Tantangan Astronot Muslim di Luar Angkasa, Mulai Waktu Salat hingga Arah Kiblat
Kamis, 04 Februari 2021 - 21:26 WIB
loading...
A
A
A
Banyak Muslim juga bersujud selama salat, tetapi ini hampir tidak mungkin di luar angkasa. Ini dikarenakan kurangnya gravitasi selama berada di ruang angkasa.
Muslim pertama yang menghadapi tantangan ini di luar angkasa adalah Sultan bin Salman bin Abdulaziz Al-Saud, seorang pilot pesawat tempur dan Pangeran Kerajaan Arab Saudi. Pada 1985, dia adalah Spesialis Muatan untuk misi Badan Antariksa dan Penerbangan Nasional (NASA) AS STS-51G, menggunakan pesawat ulang-alik Discovery untuk meluncurkan tiga satelit.
Sultan memilih untuk tidak berpuasa Ramadan saat dia berlatih dan di luar angkasa, tapi dia membawa Alquran kecil ke luar angkasa bersamanya. Bersama dengan doa dari ibunya yang memohon kepada Allah SWT untuk melindunginya. Dia juga mengatakan kepada wartawan bahwa dia mengikat kakinya ke lantai pesawat ulang-alik untuk memungkinkan dirinya melakukan gerakan sujud dengan kemampuan terbaiknya.
Kemudian Muslim kedua di luar angkasa adalah kosmonot dari Uni Soviet, dan tidak ada bukti bahwa praktik keagamaannya memengaruhi perjalanan mereka di luar angkasa. Sepertinya para Muslim ini mendapati misi ilmiah mereka lebih mendesak daripada praktik keagamaannya, terutama di Uni Soviet yang secara resmi ateis.
Demikian pula, Anousheh Ansari, wanita Muslim pertama di luar angkasa, membuat sedikit pernyataan publik tentang apakah tradisi agamanya memengaruhi penerbangannya dengan roket Soyuz Rusia ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada 2006. Ansari, seorang multijutawan, membayar sejumlah uang yang tidak diungkapkan —beberapa sumber mengatakan USD20 juta— untuk pergi ke ISS.
Muslim pertama yang menghadapi tantangan ini di luar angkasa adalah Sultan bin Salman bin Abdulaziz Al-Saud, seorang pilot pesawat tempur dan Pangeran Kerajaan Arab Saudi. Pada 1985, dia adalah Spesialis Muatan untuk misi Badan Antariksa dan Penerbangan Nasional (NASA) AS STS-51G, menggunakan pesawat ulang-alik Discovery untuk meluncurkan tiga satelit.
Sultan memilih untuk tidak berpuasa Ramadan saat dia berlatih dan di luar angkasa, tapi dia membawa Alquran kecil ke luar angkasa bersamanya. Bersama dengan doa dari ibunya yang memohon kepada Allah SWT untuk melindunginya. Dia juga mengatakan kepada wartawan bahwa dia mengikat kakinya ke lantai pesawat ulang-alik untuk memungkinkan dirinya melakukan gerakan sujud dengan kemampuan terbaiknya.
Kemudian Muslim kedua di luar angkasa adalah kosmonot dari Uni Soviet, dan tidak ada bukti bahwa praktik keagamaannya memengaruhi perjalanan mereka di luar angkasa. Sepertinya para Muslim ini mendapati misi ilmiah mereka lebih mendesak daripada praktik keagamaannya, terutama di Uni Soviet yang secara resmi ateis.
Demikian pula, Anousheh Ansari, wanita Muslim pertama di luar angkasa, membuat sedikit pernyataan publik tentang apakah tradisi agamanya memengaruhi penerbangannya dengan roket Soyuz Rusia ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada 2006. Ansari, seorang multijutawan, membayar sejumlah uang yang tidak diungkapkan —beberapa sumber mengatakan USD20 juta— untuk pergi ke ISS.
Lihat Juga :