Roket Autophage Sedot Bahan Bakar Dari Tubuhnya Sendiri
Sabtu, 10 Oktober 2020 - 09:12 WIB
loading...
fatra putra Attachments5:26 PM (4 hours ago) to me Caption Roket yang mengambil bahan bakar dari tubuhnya sendiri memiliki ukuran lebih kecil dan lebih cocok untuk muatan lebih kecil pula. Kredit: NASA melalui Wikimedia. FOTO/ IS
A
A
A
CALIFORNIA - Sebagian besar roket luar angkasa memiliki ukuran besar karena banyaknya bahan bakar yang dibawanya. Berbeda dengan roket Autophage yang mengkonsumsi bahan bakar dari tubuhnya sendiri sehingga ukurannya pun lebih kecil daripada roket lainnya.
BACA JUGA- Kawasaki Bikin Helikopter K-RACER Bermesin Ninja H2R
Eksplorasi ruang angkasa semakin mendapat perhatian dunia seiring dengan berbagai penemuan benda asing dan planet yang memiliki kemungkinan layak huni seperti Bumi. Hasil penelitian ruang angkasa membawa masyarakat dunia untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi disana.
BACA JUGA - Raisa Bikin Was-Was Massa Aksi Demo Tolak UU Cipta Kerja
Hingga saat ini, perjalanan ke ruang angkasa masih terbatas karena mahalnya biaya operasional roket. Ukuran roket yang terbang juga sangat besar dan menghasilkan banyak limbah.
Melihat banyaknya ketertarikan masyarakat dunia untuk pergi ke ruang angkasa, para peneliti di Universitas Glasgow, Inggris, sedang mengembangkan mesin roket bernama Autophage. Roket ini akan mengkonsumsi daya dari dirinya sendiri sebagai bahan bakar.
BACA JUGA - Tidak Bisa Ngeles Lagi, PCX 150 4-Valve Ketangkap Basah di Jalan
Mesin roket Autophage memiliki banyak keunggulan. Pertama adalah ukuran roket lebih kecil dibandingkan roket pada umumnya. Sejauh ini, ukuran roket ditentukan oleh banyaknya bahan bakar yang dibawa sedangkan Autophage mengambil bahan bakar dari dirinya sendiri.
Para ilmuwan di Inggris menginginkan roket yang lebih kecil agar sesuai dengan muatan yang lebih kecil. Mereka ingin menciptakan lebih banyak peluang untuk pelabuhan antariksa yang muncul di wilayah utara Inggris.
Keuntungan kedua adalah mengurangi limbah. Autophage membantu mengurangi limbah dan menghemat biaya eksplorasi ruang angkasa. Roket ini tidak akan mendarat kembali di Bumi.
Salah satu ilmuwan proyek ini, Dr Patrick Harkness, mengungkapkan bahwa tubuh roket Autophage hibrida akan menjadi tabung bahan bakar padat. Tubuh itu mengandung pengoksidasi cair.
"Seluruh bagiannya akan dikonsumsi, dari bawah ke atas, oleh mesin yang akan menguapkan tabung bahan bakar, menambahkan pengoksidasi, dan membakar campuran untuk menciptakan dorongan," kata Harkness, dikutip dari Technology.
Mesin akan menghabiskan seluruh badan roket pada saat bagian roket mencapai orbit dan hanya menyisakan muatannya. Ini merupakan proses yang jauh lebih hemat dibandingkan roket pada umumnya.
Para ilmuwan percaya bahwa pengembangan roket Autophage Inggris akan memungkinkan industri luar angkasa berkembang. Mereka memperkirakan akan ada 3.000 permintaan untuk peluncuran ke ruang angkasa pada pertengahan dekade ini.
Wisata ke ruang angkasa dapat menciptakan pasar global bernilai ratusan juta dolar Inggris (GBP). Para ilmuwan berencana melakukan uji mesin di tahun depan, yang bertempat di laboratorium roket baru Universitas Kingston, London.
Penelitian ini mendapat dukungan dari pemerintah Inggris. Melalui investasi dari Defence & Security Accelerator (DASA), yang merupakan bagian dari Kementerian Pertahanan Inggris, pengembangan roket Autophage akan jauh lebih cepat.
BACA JUGA- Kawasaki Bikin Helikopter K-RACER Bermesin Ninja H2R
Eksplorasi ruang angkasa semakin mendapat perhatian dunia seiring dengan berbagai penemuan benda asing dan planet yang memiliki kemungkinan layak huni seperti Bumi. Hasil penelitian ruang angkasa membawa masyarakat dunia untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi disana.
BACA JUGA - Raisa Bikin Was-Was Massa Aksi Demo Tolak UU Cipta Kerja
Hingga saat ini, perjalanan ke ruang angkasa masih terbatas karena mahalnya biaya operasional roket. Ukuran roket yang terbang juga sangat besar dan menghasilkan banyak limbah.
Melihat banyaknya ketertarikan masyarakat dunia untuk pergi ke ruang angkasa, para peneliti di Universitas Glasgow, Inggris, sedang mengembangkan mesin roket bernama Autophage. Roket ini akan mengkonsumsi daya dari dirinya sendiri sebagai bahan bakar.
BACA JUGA - Tidak Bisa Ngeles Lagi, PCX 150 4-Valve Ketangkap Basah di Jalan
Mesin roket Autophage memiliki banyak keunggulan. Pertama adalah ukuran roket lebih kecil dibandingkan roket pada umumnya. Sejauh ini, ukuran roket ditentukan oleh banyaknya bahan bakar yang dibawa sedangkan Autophage mengambil bahan bakar dari dirinya sendiri.
Para ilmuwan di Inggris menginginkan roket yang lebih kecil agar sesuai dengan muatan yang lebih kecil. Mereka ingin menciptakan lebih banyak peluang untuk pelabuhan antariksa yang muncul di wilayah utara Inggris.
Keuntungan kedua adalah mengurangi limbah. Autophage membantu mengurangi limbah dan menghemat biaya eksplorasi ruang angkasa. Roket ini tidak akan mendarat kembali di Bumi.
Salah satu ilmuwan proyek ini, Dr Patrick Harkness, mengungkapkan bahwa tubuh roket Autophage hibrida akan menjadi tabung bahan bakar padat. Tubuh itu mengandung pengoksidasi cair.
"Seluruh bagiannya akan dikonsumsi, dari bawah ke atas, oleh mesin yang akan menguapkan tabung bahan bakar, menambahkan pengoksidasi, dan membakar campuran untuk menciptakan dorongan," kata Harkness, dikutip dari Technology.
Mesin akan menghabiskan seluruh badan roket pada saat bagian roket mencapai orbit dan hanya menyisakan muatannya. Ini merupakan proses yang jauh lebih hemat dibandingkan roket pada umumnya.
Para ilmuwan percaya bahwa pengembangan roket Autophage Inggris akan memungkinkan industri luar angkasa berkembang. Mereka memperkirakan akan ada 3.000 permintaan untuk peluncuran ke ruang angkasa pada pertengahan dekade ini.
Wisata ke ruang angkasa dapat menciptakan pasar global bernilai ratusan juta dolar Inggris (GBP). Para ilmuwan berencana melakukan uji mesin di tahun depan, yang bertempat di laboratorium roket baru Universitas Kingston, London.
Penelitian ini mendapat dukungan dari pemerintah Inggris. Melalui investasi dari Defence & Security Accelerator (DASA), yang merupakan bagian dari Kementerian Pertahanan Inggris, pengembangan roket Autophage akan jauh lebih cepat.
(wbs)
Lihat Juga :