Anak-anak di Prancis Kecanduan Sosmed, Presiden Macron Ambil Langkah Ini

Senin, 11 Mei 2026 - 11:30 WIB
loading...
Anak-anak di Prancis...
Anak-anak di Prancis Kecanduan Sosmed. Foto/ Fortune
A A A
JAKARTA - Rencana Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk melarang penggunaan media sosial bagi anak-anak di bawah usia 15 tahun memicu perdebatan besar di negara tersebut.

Karena semakin banyak orang tua mengakui bahwa mereka hampir tidak berdaya melawan ketergantungan anak-anak mereka pada ponsel pintar dan platform digital.

Semakin banyak keluarga Prancis memandang pengelolaan penggunaan telepon dan media sosial anak-anak mereka sebagai sumber utama ketegangan keluarga.

Pertengkaran berkepanjangan, anak-anak yang bereaksi agresif, membanting pintu, atau mencoba menghindari kontrol orang tua menjadi hal yang biasa.

Julien Joly, seorang arsitek di Prancis dan ayah dari dua remaja, mengatakan bahwa ia telah mencoba berbagai metode seperti mengambil ponsel setelah makan malam atau memasang perangkat lunak pengontrol waktu layar.

Namun, akhirnya ia menyerah karena "terlalu lelah." Menurutnya, mengontrol ponsel anaknya telah menjadi "bentuk peperangan teknologi."

Sebuah survei oleh Institut Penelitian Opini Publik Prancis (IFOP), yang diterbitkan pada akhir tahun 2025, menunjukkan bahwa 94% orang tua dengan anak berusia 8-15 tahun telah menetapkan setidaknya satu aturan terkait perangkat digital, dan 68% telah menggunakan alat kontrol orang tua.

Namun, efektivitas sebenarnya masih terbatas, karena banyak anak menemukan cara untuk menghindari aturan dengan menggunakan ponsel kerabat atau membuat akun media sosial tanpa sepengetahuan orang tua mereka.

Najat Vallaud-Belkacem, mantan Menteri Pendidikan Prancis dan penulis buku "Digital Addiction," berpendapat bahwa penggunaan media sosial telah menjadi sumber konflik nomor satu di banyak keluarga Prancis.

Menurutnya, semakin banyak orang tua merasa tidak berdaya dan bersalah karena tidak mampu mengendalikan anak-anak mereka, sementara orang dewasa sendiri menjadi bergantung pada telepon dan media sosial.

Para psikolog dan pendidik berpendapat bahwa mengambil ponsel pintar jauh lebih sulit daripada bentuk pengendalian sebelumnya seperti mematikan TV atau membatasi permainan video.

Profesor Grégoire Borst, profesor psikologi perkembangan dan ilmu saraf kognitif dalam pendidikan, mengatakan bahwa bagi remaja, dunia digital kini merupakan "perpanjangan" dari kehidupan nyata, yang terkait erat dengan interaksi sosial, rasa otonomi, dan identitas pribadi. Oleh karena itu, pembatasan atau pencabutan akses ke media sosial seringkali dianggap sebagai ketidakadilan oleh mereka.


Banyak sekolah di Prancis kini menggunakan aplikasi digital seperti Pronote atau EcoleDirecte untuk mengirimkan tugas, memperbarui jadwal, mencatat kehadiran, dan bertukar informasi dengan orang tua.

Hal ini membuat ponsel pintar hampir tak tergantikan bagi siswa, sekaligus mempersulit banyak keluarga untuk membatasi waktu penggunaan layar.

Sementara itu, banyak orang tua percaya bahwa jika pemerintah Prancis benar-benar menerapkan larangan media sosial untuk anak-anak di bawah 15 tahun mulai September, mereka akan memiliki dasar hukum dan psikologis yang lebih kuat untuk memperketat akses anak-anak mereka ke media sosial.

Beberapa psikolog juga percaya bahwa memiliki kerangka hukum yang jelas akan membantu anak-anak menerima batasan tersebut dengan lebih mudah, daripada hanya melihatnya sebagai keputusan orang tua semata.

Meskipun demikian, banyak keluarga tetap skeptis tentang efektivitas praktis larangan tersebut, mengingat media sosial telah sangat melekat dalam kehidupan sehari-hari kaum muda.

Bagi banyak orang tua, harapan terbesar saat ini adalah anak-anak mereka secara bertahap menyadari dampak buruk dari waktu yang dihabiskan di depan layar seiring bertambahnya usia.
(wbs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Meta Bantah Tuduhan...
Meta Bantah Tuduhan Medsosnya Menyebabkan Anak-anak Kecanduan
X Luncurkan Fitur Reaksi...
X Luncurkan Fitur Reaksi Video untuk Pengguna iOS
Batasi Anak-anak Bermain...
Batasi Anak-anak Bermain Sosmed, Indonesia Panggil Google dan Meta
Pakar Privasi Data:...
Pakar Privasi Data: Kasus Kecanduan TikTok Harus Dibawa ke Persidangan
Kota Ini Izinkan Warganya...
Kota Ini Izinkan Warganya Gunakan HP hanya 2 Jam dalam Sehari
DPR Prancis Usulkan...
DPR Prancis Usulkan Pelarangan Penggunaan TikTok untuk Anak di Bawah 15 Tahun
Suporter Maroko Mengamuk...
Suporter Maroko Mengamuk di London usai Timnya Dikalahkan Prancis 2-0
Belajar Agama Lewat...
Belajar Agama Lewat Media Sosial, Ini Etika yang Harus Diperhatikan Muslim
Rebut Harta Karun Dinasti...
Rebut Harta Karun Dinasti Assad, Prancis Pulangkan Aset Rp1 Triliun ke Suriah!
Rekomendasi
Pendiri Telegram: Uni...
Pendiri Telegram: Uni Eropa Berubah Menjadi Republik Pisang
AEI Golf Tournament...
AEI Golf Tournament 2026 Resmi Ditutup, Airlangga Hartarto: Ini Bagian Silaturahmi Lingkungan Pasar Modal
BEM PTNU: Komitmen Prabowo...
BEM PTNU: Komitmen Prabowo dalam Kasus Jampidsus Cerminkan Semangat Asta Cita
Berita Terkini
Titik Balik yang Mengubah...
Titik Balik yang Mengubah Ukuran Manusia Purba Ditemukan
SpaceX Berganti Nama...
SpaceX Berganti Nama Jadi SpaceXAI Bukti Fokus pada AI
China Ciptakan Baterai...
China Ciptakan Baterai Nuklir yang Bisa Bertahan Ribuan Tahun
Kontroversi Meletus...
Kontroversi Meletus antara Apple dan OpenAI, Apakah Itu?
Membawa Udara Bersih...
Membawa Udara Bersih ke Dalam Rumah, Bentuk Kepedulian Terbaik Saat Polusi Melanda
Berbasis Open Source,...
Berbasis Open Source, Equnix Dorong Ekosistem PostgreSQL
Infografis
Waspada! 4 Makanan Ini...
Waspada! 4 Makanan Ini Bisa Picu Kesemutan di Tangan dan Kaki
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved