Sempat Dipenjara di Brasil, Petinggi Facebook Tetap Optimistis
Minggu, 06 Maret 2016 - 09:21 WIB
Sempat Dipenjara di Brasil, Petinggi Facebook Tetap Optimistis
A
A
A
CAMBRIDGE - Insinden penahanan Vice President Facebook Inc Diego Dzodan di Brasil, Amerika Latin sekitar 24 jam tidak akan memperlambat ekspansi perusahaan di negara tersebut dan pemerintah setempat memperlakukannya dengan hormat.
Dzodan ditangkap pada Selasa kemarin karena sengketa atas tuntutan penegakan hukum untuk data dari dienkripsi layanan pesan WhatsApp perusahaan untuk digunakan dalam penyelidikan perdagangan narkoba. Dia dibebaskan pada Rabu, setelah seorang hakim banding membatalkan perintah pengadilan untuk menangkapnya.
"Saya diperlakukan dengan banyak rasa hormat," kata Dzodan pada konferensi kemarin seperti dikutip dari Reuters, Minggu (6/3/2016).
Menurutnya, Facebook tidak memiliki akses ke data yang dikirimkan melalui layanan pesan WhatsApp, sesuai permintaan dari pejabat Brasil. "Cara informasi dienkripsi dari satu ponsel ke yang lain, tidak ada informasi yang tersimpan yang bisa diserahkan kepada pihak berwenang," jelasnya.
Dia juga mengatakan bahwa penahanannya tidak akan memengaruhi rencana Silicon Valley untuk menyasar pasar Brasil. "Kami sangat berkomitmen untuk Brasil. Brasil adalah pasar besar yang benar-benar menyukai Facebook. Kami sangat fokus pada jangka panjang," tutur Dzodan.
Aparat penegak hukum Brasil telah mengatakan sedikit tentang permintaan mereka terkait data dari layanan pesan yang diakuisisi Facebook pada 2014, bahwa hal itu bisa membahayakan penyelidikan kriminal yang sedang berlangsung.
Seorang juru bicara Facebook pada Rabu mengatakan bahwa perusahaan senang Dzodan telah dibebaskan. Insiden itu terjadi saat perusahaan teknologi menghadapi tekanan yang meningkat dari pemerintah di seluruh dunia untuk membantu mereka membuka data.
Dzodan ditangkap pada Selasa kemarin karena sengketa atas tuntutan penegakan hukum untuk data dari dienkripsi layanan pesan WhatsApp perusahaan untuk digunakan dalam penyelidikan perdagangan narkoba. Dia dibebaskan pada Rabu, setelah seorang hakim banding membatalkan perintah pengadilan untuk menangkapnya.
"Saya diperlakukan dengan banyak rasa hormat," kata Dzodan pada konferensi kemarin seperti dikutip dari Reuters, Minggu (6/3/2016).
Menurutnya, Facebook tidak memiliki akses ke data yang dikirimkan melalui layanan pesan WhatsApp, sesuai permintaan dari pejabat Brasil. "Cara informasi dienkripsi dari satu ponsel ke yang lain, tidak ada informasi yang tersimpan yang bisa diserahkan kepada pihak berwenang," jelasnya.
Dia juga mengatakan bahwa penahanannya tidak akan memengaruhi rencana Silicon Valley untuk menyasar pasar Brasil. "Kami sangat berkomitmen untuk Brasil. Brasil adalah pasar besar yang benar-benar menyukai Facebook. Kami sangat fokus pada jangka panjang," tutur Dzodan.
Aparat penegak hukum Brasil telah mengatakan sedikit tentang permintaan mereka terkait data dari layanan pesan yang diakuisisi Facebook pada 2014, bahwa hal itu bisa membahayakan penyelidikan kriminal yang sedang berlangsung.
Seorang juru bicara Facebook pada Rabu mengatakan bahwa perusahaan senang Dzodan telah dibebaskan. Insiden itu terjadi saat perusahaan teknologi menghadapi tekanan yang meningkat dari pemerintah di seluruh dunia untuk membantu mereka membuka data.
(izz)