Setelah 20 Tahun, Penyu Langka Ini Melahirkan 41 Tukik di Kebun Binatang San Diego
Selasa, 04 Oktober 2022 - 16:41 WIB
loading...
A
A
A
Pakar penyu di Kebun Binatang San Diego mengatakan sarang hewan langka ini seringkali sulit ditemukan di kandang, karena suka bertelur semalaman dan menutupinya dengan tanah. Kura-kura softshell berkepala sempit India, juga dikenal sebagai kura-kura softshell berkepala kecil, berasal dari India utara, Bangladesh, Nepal dan Pakistan.
![Setelah 20 Tahun, Penyu Langka Ini Melahirkan 41 Tukik di Kebun Binatang San Diego]()
“Satwa unik itu hidup di dasar sungai dan aliran air tawar yang dalam. Penyu biasanya berkembang biak selama bulan-bulan monsun di India tengah dan selama bulan-bulan kering di daerah lain,” menurut Wildlife Institute of India.
Baca juga; Langka, Kebun Binatang Bandung Perkenalkan Dua Kura-kura Ceper
Saat keluar dari cangkangnya, tukik bisa berukuran sekitar 4 sentimeter. Mereka dapat tumbuh sepanjang 3,6 kaki dari depan ke belakang cangkang atas. Spesies ini terdaftar sebagai terancam punah di Daftar Merah International Union for Conservation of Nature, meskipun tidak jelas berapa banyak yang tersisa di alam liar.
“Pencemaran lingkungan, perusakan habitat gundukan pasir, perdagangan hewan peliharaan internasional, dan pengambilan makanan oleh manusia berkontribusi terhadap penurunan spesies selama bertahun-tahun,” kata Aliansi Satwa Liar Kebun Binatang San Diego.

“Satwa unik itu hidup di dasar sungai dan aliran air tawar yang dalam. Penyu biasanya berkembang biak selama bulan-bulan monsun di India tengah dan selama bulan-bulan kering di daerah lain,” menurut Wildlife Institute of India.
Baca juga; Langka, Kebun Binatang Bandung Perkenalkan Dua Kura-kura Ceper
Saat keluar dari cangkangnya, tukik bisa berukuran sekitar 4 sentimeter. Mereka dapat tumbuh sepanjang 3,6 kaki dari depan ke belakang cangkang atas. Spesies ini terdaftar sebagai terancam punah di Daftar Merah International Union for Conservation of Nature, meskipun tidak jelas berapa banyak yang tersisa di alam liar.
“Pencemaran lingkungan, perusakan habitat gundukan pasir, perdagangan hewan peliharaan internasional, dan pengambilan makanan oleh manusia berkontribusi terhadap penurunan spesies selama bertahun-tahun,” kata Aliansi Satwa Liar Kebun Binatang San Diego.
(wib)
Lihat Juga :