Ahli Epidemiologi China Ungkap Detail Proses Mutasi Varian Delta
Kamis, 23 September 2021 - 07:15 WIB
loading...
Varian baru COVID-19 yang disebut kebal terhadap Vaksin. FOTO/ IST
A
A
A
BEIJING - Sekelompok peneliti dari Guangzhou China berhasil mengungkap rantai transmisi lengkap mutasi Delta melalui kombinasi epidemiologi dengan teknologi sekuensing genom virus.
Tim menggunakan pendekatan multi-azimuth (multi-azimuth) untuk menggambarkan transmisi varian Delta di China selatan serta kinetika virus dan fitur klinisnya. BACA JUGA - Kemenkes Deteksi 2.252 Kasus Varian Delta Tersebar di 33 Provinsi
Pada 12 September, penelitian ini juga dipublikasikan di EclinicalMedicine, sub-publikasi jurnal medis terkemuka, The Lancet.
Berdasarkan penelitian epidemiologi dan analisis sekuens gen asam nukleat virus sebelumnya, cluster yang meletus di Guangzhou pada 21 Mei berasal dari strain Delta yang memiliki rantai penularan yang jelas.
Studi ini untuk pertama kalinya mendeteksi dan mendokumentasikan sepenuhnya rantai propagasi tersebut.
Cluster tersebut terdeteksi ketika seorang wanita berusia 75 tahun terpapar virus, kemudian menginfeksi tiga orang lainnya melalui kontak keluarga.
Para peneliti menemukan, kontak dekat langsung atau tidak langsung antara saluran utama transmisi varian Delta. Di antaranya, 30,8 persen infeksi terjadi pada waktu makan, diikuti kontak antar anggota keluarga (30,13 persen) dan penularan komunitas (18,59 persen), sedangkan 19,87 persen disumbang oleh kontak sosial dan waktu kerja.
Tim menggunakan pendekatan multi-azimuth (multi-azimuth) untuk menggambarkan transmisi varian Delta di China selatan serta kinetika virus dan fitur klinisnya. BACA JUGA - Kemenkes Deteksi 2.252 Kasus Varian Delta Tersebar di 33 Provinsi
Pada 12 September, penelitian ini juga dipublikasikan di EclinicalMedicine, sub-publikasi jurnal medis terkemuka, The Lancet.
Berdasarkan penelitian epidemiologi dan analisis sekuens gen asam nukleat virus sebelumnya, cluster yang meletus di Guangzhou pada 21 Mei berasal dari strain Delta yang memiliki rantai penularan yang jelas.
Studi ini untuk pertama kalinya mendeteksi dan mendokumentasikan sepenuhnya rantai propagasi tersebut.
Cluster tersebut terdeteksi ketika seorang wanita berusia 75 tahun terpapar virus, kemudian menginfeksi tiga orang lainnya melalui kontak keluarga.
Para peneliti menemukan, kontak dekat langsung atau tidak langsung antara saluran utama transmisi varian Delta. Di antaranya, 30,8 persen infeksi terjadi pada waktu makan, diikuti kontak antar anggota keluarga (30,13 persen) dan penularan komunitas (18,59 persen), sedangkan 19,87 persen disumbang oleh kontak sosial dan waktu kerja.
Lihat Juga :