas Nostalgia: Ragnarok Buka Server EDDGA, Naik Level Kini Sekejap Mata
4 jam yang lalu
Infografis
Mel Gibson Serukan Pemerintah...
Mel Gibson Serukan Pemerintah AS Bongkar Kebenaran Serangan 9/11
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved