Penelitian Sebut Orang yang Sudah Vaksin Mudah Tertular Mutasi COVID-19
Senin, 19 April 2021 - 06:02 WIB
loading...
A
A
A
Sementara itu, sebuah studi yang dilakukan oleh Universitas Tel Aviv, Israel yang dirilis pada 10 April menemukan bahwa varian virus yang ditemukan di Afrika Selatan dapat menerobos pertahanan vaksin Pfizer sampai batas tertentu.
Kesimpulan menemukan bahwa dari jumlah orang yang terinfeksi virus komunis Tiongkok, hanya 1% yang terinfeksi varian virus Afrika Selatan. Namun, setelah menerima dua dosis suntikan vaksin Pfizer, malahan jumlah terinfeksi varian virus Afrika Selatan naik menjadi 5,4%, sementara bagi mereka yang belum menerima vaksinasi, hanya 0,7% yang terinfeksi varian virus Afsel ini.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa vaksin Pfizer kurang efektif dalam melawan varian virus Afrika Selatan dibandingkan dengan melawan virus COVID-19 dan varian virus Inggris – B 1.1.7.
Penny Moore, seorang profesor di National Institute for Communicable Diseases, mengatakan, respons antibodi dari varian 501Y.V2 hanya berkurang tiga kali lipat terhadap virus gelombang pertama. Sedangkan respons dari virus gelombang pertama berkurang sembilan kali lipat dibandingkan 501Y.V2.
"Bukan karena antibodi yang dipicu oleh 501Y.V2 entah bagaimana ajaib, ada penurunan, ... tapi tidak seperti antibodi yang dipicu oleh varian aslinya, mereka tampaknya memiliki keluasan yang lebih besar," katanya lagi.
Kesimpulan menemukan bahwa dari jumlah orang yang terinfeksi virus komunis Tiongkok, hanya 1% yang terinfeksi varian virus Afrika Selatan. Namun, setelah menerima dua dosis suntikan vaksin Pfizer, malahan jumlah terinfeksi varian virus Afrika Selatan naik menjadi 5,4%, sementara bagi mereka yang belum menerima vaksinasi, hanya 0,7% yang terinfeksi varian virus Afsel ini.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa vaksin Pfizer kurang efektif dalam melawan varian virus Afrika Selatan dibandingkan dengan melawan virus COVID-19 dan varian virus Inggris – B 1.1.7.
Penny Moore, seorang profesor di National Institute for Communicable Diseases, mengatakan, respons antibodi dari varian 501Y.V2 hanya berkurang tiga kali lipat terhadap virus gelombang pertama. Sedangkan respons dari virus gelombang pertama berkurang sembilan kali lipat dibandingkan 501Y.V2.
"Bukan karena antibodi yang dipicu oleh 501Y.V2 entah bagaimana ajaib, ada penurunan, ... tapi tidak seperti antibodi yang dipicu oleh varian aslinya, mereka tampaknya memiliki keluasan yang lebih besar," katanya lagi.
Lihat Juga :