Riset: Pemahaman Keamanan Informasi Masyarakat Masih Rendah

Kamis, 15 Juni 2017 - 14:42 WIB
Riset: Pemahaman Keamanan...
Riset: Pemahaman Keamanan Informasi Masyarakat Masih Rendah
A A A
JAKARTA - Serangan ransomware wannacry beberapa waktu lalu diakui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) turut andil mendorong lahirnya Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Bahkan karena sangat berbahaya serangan wannacry tersebut, Kemenkominfo mengeluarkan imbauan untuk melakukan setting pada komputer masyarakat.

Namun, berdasarkan penelitian CISSReC (Communication and Information System Security Research Center) yang dilakukan di sembilan kota besar Indonesia, hanya 33% masyarakat yang mengikuti imbauan tersebut.

"Hal ini menjelaskan bahwa masyarakat kita di perkotaan sebenarnya masih enggan melakukan pengamanan pada aset yang terkoneksi ke wilayah siber. Tujuan riset ini untuk mengukur kesadaran keamanan informasi masyarakat," ujar pakar keamanan siber yang juga Chairman CISSReC Pratama Persadha, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (15/6/2017).

Pratama menjelaskan ada kecenderungan masyarakat enggan melakukan pengamanan siber secara mandiri. Ini bisa disebabkan oleh masyarakat yang memang belum merasakan langsung akibat serangan siber maupun dorongan dari pemerintah yang harus lebih kuat lagi.

Dia berharap dengan adanya BSSN, pemerintah bisa mendorong dua hal sekaligus. Pertama, mendorong kesadaran keamanan siber di masyarakat. "Kepahaman risiko keamanan dan privasi di perkotaan sudah ada, tinggal pemerintah mendorong ada aksi dari masyarakat untuk mengamankan aset siber mereka sendiri," katanya.

Kedua, pemerintah mendorong semua instansi pemerintah dan swasta untuk meningkatkan keamanan sistem informasi elektronik. "Dua hal ini tidak hanya akan mendorong ekonomi lebih cepat, tapi juga stabilitas politik dan kedaulatan nasional,” jelas Pratama.

Survei CISSReC dilaksanakan di 9 kota besar, yakni DKI Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Palembang, Bali dan Makasar. Survei dilakukan menggunakan metode stratified multistage random sampling.

Jumlah sampel dalam survei ini adalah 400 responden dengan margin of error 4,9% pada tingkat kepercayaan 95%. Metode pengumpulan data adalah responden terpilih diwawancara secara tatap muka menggunakan quesioner oleh pewawancara yang telah dilatih.

Kendali mutu survei adalah pewawancara lapangan minimal mahasiswa atau sederajat dan mendapatkan pelatihan (workshop) secara intensif di setiap pelaksanaan survei. Pengambilan data survei (penentuan responden dan wawancara di lapangan) dilakukan pada 1-9 Juni 2017.
(dmd)
Berita Terkait
BSSN dan Huawei Kerja...
BSSN dan Huawei Kerja Bareng Deteksi Keamanan Siber Sejak Dini
BSSN Gelar Simposium...
BSSN Gelar Simposium Nasional Wujudkan Keamanan Siber Nasional
PDN Gangguan Diserang...
PDN Gangguan Diserang Ransomware, Menkominfo Targetkan Pemulihan Selesai Juli 2024
Pusat Data Nasional...
Pusat Data Nasional Kena Serangan Siber, DPR Dorong Reformasi BSSN
Server PDN Diserang...
Server PDN Diserang Ransomware, BSSN Ngaku Tak Punya Backup Data
Badan Siber PP GP Ansor...
Badan Siber PP GP Ansor Kritik Ketertutupan Pembahasan RUU Keamanan dan Ketahanan Siber
Berita Terkini
China Ciptakan Baterai...
China Ciptakan Baterai Nuklir yang Bisa Bertahan Ribuan Tahun
2 jam yang lalu
Kontroversi Meletus...
Kontroversi Meletus antara Apple dan OpenAI, Apakah Itu?
6 jam yang lalu
Membawa Udara Bersih...
Membawa Udara Bersih ke Dalam Rumah, Bentuk Kepedulian Terbaik Saat Polusi Melanda
1 hari yang lalu
Berbasis Open Source,...
Berbasis Open Source, Equnix Dorong Ekosistem PostgreSQL
2 hari yang lalu
Membongkar Otak Rudal...
Membongkar Otak Rudal Barracuda-500M yang Supercerdas
2 hari yang lalu
Anak Muda Bingung Pilih...
Anak Muda Bingung Pilih Kripto atau Saham? Begini Kata Para Praktisi
3 hari yang lalu
Infografis
Pakta Keamanan Rusia...
Pakta Keamanan Rusia dan Iran Akan Guncang Timur Tengah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved