Zat Kimia Persisten Ditemukan dalam 98,8% Darah Warga AS

Jum'at, 15 Mei 2026 - 11:02 WIB
loading...
Zat Kimia Persisten...
Zat Kimia Persisten. Foti/ SCIENCE ALERT
A A A
NEWS YORK - Penelitian baru di AS menemukan bahwa 98,8% sampel darah mengandung PFAS, sekelompok bahan kimia yang bertahan lama dan memengaruhi kesehatan serta lingkungan.

Dalam sebuah studi baru yang diterbitkan dalam jurnalilmiahJournal of Occupational and Environmental Hygiene, para peneliti melaporkan bahwa 98,8% dari 10.566 sampel darah yang diuji mengandung setidaknya satu jenis "bahan kimia permanen" (PFAS).

Menurut Sciencealert, PFAS, atau senyawa perfluoroalkil dan polifluoroalkil, adalah sekelompok bahan kimia sintetis yang terdiri dari lebih dari 15.000 senyawa berbeda yang dikenal dalam ilmu pengetahuan.

Senyawa ini disebut "bahan kimia permanen" karena kemampuannya untuk bertahan dalam jangka waktu yang sangat lama di lingkungan dan ketahanannya terhadap degradasi alami.

Senyawa PFAS telah banyak digunakan dalam produksi industri selama beberapa dekade dan telah mencemari sumber air, makanan, dan ekosistem di Bumi.

Para ilmuwan telah mengetahui bahwa PFAS terdapat dalam tubuh manusia. Penelitian baru yang dilakukan oleh para ilmuwan di laboratorium toksikologi NMS Labs di Pennsylvania bertujuan untuk menilai keberadaan simultan berbagai PFAS dalam darah manusia.

Meskipun dataset yang digunakan tidak menyebutkan apakah beberapa sampel dikumpulkan dari orang yang sama, dataset tersebut mewakili sampel besar populasi AS yang dianalisis oleh para peneliti menggunakan protokol pengujian PFAS yang sudah ada. Penelitian baru ini juga bertujuan untuk menentukan bagaimana berbagai jenis PFAS memengaruhi kesehatan manusia.

Tim peneliti menyatakan bahwa analisis mengungkapkan hanya 0,18% sampel darah yang mengandung satu jenis PFAS. Sebagian besar sampel darah mengandung campuran kompleks berbagai bahan kimia PFAS. Hal ini sangat penting karena kombinasi bahan kimia ini dapat menciptakan efek biologis sinergis, aditif, atau antagonis.

Salah satu "bahan kimia abadi" yang paling umum ditemukan dalam sampel darah yang diuji adalah asam perfluoroheksana sulfonat (PFHxS). Zat ini terdeteksi dalam 97,9% sampel darah. Zat ini umum digunakan dalam industri tekstil, furnitur, dan perekat.

PFHxS telah lama menjadi penyebab kekhawatiran karena penelitian pada hewan menunjukkan bahwa bahan kimia ini dapat memengaruhi hati dan sistem kekebalan tubuh. Banyak negara kini telah membatasi atau melarang penggunaan senyawa ini, meskipun konsekuensi lingkungan dan kesehatan mungkin telah ada sebelumnya.

Menurut tim peneliti, sebagian besar orang saat ini kemungkinan telah terpapar berbagai jenis PFAS secara bersamaan. Para ilmuwan masih belum sepenuhnya memahami efek kumulatif dari "bahan kimia permanen" ini pada tubuh manusia.

Tim peneliti menyatakan bahwa banyak orang membawa lima atau lebih jenis PFAS di dalam tubuh mereka, dengan tingkat dan durasi bioakumulasi yang bervariasi. Lebih lanjut, para ahli telah mengidentifikasi lebih dari 70 kombinasi PFAS yang berbeda.

Para ahli mencatat bahwa studi ini terutama berfokus pada 13 jenis PFAS yang paling umum. Oleh karena itu, jumlah sebenarnya mungkin jauh lebih besar. Selain itu, studi ini hanya mengidentifikasi keberadaan PFAS menggunakan spektrometri massa, bukan mengukur konsentrasi spesifik bahan kimia ini dalam darah.

Saat ini, para ilmuwan belum secara tepat menentukan tingkat paparan PFAS yang akan memengaruhi kesehatan manusia. Namun, ada semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa PFAS terkait dengan berbagai masalah kesehatan seperti percepatan penuaan sel, perubahan pada otak, dan peningkatan risiko kanker tertentu
(wbs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
YouTube Update Shorts,...
YouTube Update Shorts, Tampilan Lebih Bersih dan Kontrol Cepat
Panas Ekstrem, Paris...
Panas Ekstrem, Paris Ubah Sungai Seine Jadi Pendingin Udara
Bulan Juni 2026, Ilmuwan...
Bulan Juni 2026, Ilmuwan Sebut Air Laut Mulai Mendidih
Ilmuwan Temukan Antivirus...
Ilmuwan Temukan Antivirus untuk Manusia di Dasar Laut
Fosil Terlupakan selama...
Fosil Terlupakan selama 40 Tahun Ternyata Dinosaurus Pertama Antartika
Ilmuwan Temukan Penyebab...
Ilmuwan Temukan Penyebab Baru di Balik Peningkatan Lemak Perut Seiring Bertambahnya Usia
Toyota Siap Terjun Langsung...
Toyota Siap Terjun Langsung ke Produksi Taksi Terbang Listrik
Satu Sendok, Sejuta...
Satu Sendok, Sejuta Mitos: Sasa Luruskan Fakta MSG yang Benar
Menjaga Sendi Tetap...
Menjaga Sendi Tetap Sehat agar Nyaman Bergerak di Setiap Usia
Rekomendasi
Tarif Listrik Tidak...
Tarif Listrik Tidak Naik hingga September 2026, Dirut PLN Bicara soal Pasokan
Badai Ganas Ancam Gagalkan...
Badai Ganas Ancam Gagalkan Pidato Trump di Hari Kemerdekaan AS, Ribuan Orang Berhamburan Kabur
Concealer Soulyu Beauty...
Concealer Soulyu Beauty Jadi Favorit Aldi Taher, Solusi Atasi Mata Panda
Berita Terkini
YouTube Update Shorts,...
YouTube Update Shorts, Tampilan Lebih Bersih dan Kontrol Cepat
Nokia Bangun Jaringan...
Nokia Bangun Jaringan Antidrone di Perbatasan Finlandia
Zuckerberg Mau Saingi...
Zuckerberg Mau Saingi Polymarket: Meta Siapkan Aplikasi Prediksi untuk 100 Juta Pengguna
TikTok Bukan Lagi Aplikasi...
TikTok Bukan Lagi Aplikasi Video: Evolusi Menjadi Super App yang Mengancam Google, Amazon, hingga Bank
Geger Robot Humanoid...
Geger Robot Humanoid Siap Gantikan Buruh Pabrik, Biaya Kerjanya Cuma Rp35 Ribu per Jam!
Modernisasi Infrastruktur...
Modernisasi Infrastruktur TI Kunci Efisiensi dan Ketahanan Bisnis di Era Digital
Infografis
Daftar 10 Pemain Tersubur...
Daftar 10 Pemain Tersubur dalam Sejarah Piala Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved