Activision Banned 60.000 Cheater di Call of Duty: Warzone
Kamis, 04 Februari 2021 - 11:08 WIB
loading...
A
A
A
Activision telah mengonfirmasi informasi ini. Dalam blog resmi perusahaan, Activision menegaskan tidak menoleransi cheater di Call of Duty dan Call of Duty: Warzone.
“Fokus kami adalah untuk memerangi para penipu dan penyedia cheat. Hari ini kami memblokir 60.000 akun untuk kasus yang dikonfirmasi menggunakan perangkat lunak cheat di Warzone. Sehingga total yang kami banned hingga saat ini ada lebih dari 300.000 pemain di seluruh dunia sejak diluncurkan," tulis Activision.
Ini menjadi banned terbesar ketiga yang dilakukan oleh Activision untuk melawan para cheater di Warzone, sejak game ini dirilis pada 2020 lalu.
Pada April tahun lalu, perusahaan telah banned lebih dari 70.000 akun. Kemudian pada September, banned kembali dilakukan pada sekitar 20.000 akun. Mayoritas dari mereka menggunakan aplikasi cheat populer bernama EngineOwning.
Pada banned kali ini, sepertinya EngineOwning kembali menjadi alasannya. "Siapapun yang menggunakan EngineOwning pada gelombang banned terakhir telah hilang," kata salah satu sumber yang mengetahui larangan tersebut, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya.
“Fokus kami adalah untuk memerangi para penipu dan penyedia cheat. Hari ini kami memblokir 60.000 akun untuk kasus yang dikonfirmasi menggunakan perangkat lunak cheat di Warzone. Sehingga total yang kami banned hingga saat ini ada lebih dari 300.000 pemain di seluruh dunia sejak diluncurkan," tulis Activision.
Ini menjadi banned terbesar ketiga yang dilakukan oleh Activision untuk melawan para cheater di Warzone, sejak game ini dirilis pada 2020 lalu.
Pada April tahun lalu, perusahaan telah banned lebih dari 70.000 akun. Kemudian pada September, banned kembali dilakukan pada sekitar 20.000 akun. Mayoritas dari mereka menggunakan aplikasi cheat populer bernama EngineOwning.
Pada banned kali ini, sepertinya EngineOwning kembali menjadi alasannya. "Siapapun yang menggunakan EngineOwning pada gelombang banned terakhir telah hilang," kata salah satu sumber yang mengetahui larangan tersebut, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya.
Lihat Juga :