Banyak Masyarakat Tak Tahu Ancaman Siber pada Layanan Banking

Kamis, 15 Juni 2017 - 23:07 WIB
Banyak Masyarakat Tak...
Banyak Masyarakat Tak Tahu Ancaman Siber pada Layanan Banking
A A A
JAKARTA - Communication and Information System Security Research Center (CISSReC) melaporkan berdasarkan riset banyak masyarakat yang tidak mengetahui ancaman keamanan siber pada layanan digital banking.

“Selain wannacry, hasil riset kami menyebutkan sebenarnya masyarakat di kota besar sudah menyadari ada risiko keamanan pada SMS dan internet banking perbankan, juga e-commerce. Namun di saat yang sama hanya ada 25% masyarakat yang tahu risiko ATM kita yang sebagian besar Windows XP. Ini tentu situasi yang tidak bagus,” ujar pakar keamanan siber yang juga Chairman CISSReC Pratama Persadha, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (15/6/2017).

Windows XP sendiri, lanjut Pratama, dukungan keamanannya sudah dihentikan oleh Microsoft sejak 2013. Hal ini meningkatkan risiko keamanan di ATM-ATM. "Ini yang menjadi alasan banyaknya tindak kejahatan skimming pada ATM di Tanah Air, dan uniknya banyak pelakunya berasal dari warga negara asing," katanya.

Berdasarkan hasil riset 57% responden menjawab tidak yakin dengan keamanan SMS/internet banking di Indonesia. Hanya 43% responden yang menjawab yakin dengan keamanan SMS/internet banking di Indonesia. Lalu, 66% menjawab tidak yakin dengan keamanan e-commerce di Indonesia. Masih ada 34% responden yang merasa yakin dengan keamanan e-commerce di Indonesia.

Sebanyak 74% dari responden menyatakan bahwa mereka paham dan sadar bahwa memasukkan data pribadi ke aplikasi atau layanan online berpotensi mengganggu privasi. Sementara 13% mengatakan tidak masalah sementara sisanya yang 13% menyatakan tidak tahu.

Sebanyak 75% responden menjawab tidak pernah menjadi korban peretasan akun e-mail dan media sosial. 19 % menjawab pernah menjadi korban peretasan. Sisanya menjawab tidak tahu apakah pernah mengalami peretasan akun e-mail dan media sosial atau tidak.

Survei ini juga mengungakap 81% responden menganggap privasi sangat penting untuk dilindungi. 4% tidak menganggap perlindungan privasi penting dan 14% menganggap tidak tahu apakah perlindungan privasi itu penting atau tidak.

"Melihat beberapa fakta di atas, pemerintah wajib mendorong industri perbankan dan semua sektor yang menggunakan sistem informasi elektronik untuk meningkatkan keamanan sistemnya. Ini semua wajib dilakukan agar keraguan masyarakat bisa dieliminir dan otomatis meningkatkan kegiatan ekonomi masyarakat," jelas Pratama.

Adapun survei CISSReC dilaksanakan di 9 kota besar, yaitu DKI Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Palembang, Bali dan Makasar. Survei dilakukan menggunakan metode stratified multistage random sampling.

Jumlah sampel dalam survei ini adalah 400 responden dengan margin of error 4,9% pada tingkat kepercayaan 95%. Metode pengumpulan data adalah responden terpilih diwawancara secara tatap muka menggunakan quesioner oleh pewawancara yang telah dilatih.

Kendali mutu survei adalah pewawancara lapangan minimal mahasiswa atau sederajat dan mendapatkan pelatihan (workshop) secara intensif di setiap pelaksanaan survei. Pengambilan data survei (penentuan responden dan wawancara di lapangan) dilakukan pada 1-9 Juni 2017.
(dmd)
Copyright ©2025 SINDOnews.com
All Rights Reserved
berita/ rendering in 0.7013 seconds (0.1#10.24)