CEO Xynexis: Krisis Sadarkan Kita Bahwa RI Butuh SDM TI Lebih Banyak Lagi

Kamis, 24 Desember 2020 - 10:46 WIB
loading...
CEO Xynexis: Krisis Sadarkan Kita Bahwa RI Butuh SDM TI Lebih Banyak Lagi
Eva Noor, CEO Xynexis, saat menerima penghargaan Top Leader on Digital Implementation 2020. Foto/Ist
JAKARTA - Tahun lalu Xynexis sukses mengantongi penghargaan dalam dan luar negeri, dan di akhir 2020 ini, Xynexis pun tak luput dari award. Perusahaan solusi teknologi informasi (TI) ini mendapatkan dua penghargaan di bidang TOP IT Solution pada gelaran "Top Digital Awards 2020”.

Kegiatan yang diselenggarakan awal pekan ini tersebut melibatkan beberapa asosiasi dan perusahaan konsultan TI telco/digital. Sementara pesertanya sekitar 400 orang yang terdiri dari top manajemen dan TI manager perusahaan TI. (Baca juga: Waspada! Pembangkit Listrik hingga Kilang Minyak Jadi Incaran Penjahat Siber )

Xynexis merupakan perusahaan pionir IT Security di Indonesia dengan layanan antara lain Consulting, Cyber Strategy & Architecture, NOOSC (Security Operations), HAXTech (Digital Engagement), IGNITE (Cyber Analytics), Xpertis Now (Cyber Contracting). Pada perhelatan ini perusahaan mendapatkan dua penghargaan kategori Top Digital Implementation on IT Security sector #level stars 4 untuk PT Xynexis dan Top Leader on Digital Implementation 2020 untuk Eva Noor selaku CEO.

Menurut Eva, hasil kerja keras tim Xynexis, ternyata dilihat publik dan diapresiasi banyak orang. Kepercayaan yang sudah diberikan ini membuktikan perusahaan selama ini dapat menjaga kualitas (core value) dalam pengembangan solusi IT Security maupun layanannya. “Bisa berdampak dan memberikan manfaat luas bagi pelaku bisnis, lembaga, institusi dan lainnya. Terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan IT Security yang memang sangat diperlukan di era digital ini adalah sesuatu banget bagi saya,” kata Eva Noor di sela sela acara Top Digital Awards di Jakarta.

Pandemi: Kita Butuh SDM Lokal Lebih Banyak Lagi
Di masa pandemik COVID 19, bagi Eva, membuka matanya bahwa krisis saat ini bukan hanya krisis kesehatan tapi juga krisis ekonomi. Pemerintah telah berjuang untuk bisa melakukan treatment yang seimbang dengan tidak mengorbankan keduanya.



Menurut Eva, di dunia usaha juga melakukan perjuangan yang sama walau dengan skala yang berbeda. Dunia usaha harus terus menjalankan usahanya dengan segala manuver agar layanan untuk masyarakat banyak bisa tetap jalan dengan baik.

Kenyataan dan realita perusahaan besar, menengah dan kecil masih tergantung dengan resources luar. Ketika pandemik semua serba dibatasi, maka supply chain akan berantakan prosesnya.

“Ini juga terjadi di dunia TI. Ketika kita menggunakan dan tergantung dengan resources luar di mana kita tahu teknologi yang kita gunakan mayoritas dari luar negeri, apa yang terjadi ketika akses keluar masuk suatu negara dibatasi? Apa yang terjadi Ketika kita bergantung pada keahlian sumber daya luar untuk mejalankan proses bisnis kita? Risikonya adalah proses bisnis terganggu dan layanan yang dihasilkan menjadi kurang baik,” beber Eva.

Karena itu, tegas dia, Indonesia butuh banyak perusahaan lokal yang bisa bersaing dengan kualitas perusahaan luar. Butuh banyak sumber daya manusia yang bisa mempunyai keahlian sebagus para ahli di luar sana. Selama 14 tahun menjalankan bisnis, Eva merasakankan lambatnya pergerakan menuju persaingan dengan kualitas para ahli di luar.

Banyak sekali krisis yang telah dialami Indonesia. Setiap krisis terjadi yang digaungkan adalah ekonomi kerakyatan, usaha lokal dan produk lokal. "Tapi begitu krisis selesai semua seperti lupa dan kembali lagi seperti awal, kemudian krisis menerpa lagi dan kita ulang lagi program dan seruan yang sama terus menerus seperti itu dan sayang sekali. Padahal yang dibutuhkan adalah rantai pasokan yang lebih tangguh buatan lokal, sehingga jika ada guncangan kita bisa lebih resilient," pungkasnya. (Baca juga: H-1 Natal, Tol Cipali Macet 1 Kilometer Pengelola Buka 19 Loket Transaksi )
(iqb)
preload video
Komentar Anda
TEKNO UPDATE