Terungkap, Ternyata Serangga Jurassic Melindungi Ribuan Telurnya di Kaki
Kamis, 14 Juli 2022 - 20:35 WIB
loading...
Sekelompok telur dapat dilihat pada salah satu kaki panjang spesimen Karataviella popovi. Foto/Courtesy of Diying Huang/LiveScience
A
A
A
BEIJING - Serangga jurassic yang hidup 160 juta tahun yang lalu meletakkan sekelompok telur menjuntai di kaki seperti buah anggur, untuk melindungi dari para pemangsa. Para ilmuwan memperkirakan ini merupakan contoh paling awal cara induk merawat telur dan anak-anaknya.
Fakta ini ditemukan setelah para ilmuwan menggali fosil serangga dari Formasi Haifanggou, deposit batuan yang berisi fosil di dekat desa Daohugou di timur laut Cina. Berbagai macam fosil telah ditemukan dari situs di masa lalu, termasuk sisa-sisa dinosaurus berbulu yang diawetkan, mamalia purba, kutu raksasa, dan kalajengking belalai panjang.
Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan Rabu 13 Juli 2022 di jurnal Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences, para peneliti menganalisis hampir 160 fosil Karataviella popovi, spesies kutu air yang punah dengan kaki belakang seperti dayung. Fosil yang oleh para penelitian disebut "luar biasa" berusia 163,5 juta tahun, ini berarti mereka berasal dari pertengahan periode Jurassic (201,3 juta hingga 145,5 juta tahun yang lalu).
Baca juga; 5 Serangga yang Menjadi Zombie di Dunia Nyata
Di antara fosil-fosil ini, tim mengidentifikasi 30 spesimen betina dewasa dengan sekelompok telur berlabuh di "mesotibia" kiri, kaki tengah di trio kaki sisi kiri mereka. Telur-telur yang padat itu disusun dalam lima atau enam baris yang menjuntai, dengan enam sampai tujuh telur per baris, masing-masing menempel melalui "tangkai telur" pendek.
Setiap telur berukuran sekitar 1,14 hingga 1,20 milimeter, ukuran yang cukup besar mengingat bahwa Karataviella popovi dewasa hanya berukuran sekitar 12,7 mm. Karataviella popovi betina kemungkinan meletakkan telur langsung ke kaki mereka dengan terlebih dahulu mengeluarkan lendir lengket dan kemudian melakukan gerakan khusus menekuk perut untuk mengeluarkan telur ke anggota tubuh yang sesuai, hipotesis penulis penelitian.
"Mesotibia kanan yang kosong mungkin digunakan untuk menjaga keseimbangan saat berenang dan makan," tulis para ilmuwan dalam laporan tersebut yang dikutip SINDOnews dari laman Live Science, Kamis (14/7/2022).
Fakta ini ditemukan setelah para ilmuwan menggali fosil serangga dari Formasi Haifanggou, deposit batuan yang berisi fosil di dekat desa Daohugou di timur laut Cina. Berbagai macam fosil telah ditemukan dari situs di masa lalu, termasuk sisa-sisa dinosaurus berbulu yang diawetkan, mamalia purba, kutu raksasa, dan kalajengking belalai panjang.
Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan Rabu 13 Juli 2022 di jurnal Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences, para peneliti menganalisis hampir 160 fosil Karataviella popovi, spesies kutu air yang punah dengan kaki belakang seperti dayung. Fosil yang oleh para penelitian disebut "luar biasa" berusia 163,5 juta tahun, ini berarti mereka berasal dari pertengahan periode Jurassic (201,3 juta hingga 145,5 juta tahun yang lalu).
Baca juga; 5 Serangga yang Menjadi Zombie di Dunia Nyata
Di antara fosil-fosil ini, tim mengidentifikasi 30 spesimen betina dewasa dengan sekelompok telur berlabuh di "mesotibia" kiri, kaki tengah di trio kaki sisi kiri mereka. Telur-telur yang padat itu disusun dalam lima atau enam baris yang menjuntai, dengan enam sampai tujuh telur per baris, masing-masing menempel melalui "tangkai telur" pendek.
Setiap telur berukuran sekitar 1,14 hingga 1,20 milimeter, ukuran yang cukup besar mengingat bahwa Karataviella popovi dewasa hanya berukuran sekitar 12,7 mm. Karataviella popovi betina kemungkinan meletakkan telur langsung ke kaki mereka dengan terlebih dahulu mengeluarkan lendir lengket dan kemudian melakukan gerakan khusus menekuk perut untuk mengeluarkan telur ke anggota tubuh yang sesuai, hipotesis penulis penelitian.
"Mesotibia kanan yang kosong mungkin digunakan untuk menjaga keseimbangan saat berenang dan makan," tulis para ilmuwan dalam laporan tersebut yang dikutip SINDOnews dari laman Live Science, Kamis (14/7/2022).
Lihat Juga :