Di Tengah Pandemi Corona, Virus Nipah dengan Tingkat Kematian 75% Ancam Asia

Kamis, 14 Januari 2021 - 12:29 WIB
loading...
Di Tengah Pandemi Corona,...
Foto/dok
A A A
JAKARTA - Di tengah pandemi Corona yang telah menginfeksi hampir 100 juta orang, Asia dapat segera menghadapi ancaman virus baru dengan tingkat kematian yang jauh lebih tinggi. Virus Nipah, virus RNA yang berasal dari kelelawar seperti SARS-CoV-2, telah menyebabkan banyak wabah di seluruh Malaysia, Singapura, India, dan Australia Utara selama 20 tahun terakhir.

Sekarang para peneliti virus memperingatkan bahwa virus itu berpotensi menginfeksi lebih banyak orang jika tidak waspada sejak dini seperti wabah Covid-19. (Baca: Peneliti Tercengang, Ternyata Ular Bisa Memanjat dengan Cara Tak Lazim)

Virus Nipah pertama kali diketahui pada tahun 1999 setelah mewabah di Malaysia. Selama wabah, tercatat 265 kasus ensefalitis (peradangan otak) akut, yang dimulai di peternakan babi. Kasus-kasus tersebut awalnya dikaitkan dengan ensefalitis Jepang, tetapi segera diidentifikasi sebagai infeksi virus Nipah. Sejak itu, wabah kecil telah terjadi hampir setiap tahun dari 2000-2020, setiap kali menunjukkan angka kematian yang menakjubkan hingga 75%.

Virus Nipah berbeda dari banyak virus lainnya. Walaupun gejala biasanya muncul antara 4-14 hari setelah infeksi, terkadang virus dapat berinkubasi dalam waktu hingga 45 hari. Menurut WHO, hal itu memungkinkan penularan dalam waktu yang sangat lama.

Setelah inkubasi selesai, gejalanya meliputi demam, sakit kepala, muntah, dan gejala lain yang mirip dengan infeksi influenza. Ini kemudian diikuti oleh pusing, gejala neurologis, dan ensefalitis akut. (Baca juga: Cristiano Ronaldo Bikin Model Cantik Ini Ga Bisa Move On)

Meskipun berbagai pengobatan antivirus digunakan untuk pasien, namun tidak ada obat dan pengobatan langsung untuk melawan virus ini. Pasien yang sembuh dari virus Nipah akan mengalami masalah neurologis jangka panjang dan kejang-kejang.

Meskipun cukup berbahaya, virus Nipah tidak ditularkan melalui aerosol dan udara. Saat ini, virus Nipah menyebar melalui makanan yang terkontaminasi yang telah bersentuhan dengan kelelawar buah yang terinfeksi.

Di Tengah Pandemi Corona, Virus Nipah dengan Tingkat Kematian 75% Ancam Asia


Ahli Virologi Veasna Duong menyarankan studi dan analisis lebih lanjut virus Nipah untuk mengurangi resiko penyebarannya. "60% orang yang kami wawancarai tidak tahu bahwa kelelawar menularkan penyakit. Ini karena masih kurangnya informasi yang disampaikan ke masyarakat," kata Duong dalam wawancara dengan BBC. (Baca juga: 5 Zodiak Ini Diprediksi Sukses Besar di 2021)

Duong mengatakan, telah melakukan penelitian terhadap penyebaran kelelawar buah di Thailand, seperti di tempat ibadah, sekolah dan lokasi wisata Angkor Wat. "Saat normal, Angkor wat dikunjungi 2,6 juta wisatawan. Ini berarti peluang bagi virus Nipah melakukan penyebaran hanya dari satu lokasi saja," katanya.
(ysw)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Zat Kimia Persisten...
Zat Kimia Persisten Ditemukan dalam 98,8% Darah Warga AS
WHO Warning Angka Kasus...
WHO Warning Angka Kasus Covid-19 Akibat NB.1.8.1Terus Melonjak Cepat
Covid-19 Ngamuk Lagi,...
Covid-19 Ngamuk Lagi, WHO Umumkan Waspada Varian NB.1.8.1
WHO: NB.1.8.1 Varian...
WHO: NB.1.8.1 Varian Baru Covid-19, Menyebar ke 22 Negara Termasuk Asia Tenggara
Varian Baru Covid-19...
Varian Baru Covid-19 Terdeteksi Sudah Berada di AS
Prancis Deteksi Varian...
Prancis Deteksi Varian Baru Covid-19 untuk Pertama Kalinya
Bagaimana Industri Farmasi...
Bagaimana Industri Farmasi Besar AS Raup Untung dari Pandemi dengan Perlakukan Warga Seperti Kelinci Percobaan?
Kepala WHO Kunjungi...
Kepala WHO Kunjungi Pusat Wabah Ebola
Disebut Calon Kuat Jadi...
Disebut Calon Kuat Jadi Direktur Jenderal WHO, Menkes Budi: Saya akan Konfirmasi
Rekomendasi
Trump Peringatkan Iran,...
Trump Peringatkan Iran, Tarif Selat Hormuz Tak Dapat Diterima
Gubernur Kaltim Resmikan...
Gubernur Kaltim Resmikan Pusat Layanan Jantung Modern di RSKD Balikpapan
Bea Cukai Soetta Gagalkan...
Bea Cukai Soetta Gagalkan Masuknya Uang Asing Senilai Rp6,3 Miliar Tanpa Izin
Berita Terkini
Gandeng SAP, Strategi...
Gandeng SAP, Strategi Digital Geo Dipa Mengelola Potensi Panas Bumi Lebih dari 800 MW
Meta Menemukan Tambang...
Meta Menemukan Tambang Emas Baru
Google dan A24 Berkolaborasi...
Google dan A24 Berkolaborasi Kembangkan Teknologi AI di Industri Film
Tanda-tanda Ponsel Anda...
Tanda-tanda Ponsel Anda sedang Diawasi yang Perlu Diketahui
Ilmuwan Mengembangkan...
Ilmuwan Mengembangkan Jaket Penghasil Air dari Udara Sekitar
Gandeng PT Samafitro,...
Gandeng PT Samafitro, Hytera Perkuat Jaringan Komunikasi Profesional di Indonesia
Infografis
5 Pemain dengan Nilai...
5 Pemain dengan Nilai Transfer Termahal di Piala Asia 2023
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved