HT Minta Pemerintah Wajibkan Twitter Dkk, Bangun Perusahaan di Indonesia

Sabtu, 27 Februari 2016 - 15:59 WIB
HT Minta Pemerintah...
HT Minta Pemerintah Wajibkan Twitter Dkk, Bangun Perusahaan di Indonesia
A A A
JAKARTA - Langkah pemerintah untuk menertibkan keberadaan sosial media berbasis daring (online) seperti Twitter dan lainnya sangat didukung Chief Executive Officer (CEO) Hary Tanoesoedibjo. Bahkan, dia mendorong agar mereka membangun perusahaan di Indonesia.

Pasalnya, keberadaan konten mereka yang dapat diakses oleh masyarakat di Tanah Air bagaimanapun juga ‎telah membuat mereka memperoleh pemasukan. Jika mereka tidak memiliki perusahaan di Indonesia, maka over the top (OTT) tersebut tidak dapat dipajaki.

"‎Mereka itu (Twitter dkk) juga harus buat perusahaan disini. Karena disamping konten isinya harus disensor, tapi mereka harus bayar pajak juga. Karena bagaimanapun mereka mendapatkan penghasilan dari Indonesia," katanya di Hotel Pullman, Jakarta, Sabtu (27/2/2016).

Menurutnya, jika mereka memperoleh penghasilan dari Indonesia maka mereka harus diwajibkan membayar pajak di Indonesia, seperti pajak pertambahan nilai (PPn) ataupun pajak penghasilan (PPh). Karena itu, pemerintah diminta untuk tegas dan segera mensyaratkan mereka untuk membangun perseroan terbatas (PT) di Tanah Air.

Selain itu, server yang digunakan pun harus berasal dari Indonesia. "‎Sehingga pajak ke negara Indonesia juga dibayar, sensorship juga berjalan sebagaimana mestinya," imbuh dia.

Setelah persyaratan tersebut dijalankan, sambung Ketua Umum Partai Perindo ini, pemerintah kemudian perlu memikirkan juga mengenai status kepemilikan perusahaan tersebut. Seperti halnya di bidang penyiaran yang kepemilikannya harus mayoritas lokal.

"Apakah online, sosial media juga merupakan sarana media itu juga harus dimiliki mayoritasnya lokal? Nah ini masalah kebijakan politis. Jadi yang ketiga ini perlu dilihat dalam konteks luas," tutur HT.

Namun, dirinya mendorong agar OTT tersebut dapat diprioritaskan untuk mayoritas lokal. Hal ini agar OTT tersebut dapat dikendalikan. " Karena kalau mayoritas asing kan sulit dikendalikan. Di banyak negara sudah banyak menerapkan, mereka memproteksi supaya mayoritasnya lokal," tandasnya.
(dol)
Berita Terkait
Antisipasi Hoaks dengan...
Antisipasi Hoaks dengan Memeriksa Fakta dan Berita di Internet
Berbekal eSIM Traveling...
Berbekal eSIM Traveling 5G, Liburan di Luar Negeri Makin Mudah Akses Internet
Menjaga Stabilitas Jaringan...
Menjaga Stabilitas Jaringan lewat Netmonk Internet Quality 
Serba 99 Ribu Ditambah...
Serba 99 Ribu Ditambah Cashback, Promo Kuota Internet Siap Diserbu di Aplikasi MotionPay!
Dari Sinyal ke Sentuhan,...
Dari Sinyal ke Sentuhan, PLN Icon Plus Terkoneksi Tanpa Sekat dengan Pelanggan ICONNET
Pemda Dinilai Bikin...
Pemda Dinilai Bikin Mahal Biaya Akses Internet di Indonesia
Berita Terkini
Helikopter S-300 Tak...
Helikopter S-300 Tak Berawak Jadi Senjata Anti-kapal Selam
43 menit yang lalu
X Luncurkan Fitur Reaksi...
X Luncurkan Fitur Reaksi Video untuk Pengguna iOS
5 jam yang lalu
WhatsApp Menguji Fungsi...
WhatsApp Menguji Fungsi Fitur Lihat Sekali untuk Pesan
19 jam yang lalu
Acer Luncurkan Dua Kacamata...
Acer Luncurkan Dua Kacamata Pintar dengan Gambar Virtual 172 Inci
22 jam yang lalu
Untuk Pertama Kalinya,...
Untuk Pertama Kalinya, AI Dilibatkan Langsung dalam Operasi Medis
1 hari yang lalu
Permukiman Prasejarah...
Permukiman Prasejarah Ditemukan di Gurun Yordania
1 hari yang lalu
Infografis
10 Universitas Terbaik...
10 Universitas Terbaik di Indonesia Versi THE Asia University Rankings 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved